Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tulisan Waras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Waras. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

Filateli




Untuk mengenang kelas saya tercinta, 8D.
Pameran Filateli Dunia
18 Juni 2012

***

Walau nggak pernah bertemu, yang jelas saya butuh waktu.
Klise, memang. Namun itulah satu-satunya jawaban yang sering Zea lontarkan kepada setiap orang. Kepada setiap kerabat. Kepada setiap tetangga. Kepada setiap manusia yang menjulurkan tanya : “Ze, nggak berminat cari pendamping hidup, gitu?” Dalam benak Zea, waktu tak lebih dari sebatas menengok jam tangan bila ada yang bertanya, lalu mencerna ke mana arah jarum pendek dan panjang mengacung. Atau, tak lebih dari letak dan posisi matahari bergantung. Bulan yang bertakhta. Kapan jam tidur yang cocok untuk kembali berkelana. Jam makan. Waktu pameran prangko maupun buku. Semuanya. Semua hal-hal yang bersifat mengendap pada masa kini, namun tak sekali-kalinya ia ungkit kumpulan urusan di zaman depan. Termasuk, urusan jodoh.
Usia Zea sudah menjejaki tiga puluh. Sudah banyak waktu yang terbuang untuk berdiam, berjalan, berlari, hingga bergemuruh. Namun, kebahagiaan belum juga bersimpuh. Hingga Zea hampir saja melupakan apa definisi ‘cinta’ yang membuat banyak orang luluh. Tetapi, bukan berarti usaha Zea luput dari lumpuh. Zea tetap berusaha, menerjang semuanya, menyingkirkan keluhan masyarakat yang tak berarti, namun... ia selalu berpikiran : Jangan pikir hanya kita yang membutuhkan waktu. Tetapi, waktu juga membutuhkan kita untuk meragukan sesuatu.
Klise lagi? Kali ini–menurut Zea, tidak. Ia bisa bernapas lega karena Rene Descartes pernah mengungkit persoalan ini. De omnibus dubitandum. Segala sesuatu sudah sepatutnya diragukan. Sudah seharusnya segala sesuatu harus dipertanyakan. Termasuk, kehidupan. Menurutnya, untuk apa memaksa bahagia datang bila kebahagiaan itu sendiri belum sepenuhnya siap? Untuk apa segera membina rumah tangga bila keuangan masih menjadi persoalan basi? Untuk apa memiliki anak bila tak ingin postur tubuh membengkak? Semua itu, semua pertimbangan itu, terkuak satu demi satu, seiring mengarusnya waktu.





Selasa, 11 September 2012

Bisu


Diam tak selalu hangus tanpa makna. Ada kalanya bisumu memuarakan segala aksara. Pada sudut hatimu, kau pun banyak bersuara. Hingga kesadaranmu merangkum, lama-lama hatimu lebih banyak memberontak dibandingkan bibirmu.

Semilir rekaman gambar terus bergilir di depan mata. Semua tampak biasa, sehingga kau lebih memilih bungkam. Tetapi, ada saatnya... pemandangan orang yang kau cinta membuatmu ingin bicara, tetapi fenomena itu menjahit mulutmu rapat.

Kau membisu karena dibuat bisu.

Hatimu meringkuk, dan tak ada salahnya kamu mendengarkan resahnya. Tak apa kau berbaur dengan getah, bila semua desau itu membuatmu betah.

Hanya dirimulah yang tahu bahwa kau sedang bicara dalam diam. Dan, dirimulah yang tahu, suara siapa yang sedang beraksi dalam dirimu.

Asal kau tahu,
Suara itu bukan bisikmu. Itu jeritmu dalam lorong teramat sempit.
Itu bukan bahagiamu. Itu laramu.
Kau harus sadar, itulah dirimu yang terhimpit cinta.

Mungkin jika suara hatimu diizinkan bicara, ia akan berteriak lancang. Menembus segala dinding. Mengoyak segala spesies perasaan. Bahkan, kau pun berharap-harap...

Hatimu yang selalu memanggil namanya dapat menerobos perasaannya. Setidaknya.

Ini hanyalah masalah tampak dan tidak tampak. Ceracaumu yang hanya merambati lereng hati ternyata tak akan sanggup berkoar lewat udara. Kini, kau hanya bisa disebut penonton, walau sebenarnya kamu ingin beraksi. Kamu ingin keluar. Kamu ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya.

Kau ingin berdiri.

Kau ingin berteriak lebih keras, memanggil namanya.

Kau ingin berlari, menggapai dirinya, mengungkapkan segala kasih sayangmu yang sudah membatu.

Tapi...
Ya, sudahlah.
Biarlah itu menjadi misteri untukmu sendiri.

Bisumu mengembuskan napas berat. Kau kembali duduk, dengan lutut yang melemas. Matamu mulai bersuara, menimbunkan genangan air yang menyudut di kelopak mata.

Kau hanya bisa tersenyum, tertawa sekali-kali, dan menyeka air mata yang terkadang jatuh berlinang.

Siklus ekspresi itu terus berputar.
Kau tersenyum, saat dia bahagia.
Dan kau menangis, saat dia bahagia, padahal itu menyesakkan hatimu sendiri.

Dan, kapan saatnya kau tertawa?

Kau tertawa, karena dirimu itu lucu sekali.
Kau merelakan dia bahagia dengan cintanya, padahal kau sendiri pun tidak dengan cintamu.

Teruslah tersenyum, tertawa dan menangis.
Karena bisumu tak selalu mengungkap ekspresi,
Namun tertoreh dalam aksara yang mudah memudar.

Santai saja.
Tetapi,
Jangan biarkan bisumu mengikis dirimu perlahan.

Jumat, 07 September 2012

Doa



Jangan pernah sombong bila menjadi manusia, karena dalam darahmu, kau mengandung doa.

Kau adalah doa. Sebuah Mahakarya dari untaian-untaian harapan yang sudah membendung penuh dari bibir mereka. Kau tidak dapat mengelak, bahwa kau ada karena cinta. Kau ada karena doa. Dan jangan pernah merengutkan bibir, karena kita hanyalah wujud dari sebuah doa.

Jangan pernah menyebut ‘sebatas doa’. Doa lebih ampuh dibandingkan kalimat puitis. Doa tak perlu puitis. Dan doa tak perlu romantis. Doa hanya perlu hati yang merangkum segala harap, mimpi dan tangis. Doa pun tak perlu berakrobatis–sehingga semuanya terlihat wajar, karena kita adalah doa, kita terlihat sederhana. Tak macam-macam.

Sejak kau ada di rahim, orang tuamu sudah merancangmu dalam sebuah doa. Orang tuamu mengharapkanmu menjadi wujud yang benar-benar selamat, dengan jiwa yang juga selamat. Awalnya, doa memang sangat sederhana. Persis seperti organ tubuhmu yang sedikit demi sedikit terbentuk dalam rahim ibumu. Namun semakin engkau bisa mewujudkan doa yang satu, doa yang lain akan terus bermunculan.

Doa orang tuamu adalah kau lahir dengan selamat. Tanpa kau sadari, kau pun telah mewujudkannya. Tetapi...
 tunggu, doa tak pernah mengakhiri jejak.

Doa bersifat infinit. Sedangkan probabilitas bersifat finit. Namun hidup selalu memberikan celah, untuk menggapai apa yang tak mungkin tergapai. Orang tuamu merancang dirimu dalam tabung doa, bukan hanya untuk lahir dengan selamat. Setelah itu, mereka akan membuatkanmu harapan, agar kau bisa menjadi orang yang berguna di luar sana. Di luar kungkungan yang telah menjeratmu selama sembilan bulan.

Kenyataannya, kau terlalu tergiur dengan definisi ‘manusia’. Kau melupakan wujud asalmu, seuntai ‘doa’.

Kini, saat kau besar, kau bisa berbangga, bahwa kau sudah menjadi manusia seutuhnya. Sudah besar, tinggi, hingga bisa menjadi pilar sebuah kehidupan. Sudah engkau lupakan, apa yang menjadikanmu hingga seperti sekarang. Doa. Kau melupakannya. Kau melupakan apa yang orang tuamu harapkan. Kau lupa setitik nila sebelum engkau lebur dengan kumpulan air.

Kau terlalu sombong menjadi manusia.

Kau terlalu larut dalam seduhan dunia yang syahdu.

Tetapi kau tetap manusia, dan kau hanya sekedar pilar.

Kau tak mau lagi menoleh, melihat wajah-wajah yang mendukung sejarahmu.

Kau terus berjalan, menutup telinga.

Tak mendengar lagi, bisikan lirih kedua orang tuamu:

“Ingatlah kepada Doa, Nak. Jangan terlalu puas dengan dunia, yang sebenarnya tak kau mengerti apa definisinya. Tetaplah menjadi doa. Doa kami. Doa yang bukan hanya sekedar pilar, namun bisa mengoyak langit, hingga matahari akhirnya gentar memilukan,”

Kau tak juga sadar. Langkahmu terus menapak. Jejakmu sudah tak terhitung. Mencari lagi nikmat yang bisa digali selama masih bisa berpijak dalam eksistensi dunia. Menjadi manusia hanya sekali, itu yang kau camkan. Tak juga mengerti arti sebuah awal dan akhir. Tak mengerti antara berpura-pura kuat dan berpura-pura rapuh.

“Kembali, Nak. Jawaban yang engkau cari ada di sini. Langkahmu terlampau jauh, Nak. Jauh...”

Sampai akhirnya, engkau akhirnya menyadari. Betapa bodohnya engkau menjadi seorang manusia. Betapa hinanya engkau menghindari sebuah doa. Engkau mengerang, menangis, berteriak meronta-ronta. Sesalmu kini tiada lagi sebuah tonggak perubahan.

Napasmu sudah sirna. Tercekat dalam tenggorokan yang serasa membelit. Ragamu sudah tergeletak tanpa daya. Hanya dirimu dan jiwamu yang melayang lemas di langit yang lapang. Jiwamu telah pergi meninggalkan nikmatnya sebuah dunia. Engkau pun akhirnya sadari, jawabanmu ternyata ada di sana, di langit, surganya para doa. Doa orang tuamu.

Di alam sana, engkau kembali menangis. Terngiang dengan kata-kata orang tuamu, dan apa arti sebuah doa. Apa arti sebuah manusia. Engkau menjerit hingga mematikan tenggorokanmu sendiri.

Namun, ketauhilah. Engkau akan pudar dalam manusia, namun tetap kekal dalam doa. Selamanya.

Dengarlah, orang tuamu masih saja merancangmu dalam sebuah doa, di tengah kesendirianmu dalam tempatmu yang amat sempit:

“Ya Allah, tempatkanlah Anakku di surgamu yang indah, hapuskanlah segala dosa anak-anakku, ampuni anakku, Ya Allah.”

Engkau terus menangis. Menangisi sebuah doa.

Jumat, 17 Agustus 2012

Reuni

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-67!

Khusus hari ini, saya menulis sebuah kisah kecil. Mendadak, sih, tetapi senang saja bisa menulis cerita untuk Indonesia. :D Walau terlalu panjang, semoga tetap bisa dinikmati.

Selamat membaca! ;D

***
17 Agustus 2012

Dalam satu ruangan yang lengang, mereka masing-masing beriak tenang. Ada satu yang termangu di depan jendela, ada yang mengetik, ada juga yang sedang mengusutkan kening saat melihat Koran hari itu. Dirgahayu Indonesia Ke- 67.

Kartini menyengir santai, walau hatinya terasa terbahak puas. Indonesia masih hidup? “Kawan, Indonesia hari ini berulang tahun!”

Jemari Cut Dien berhenti bergerak. Mungkin, ia tersentak. Bersikap kalem, membenamkan matanya yang terbelalak. Ia memutar punggung, bertatap mata dengan Kartini. “Indonesia berulang tahun?”

Pattimura yang sedang duduk termenung pun terlonjak. “Benarkah? Indonesia masih bertahan?”

Kartini mengangguk lemas, tanpa daya.

“Apakah wajahku masih tertoreh di uang sepuluh ribu?” tanya Cut Dien mendesak, seiring dengan nada bicaranya yang hampir tersedak. Bergetar, juga gentar.

“Sayang, belum ada Koran khusus untukmu, ya. Sehingga kau tidak perlu ketinggalan zaman begitu,” Kartini mendelik tajam ke arah Cut Dien, melipat tangan di dadanya. “Wajahmu sudah lama lenyap dari uang sepuluh ribu. Sekarang, uang Indonesia satu itu sudah berganti tokoh, sekaligus warna. Sultan Mahmud Badaruddin yang memantau di sana. Ingin mengadakan survei, katanya. Ia ingin mengecek, apakah ada kejujuran yang disekap jauh-jauh di depan hadapan uang sepuluh ribu?”

Cut Dien tertawa. Ia kembali meneruskan ritual mengetiknya. “Baguslah, kalau begitu. Sungguh, aku benar-benar tak nyaman bila wajahku ada di sana. Bukan begitu, Thomas?”

Pattimura melirik Cut Dien. Nama aslinya terselip dalam kalimat tersebut. “He? Ya, begitulah. Walau wajahku termasuk dalam uang seribu, tetapi tetap saja. Banyak juga kok, orang yang menyelewengkannya.”

“Duh, sudah hentikan. Aku nggak tega mendengar perbincangan kalian. Indonesia pasti sekarang sudah ambruk, sudah sekarat. Tetapi lihat saja, Indonesia sudah di ujung ambang, masih saja ada yang menyambitnya berkali-kali. Bisa jadi, pecutan itu lebih perih dibandingkan malaikat pencabut nyawa,” ujar Kartini, menundukkan wajahnya lesu.

“Aku juga merasakan hal yang sama. Indonesia dulu dengan Indonesia sekarang memang berbeda. Aku jadi sedih, mengingat bagaimana aku memperjuangkannya dulu.” Tutur Cut Dien hambar.

“Maksudnya, kau menyesal, begitu?” sergah Pattimura, dengan tekanan nada di setiap kata.

Cut Dien hanya menghela napas berat. Entah mengapa, saat ‘Indonesia’ berkelebat di benaknya, jemarinya mendadak kelu. Sulit untuk kembali mencium bibir mesin ketik. “Bukan begitu, Thomas. Aku hanya sedih, apakah ada manusia sekarang yang memperjuangkan Indonesia seperti kita dulu?”

“Zaman sudah berbeda. Kini, cuman segelintir orang yang menganggap Indonesia bukanlah hanya tempat berpijak. Tempat hidup. Mereka lebih memilih, memanfaatkan Indonesia untuk berbagai bisnis, merebut segala sumber daya yang tertanam. Dan itu benar-benar mengerikan. Mereka tidak tahu kalau Indonesia itu hidup. Indonesia itu ada. Ia melihat. Ia juga merasakan. Betapa sakitnya menahan cekikan warganya setiap hari. Bahkan, setiap menit.”

Keheningan pun perlahan membungkus mereka menjadi satu. Hanya kolaborasi napas sendu yang berbaur, menggeliat masing-masing. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Nama mereka sudah terlanjur dikenang. Senjata bambu mereka sudah tumbang. Mereka hanya bisa berdoa. Bagaimana peperangan saudara terjadi kini.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Mereka semua terkesiap. Pattimura, bergegas berdiri. Ia menyipitkan mata. Dan dalam sedetik, sebuah senyuman terbit di bibirnya. “Bung Karno! Bung Hatta!”

Tinggallah Cut Dien yang terjebak penasaran. “Benarkah? Itu mereka?”

Kartini tahu, ada yang tak beres. Ia menyipitkan kedua bola matanya, meneliti sosok yang hadir di belakang punggung kedua tokoh proklamator itu. “Tunggu, siapa itu?” jemarinya menunjuk sosok yang masih menjadi bayang hitam.

Bung Karno dan Bung Hatta, dengan wajah lesu dan lemas, melangkah masuk, dan mereka menjawab dengan lirih. “Dia... Indonesia.”

***
Pattimura membawa beberapa kursi, mempersilakan ketiga tamu itu untuk duduk. Saat ia mempersilakan Indonesia untuk duduk, entah mengapa hatinya serasa teriris pilu. Ngilu. Melihat bagaimana sosok Indonesia yang sudah tua, mau duduk saja begitu susah. Kulitnya yang sudah mengeriput, tampak lemah, tertindas oleh borok dan luka di mana-mana.

“T-terimakasih, Thomas.” Indonesia mendongakkan kepalanya, menunjukkan wajah reotnya, tetapi masih sanggup-sanggupnya ia memancarkan senyum kehangatan. Dan senyum itu membuat Pattimura bergidik. Pundaknya melemas. Ia tak kuat bila terus-terusan berdiri.

“Ehem, ya. Ternyata, kalian sudah berkumpul lebih dulu. Baguslah, kalau kalian masih berinisiatif. Merasa terpanggil, ya?” ujar Bung Karno, menyudutkan sedikit tawa, walau itu terasa begitu pahit. “Oh, ya. Kami membawa Indonesia ke sini. Dia sedang berulang tahun hari ini. Karena katanya, dia kangen. Dia rindu orang-orang seperti kalian.”

Kartini tersedak. Dia segera menutup matanya, menampung butir air matanya yang menandak rontok. Ia terisak sesak. Tubuhnya tergoncang goyah. Dia tak kuat. Dia tak sanggup. Setelah sekian lama ia tak bertemu dengan Indonesia, dan saat waktu mempertemukan mereka, ia mendadak... iba. Bagaimana ia melihat tubuh Indonesia yang semakin kurus, hanya kulit tipis seperti selembar tisu yang membekap tulang, luka-luka bersebaran di mana-mana, pundak yang bobrok, wajah yang seperti meleleh, semuanya. Kartini tak sanggup melanjutkannya lagi.

“...Ya, mungkin kalian kaget. Mungkin kalian sedih. Tetapi, begitulah keadaan Indonesia kini. Begitulah yang Indonesia bendung selama ini. Tubuhnya yang kecil, semakin ringkih menampung kejahatan-kejahatan yang tercipta. Kejahatan-kejahatan yang memuncak tinggi, sehingga tubuh mungil Indonesia pun sudah tak sanggup mencegahnya lagi,” jelas Bung Karno.

Pattimura mengambil napas panjang, menjadikan kumpulan oksigen itu seperti sebuah kompensasi yang mengiringi matanya. Matanya menangkap pemandangan yang begitu miris. Indonesia benar-benar tampak menderita. “Ehm, ya, Indonesia. Sudah lama, ya, kita tidak berjumpa lagi.”

Indonesia kembali tersenyum, menunjukkan matanya yang pecak sebelah. “Ya, sudah lama sekali, ya.”

Pattimura diam membisu. Bulu tangannya merinding kompak. Ia tak tahu harus melanjutkan apa lagi. Namun, ia tidak bisa menahan pertanyaannya terlalu lama. Sehingga, ia terlanjur menumpahkannya. “Indonesia, mengapa matamu pecak sebelah?” tanyanya gugup.

Sedangkan Indonesia hanya menengadahkan wajah, memegang matanya yang pecak itu. “Oh, ini.” Ia berkata singkat, senyumnya belum juga mengempis. “Ini karena banyak rakyat miskin yang menderita, Thomas. Banyak tangis yang bergulir dari mata-mata mereka. Sehingga, ya begini. Karena setiap mereka menangis, aku juga menangis, lebih parah malah. Setiap mereka terisak, bahkan aku tak sanggup bernapas. Setiap mereka bangun di pagi hari dengan mata yang bengkak... ya, mataku pasti sudah seperti ingin loncat keluar. Aku tak kuat melihat mereka seperti itu.”

Pattimura menautkan alisnya, Indonesia benar-benar tidak seharusnya mendapatkan siksaan begitu perih. “Bukannya rakyat-rakyat miskin yang sering membuat ulah, ya?”

Indonesia terkekeh kecil, “kehidupan sekarang sudah terjungkir balik, Thomas. Kaum-kaum proletar yang menuntut, yang memberontak di mana-mana itu tak separah mereka yang sedang merajalela di dunia atas. Mereka gemertak, karena yang kaya pun juga semakin merebut hak-hak mereka. Merampas standar kemampuan mereka.” Indonesia menelan ludah pahitnya, “kaum-kaum miskin limbung karena mereka kehilangan arah. Harga-harga bahan pokok hidup yang naik membuat mereka tersungkur. Mereka tak lagi bisa mengikut pasrah terhadap muara negara. Mereka kehilangan tujuan. Karena... ya, tujuan mereka hidup cuman bahagia. Mereka nggak muluk-muluk untuk memiliki mimpi. Masih bisa makan aja sudah bersyukur. Dan parahnya, kini hak makan mereka saja sudah terebut oleh tangan-tangan jahil kelas atas.”

“Bukankah kita kaya SDA, Indonesia?” Pattimura menuangkan keheranannya lagi. Kartini sudah roboh, menangis-nangis histeris di pelukan Cut Dien. Kesedihan telah menohok jantungnya, mungkin.

Indonesia tiba-tiba melihat tubuhnya yang cungkring, tipis, dan itu terlihat begitu miris. Namun, masih sempat-sempatnya saja ia untuk menyunggingkan cengiran kalem. “Inilah yang membuat badanku remuk, Thomas. Badanku tak sanggup menopang bagaimana manusia bergantung penuh terhadap uang. Ya, selembar kertas itu. Uang seolah menggantikan peran Tuhan. Kini, banyak mereka yang lebih takut miskin dibanding takut mati. Bukan hanya bagi kaum miskin, tetapi yang kaya pun sama. Uang berlimpah-limpah yang mereka dapat bukan membuat mereka bersyukur. Itu semakin membuat mereka tak puas.

“Jadilah, mereka merekrut orang-orang desa dengan janji-janji manis. Dan alhasil, mereka tergiur. Mereka lebih memilih ke kota yang menjanjikan dibandingkan di pedesaan. Lalu, ambruklah kita dalam urusan pertanian. Tahu, tempe, pun kena imbasnya. Bagaimana kedua objek itu, tahu dan tempe, hal yang seharusnya sudah bisa kita kuasai –melihat kesuburan alam kita, menambah tersuruknya negaraku. Tahu Sumedang saja mungkin sudah tidak asli Sumedang. Manusia-manusia lebih memilih ke tempat-tempat yang ‘uang’nya menjanjikan. Kelas atas pun mulai memperbudak mereka dalam sebuah proyek besar-besaran. Dan, proyek mereka pasti tak luput dari peranku, Thomas. Secara tak langsung, tambang, timah, kekayaan yang kupunya pun raib secara perlahan. He-he, kau bisa lihat lah bagaimana tubuhku bisa setipis ini.”

“Seolah-olah uang menggiring kita kembali kepada kapitalisme.”

“Memang sangkar yang paling tepat untuk uang hanya itu, kan? Dalam sangkar itulah kita bisa melihat, bagaimana yang kaya semakin kaya. Dan semakin terpuruklah negaraku dalam soal ekonomi. Apalagi, kini uang sudah bermutasi menjadi berbagai hal, mulai dari kartu ATM, saham, bunga, dan sebagainya. Padahal, uang pun bukan satu-satunya sasaran yang bisa kita salahkan. Uang hanya medium. Hasrat kitalah yang menghantarkan kita kepada hal-hal tak diinginkan. Sebut sajalah yang sedang eksis, korupsi. Duh, duh, duh, banyak sekali sekarang manusia yang merenggut hak-hak orang lain lewat uang. Ada yang korupsi lewat jalur pajak, bahkan Al-Quran pun juga menjadi salah satu satu korbannya. Jika sudah begitu, kesengsaraan akan menjalar ke mana-mana, sampai ke akar-akarnya–tak lain dan tak bukan, rakyat miskin.”

Saat rentetan kalimat diucapkan oleh Indonesia, Cut Dien segera menyerobot, “ada kalanya kita harus kembali ke zaman barter. Lewat barter, kita tak butuh mata. Kita hanya butuh rasa percaya. Kita tak perlu melihat-lihat bagaimana besarnya barang yang akan kita dapatkan atau betapa kecilnya barang yang akan kita rengkuh. Tetapi, bukankah itu begitu indah, di kala manusia saling membutuhkan?”

Indonesia tersenyum tipis, dan ia tertawa. “Dalam konteks uang pun sebenarnya kita bisa menemukan keindahan, Cut Dien. Tetapi, ya itu masalahnya, hasrat kitalah yang menjebloskan kita ke dalam lubang penuh maki.”

Cut Dien terdiam. Ia lebih memilih mengelus punggung Kartini yang masih menangis.

Bung Hatta pun akhirnya berceletuk, “dan saya bingung juga. Mengapa mereka terlalu senang bergumul dengan uang, bila di akhir kehidupan, sekali renggut, habislah sudah?”

Mendengar pernyataan itu, Indonesia kembali terpingkal pelan. “Gaya bicaramu seperti Mephistopheles saja.”

Bung Hatta mengernyitkan kening, kedua alisnya menyatu, “Apa itu? Jenis nyamuk?”

“Bukan, bukan. Hanya seorang tokoh dalam karya Goethe, Faust.”

“Tetapi, jika direnungi, pertanyaan yang dilontarkan Bung Hatta ada bagusnya juga bila dipikirkan. Sepertinya manusia berkomplot dengan kawanan uang untuk mendapatkan kepuasan diri. Bukankah bila kita kaya, kita akan bangga? Kita bisa membanggakan diri?”

“Thomas, jika mereka setelah kaya akan benar-benar mati, di mana tempat mereka membanggakan diri?” tandas Bung Karno tegas.

Percekcokan itu pun dijawab santai oleh Indonesia, “di akhirat nanti, mungkin.”

Cut Dien pun segera memotong, “Hih, kalau di surga nanti segala doa bisa dikabulkan, salah satu doaku adalah semoga waktu tak mengizinkan mereka menyombongkan kekayaan mereka.”

Kartini yang sejak tadi mematung pun akhirnya berceloteh. Ia menyeka air matanya, memeriksa tenggorokannya yang sejak tadi tercekat. Setelah itu, ia mulai bicara. Dengan nada goyah. “Aku hanya sedih melihatmu, Indonesia. Bagaimana sekarang umurmu sudah 67 tahun, tetapi kau tetap saja rela menahan pedih. Rela menjadi tempat pelampiasan kejahatan mereka. Kukira, setelah aku pergi, akan ada generasi di zaman maju yang akan membahagiakanmu. Membuatmu bangkit kembali. Tetapi kenyataannya? Orang-orang itu hanya memperburuk keadaan.”

Cut Dien pun mengangguk, “aku juga salut kepadamu, Indonesia. Perjuanganku untuk membelamu tak sia-sia. Walau kondisimu sekarang yang sedang hancur, namun kau tetap menjadi Indonesia yang kukenal. Kubanggakan.”

Pattimura pun ikut berujar, “manusia zaman sekarang tak seperti yang kuharapkan. Bahkan, bila Tuhan mengizinkanku untuk bangkit lagi, aku rela untuk memperbaiki keadaanmu, Indonesia. Aku benar-benar mencintaimu. Amat teramat sangat.”

Bung Karno dan Bung Hatta ikut manggut-manggut, Kartini turut menggerakkan kepalanya yang tersandar di pundak Cut Dien.

Mendengar pengakuan itu, Indonesia terenyuh. Ia memercikkan sedikit senyum rapuh, namun tetap menguatkan mereka semua. Ia meletakkan tangannya di dada, dan berkata lantang, walau akhirnya menjelma menjadi bisik-bisik halus, “aku benar-benar merindukan orang seperti kalian. Sangat rindu. Asal kalian tahu.”

SELESAI

Minggu, 15 Juli 2012

Malam



Saat aku bermimpi di tengah malam
Meresap menjadi ruh sebuah bintang
Menghias lukisan gulita yang lapang
Merindu terhadap kumpulan kunang-kunang

Jati diriku terpecah menjadi serpihan bintang. Menyebar berantakan, tak peduli adanya peta. Aku hanyalah sebuah hiburan di tengah deru tangis Sang Malam. Aku tak peduli jiwaku tak utuh kembali. Tugasku bukan itu. Malam tidak menginginkan itu.

Matahari bersembunyi di balik kelam
Berkhianat terhadap Sang Malam
Mengecup selingkuhannya dengan dalam
Meninggalkan rindu yang teramat buram

Mataku menggembung mendengar celotehan Sang Malam. Reaksi hasrat dan rindu tampak dari dirinya yang selalu gelap seolah ingin melenyapkan. Melahap segala sinar yang ada, mengingat jati dirinya yang sedang kalap.

Ia tampak tak mau malu oleh eksistensinya saat terang
Tak mau mencicipi bibir sebuah gulita
Dirinya selalu takut
Dia tak akan bisa lagi berpendar
Dia takut
Matahari tak lagi bisa menemani

Malam ingin seperti lentera
Menerangi gelap hingga terlena
Menemani manusia yang sedang merana
Menjelma menjadi lebih dari satu warna

Aku mengangguk. Terus mengibaskan sinar. Mungkin ini sebabnya mengapa bulan selalu ada di samping Malam. Mengapa bulan terkadang terlihat seluruhnya, separuh atau hanya sedikit.
Karena Bulan tak sombong
Ia setia dalam kerendahan dirinya
Ia rela menjadi dada untuk Malam yang sedang sendu
Aku tersenyum. Tak sia-sia mimpiku mengubahku menjadi bintang. Setidaknya untuk malam ini. Menemani bulir mata Malam,
Yang merindukan kasih Sang Surya