Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2013

Monolog Lelaki



Saya tahu kamu butuh diam. Saya tahu kesedihan kamu sudah sepatutnya diredam.
Karena apa, saya juga nggak sanggup melihat kamu menangis. Meringkuk sendiri, terisak sendiri, tetapi secara nggak langsung hati saya juga ikut-ikutan meringis.
Kamu tahu kenapa? Di saat jarak kita yang sudah tak mengenal angka, di saat detik-detik bergilir tanpa makna, kamu meninggalkan saya dalam sebuah ruangan yang khusus akan satu makna: kamu menangis.
Lho, saya harus berbuat apa? Saya hanya bisa diam di kursi ini, berhadapan dengan kamu yang menangis sendiri, dan saya nggak tahu apakah saya harus menenangkan kamu, menggenggam tangan kamu, menghapus air mata kamu–saya tahu ini basi memang, apalah asalkan kamu nggak begini.
Konyol, ya memang. Saya selalu kebagian sisi pahit dari kamu. Saya juga nggak pernah menyangka bisa sebegini relanya, bisa sebegini berkorbannya untuk perempuan kayak kamu. Awalnya, saya giring kamu ke zona yang membuat kamu nyaman, saya pertemukan kamu dengan cowok yang kamu idamkan, tetapi lihat, kamu kembali kepada saya di saat kamu sudah mengakhiri itu semua. Ya, boleh deh kalian semua anggap saya pengecut. Cibir saja saya sesuka hati. Hidup saya memang aneh begini. Saya juga nggak tahu. Saya hanya ingin dia bahagia, makanya itu saya perjuangkan. Tetapi... di saat dia sudah menangis begini, saya harus ... nah, itu dia. Saya harus bagaimana?
Kini, saya cuman bisa diam. Saya nggak tahu ini karena persepsi alamiah saya bahwa kamu butuh diam, atau memang saya nggak bisa berkata apa-apa. Atau bahkan, saya nggak bisa melawan lelaki yang sudah menyakiti kamu, yang sudah membuat kamu menangis. Karena, semua itu kembali ke satu pertanyaan dangkal yang membuat saya jauh lebih dangkal: saya cuman sahabat kamu tok. Saya berjuang segede monaspun saya juga akan menjadi sahabat di mata kamu. Tapi, kalau saya diam, sahabat macam apa saya, atau... patutkah saya disebut orang yang mencintai kamu, yang ingin kamu tetap bahagia?
He-he-he, kamu benar-benar sukses meninggalkan saya dalam kebisuan ini. Buktinya, otak saya nyeletuk sana-sini kan, dilatari dengan adegan kamu menangis tersedu-sedu saat ini. Kamu itu hebat, memang. Begini nih, yang buat saya bodoh di hadapan kamu : pikiran saya tuh semrawut, tapi tindakannya nol. Saya nggak bisa buat apa-apa di saat kamu menangis seperti ...
Eh, tunggu. Siapa bilang? Saya bisa, kok. Saya bisa tenangkan kamu. Saya bisa mengusir kesedihan kamu. Saya bisa membuat kamu melupakan lelaki itu. Asalkan, kamu mau dengar. Sedikiiiit saja. Karena kalau banyak-banyak, pasti kamu bilang saya basi. Atau, ‘ngambil quote siapa, lo?’. Jadi, izinkan saya, seorang sahabatmu ini, berkata sama kamu ...
“Mel, jangan nangis terus, dong. Makin jelek masalahnya.”
Dan saat kamu mendengar itu, perlahan-lahan kamu mendongakkan kepala, dan terbitlah satu senyum kecil di sana. “Sialan lo.”
See?  Saya bisa, kan?
Karena apa, saya nggak akan pernah bangga bila saya bisa menangisi seorang perempuan. Tetapi, saya akan bangga, bila suatu saat saya bisa membuat perempuan berhenti dari tangisnya.
Dan, dengar ini, saya rela bila selalu menjadi orang yang membuat kamu berhenti menangis, Mel. Sumpah. Boleh, ya?

Selesai

Pause. Ini curhat sedikit saja, ya. Pertama-tama, saya maaf sekali jarang update blog ini karena apa, padatnya kehidupan anak kelas 9 SMP. Try out, ulangan, ujian praktek, duh, mendingan nggak perlu diteruskan. Jadi, mumpung hari-hari santai begini, ruang ide saya entah mengapa serasa kepenuhan. Dan anehnya, ide-ide itu bisa dibilang lain dari sebelumnya. Entah karena efek bosan, saya jadi mencoba sekaligus menghibur kebosanan saya dengan menulis genre Metropop. Saya nggak tahu, apakah Monolog Lelaki sudah dikatakan berhasil, soalnya ini genre Metropop yang pertama kali saya buat. Kalau dibilang sulit, jelas. Sulit dalam arti membuat bacaan yang mengalir, dan nyaman untuk dibaca. Dan ... ya, Monolog Lelaki ini sukses mengobati kebosanan dan keletihan saya dalam menjalani kehidupan kelas 9 SMP ini.

Cukup sekian. Pffft. *buka buku paket*

Sabtu, 01 Desember 2012

Filateli




Untuk mengenang kelas saya tercinta, 8D.
Pameran Filateli Dunia
18 Juni 2012

***

Walau nggak pernah bertemu, yang jelas saya butuh waktu.
Klise, memang. Namun itulah satu-satunya jawaban yang sering Zea lontarkan kepada setiap orang. Kepada setiap kerabat. Kepada setiap tetangga. Kepada setiap manusia yang menjulurkan tanya : “Ze, nggak berminat cari pendamping hidup, gitu?” Dalam benak Zea, waktu tak lebih dari sebatas menengok jam tangan bila ada yang bertanya, lalu mencerna ke mana arah jarum pendek dan panjang mengacung. Atau, tak lebih dari letak dan posisi matahari bergantung. Bulan yang bertakhta. Kapan jam tidur yang cocok untuk kembali berkelana. Jam makan. Waktu pameran prangko maupun buku. Semuanya. Semua hal-hal yang bersifat mengendap pada masa kini, namun tak sekali-kalinya ia ungkit kumpulan urusan di zaman depan. Termasuk, urusan jodoh.
Usia Zea sudah menjejaki tiga puluh. Sudah banyak waktu yang terbuang untuk berdiam, berjalan, berlari, hingga bergemuruh. Namun, kebahagiaan belum juga bersimpuh. Hingga Zea hampir saja melupakan apa definisi ‘cinta’ yang membuat banyak orang luluh. Tetapi, bukan berarti usaha Zea luput dari lumpuh. Zea tetap berusaha, menerjang semuanya, menyingkirkan keluhan masyarakat yang tak berarti, namun... ia selalu berpikiran : Jangan pikir hanya kita yang membutuhkan waktu. Tetapi, waktu juga membutuhkan kita untuk meragukan sesuatu.
Klise lagi? Kali ini–menurut Zea, tidak. Ia bisa bernapas lega karena Rene Descartes pernah mengungkit persoalan ini. De omnibus dubitandum. Segala sesuatu sudah sepatutnya diragukan. Sudah seharusnya segala sesuatu harus dipertanyakan. Termasuk, kehidupan. Menurutnya, untuk apa memaksa bahagia datang bila kebahagiaan itu sendiri belum sepenuhnya siap? Untuk apa segera membina rumah tangga bila keuangan masih menjadi persoalan basi? Untuk apa memiliki anak bila tak ingin postur tubuh membengkak? Semua itu, semua pertimbangan itu, terkuak satu demi satu, seiring mengarusnya waktu.





Sabtu, 10 November 2012

Monokrom


Dalam kertas lapuk yang mengeriting
Terdapat kenangan kita yang tak pernah menyingsing
Antologi masa yang membuat waktu terpicing
Hingga tertawa terkencing-kencing
Dalam hening
Banyak tabir yang tak lebur karena bening
Itu kita, manusia penggenggam ranting-ranting
Mengarak, menyuruk, menggondol memoar agar tetap lekas di samping
Masih ingatkah kamu, Ning?

Ning, mungkin kini tampakku telah lenyap
Terkikis dan mengepungmu dalam senyap
Namun, kamu tidak perlu kalap
Saya selalu ada, menunggu kamu hingga terlelap
Selalu. Setiap malam. Setiap napas yang terpental dalam gelap

Ning, saya tinggalkan album foto untuk kamu pandang
Saya tinggalkan seberkas cinta saya di sana, agar kamu mudah mengenang
Bukalah album itu, dengan janji, jangan sampai matamu menggenang
Saya tak mau, Ning. Saya tak mau hatimu hambar mengambang
Karena, saat air matamu memercik, saya tak lagi ada di sana
Saya tak bisa menghapus air mata kamu saat merana
Atau, saya pun tak bisa ikut terpingkal saat kamu tertawa
Karena memaki-maki kebodohan saya

Ning, bukalah album itu perlahan
Rasakan desiran waktu yang telah berjalan
Mengaruskan kita, menjebak kita, membuat cinta kita tertelan
Dalam tungku waktu yang meletupkan buaian

Ning, kau sudah membukanya?
Menatap foto abu-abu pernikahan kita yang tercetak di sana?
Bagaimana, kamu lihat bahwa abu-abu tampak mendominasi hidup kita dulu, bukan?
Dan... bukanlah rahim abu-abu itu yang selalu membuat kita berdampingan?

Saya ingat, dulu kita sering kali bertengar
Mengoyak dinding abu-abu yang kian melebar
Saya tahu, saya rasa, hati kita sama-sama bergetar
Bertengkar kepada orang yang kita cinta... memang selalu merobohkan tegar
Hingga... aku selalu mengalah, Ning. Saya redam semua gejala yang berkobar
Karena saya tahu saya yang bodoh. Kamu yang pintar.

Saya ingat, kamu selalu berkata bahwa saya itu manusia lempeng
Mau diajak bicara ke mana pun jawaban saya tetap nggak mudeng
Dan kamu pernah bilang, saya waras kalau saya dibuatkan es pudeng
Dan kalau saya ingat-ingat sampai sekarang, ucapanmu benar adanya juga, Ning
Saya gembleng di depan kamu
Semua yang saya punya ngawur di depan kamu
Entah sebab apa yang membuat semua ini melaju
Akankah cinta, benci, atau memang diri saya yang dungu
Saya tak peduli. Saya hanya peduli melihat diri kamu yang selalu kesal sama saya
Karena setiap kamu kesal sama saya, kamu selalu ketawa
Jadi, tak masalah deh kalau saya memang gila
Kalau itu membuat kamu bahagia

Ning, saya jadi kangen saat kamu selalu memanggil saya Monokrom
Memandang segalanya dengan satu titik, satu celah, satu teropong
Walau wajah kamu ruwet, kesal, letih saat bicara sama saya
Tetapi saya senang sekali, saat nama Monokrom tertiup di telinga saya
Adem, Ning
Apalagi saat kamu berkali-kali memanggil saya dengan panggilan itu setiap hari
Saya semakin bahagia, karena sampai keseratus kali kamu memanggil saya itu,
Ternyata kamu masih bisa menerima saya, sang Monokrom Lempeng
dengan apa adanya

Ning, sudah dulu, ya
Tutup saja album yang sama monokromnya denganku itu sekarang
Jangan nangis, Ning. Jangan.
Saya juga kangen sama kamu, kok
Kangen sekali
Jadi, jangan nangis lagi
Waktu memang penguji cinta, Ning
Dan saya anggap kamu telah berhasil
Karena kamu telah bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Seperti puisinya Goenawan Mohammad itu, Ning
Kamu ingat, kan?

Ning... apakah boleh saya mengajukan permintaan sama kamu?
Simpel saja, Ning
Panggil aku, sekali lagi saja...
dengan panggilan sayang 'Monokrom', ya?


Kebayoran Lama, 2012

Catatan : Salah satu tulisan yang akan saya kenang. Saya menikmati proses penulisan tulisan yang berjudul 'Monokrom' ini. Saya akan ingat keteguhan hati kedua manusia ini.
 



Sabtu, 19 Mei 2012

Serenade

Lagi
Oksigen mengepungku bangga
Menjerat hidungku hangat
Menerobos masuk tak mau tahu
Dia tak mau peduli
Dia hanya tahu dia suci
Untuk membisikkan kata:
Dia merasakan apa yang engkau rasa

Lagi
Awan berarak-arakan di langit yang terlentang
Merutuk-rutuk dalam dada langit yang amat lapang
Menghiasi setiap letupan jantung jika langit kelam
Siapa sangka petir juga berbahasa
Menyampaikan salam:
Kalian adalah kelinci yang pemalu

Lagi
Air mendamba di ujung daun
Bereaksi dalam segelintir heran
Mengapa gutasi selalu ada di sampingnya
Membuat air selalu merangkak hingga ingin terjatuh
Menjelma menjadi tetesan kecil
Hingga berkecipak:
Kalian, bagai daun dan gutasi

Lagi
Desah udara meniupkan namanya
Awan melingkarkan wajahnya
Air mengungkap semua pertanda
Kita semua adalah serenade cinta
Berkolaborasi menyampaikan rindu
Diiringi bisikan Tuhan yang memimpin:
 Kalian mendengar bisikan yang sama


Sabtu, 12 Mei 2012

Kopi


Teleponnya bergetar.
Ia merogoh sakunya, melirik sedikit layar teleponnya:

Panggilan Masuk
Rhea

Sigap, ia memasukkan lagi teleponnya ke sakunya dalam. Berusaha bertingkah normal lagi di depan istrinya dan anaknya. Berharap istrinya tidak berprasangka apa-apa. Apalagi Aluna, anaknya yang suka bertingkah macam-macam. Bisa-bisa merusak acara makan malam yang jarang-jarang dilakukan ini.

Teleponnya bergetar lagi.
Ia merogoh sakunya, melirik sedikit layar teleponnya:

1 Pesan Baru
Rhea

Dengan mata yang terus memeriksa kedua bola mata istrinya, ia melihat pesan itu:
 Mas, bisa ke kedai kopi yang biasa nggak? Sudah lama nih aku nggak ngeramal orang lewat kopi.

Ragu, ia membalas:
Nggak bisa, Rhea. Aku sibuk. Aku juga tidak mau minum kopi sekarang. Maaf ya.

"Siapa Mas?" istrinya akhirnya menyadari suaminya yang terus melirik ke bawah meja makan.

Nama yang dipanggil mendongak, berusaha bertingkah normal dan tersenyum, "Bukan, urusan kerja,"

Istrinya hanya mengangguk-angguk saja, malas menyelidiki lebih lanjut.

KRINGG!
Suara telepon berdering lagi.

Ia terperanjat sedikit. Menerka-nerka: Perasaan sejak tadi teleponku dalam kondisi getar! Kok...

"Biar Aluna yang angkat, Bu," Aluna melompat dari tempat duduknya, bergegas menuju telepon rumah.

Ia bernapas lega. Rasanya jantungnya berhenti berdegup sementara. Dan ingin mengoceh banyak di depan Rhea saat bertemu.

Tak lama, Aluna kembali dan melanjutkan makan malamnya.

"Siapa, Lun?" tanya istrinya sambil mengunyah makannya lembut.

"Aluna juga nggak tahu. Mungkin.... iklan badut ulang tahun," jawabnya sambil terkikik kecil, cengengesan. Tak mau tahu, bahwa orang tuanya dibuat heran olehnya.

***
Pagi yang dingin, matahari masih malu-malu untuk menyembul ke permukaan.

"Ayah, mau Aluna buatkan kopi?" tangan mungil anaknya menepuk bahunya keras. Membuyarkan barisan aksara yang sedang ia baca.

Sigap, ia melepaskan koran dan menengok, "Aluna sudah bangun? Tumben, ini kan masih pagi?"

Aluna hanya menyengir khas, "Ayah mau nggak? Jarang-jarang lho, Aluna mau buatkan kopi,"

Ia tersenyum dan membelai pipi anaknya lembut, "boleh. Makasih ya, Sayang,"

Tak terlalu lama, Aluna kembali dengan membawa secangkir kopi hangat. Baunya menyeruak memenuhi udara yang masih bersih.

"Silakan diminum, Ayah..." Aluna menopang dagunya di samping ayahnya. Menunggu ayahnya meneguk habis kopi buatannya.

Selang 1 menit, ia meletakkan cangkir kopinya di meja. Dan...

Aluna mengambil cangkir itu cepat. Melihat dasar kopi, menganalisis sesuatu.

"Waaaah, benar! Ayah sedang jatuh cinta lagi! Pasti sama Tante Rhea, ya? Pasti Tante Rhea seneng kalau denger ini!"

Matanya langsung membulat, membekap mulut anaknya cepat. Otaknya heran walau itu harus disingkirkan dulu, karena yang lebih penting, istrinya tidak mendengar ucapan Aluna tadi. "Hussh! Aluna ngomong apa tadi? Aluna belajar dari mana?"

Aluna melepas bekapan tangan ayahnya dan tertawa kecil. "Dari Tante Rhea. Semalam ia menelepon, Aluna diperintahkan untuk membuatkan kopi dan meramalnya. Katanya, dia kangen banget sama Ayah,"

Ia mendengus kesal. Batinnya berteriak keras, mengelukan nama selingkuhannya:

RHEAAA!

Dialog dalam Danau


Jika ada kabut yang ditiupkan Tuhan, berkata:
Siapa manusia yang paling sabar di dunia?
Aku merapatkan kaki dan memeluknya hangat. Menenggelamkan kepalaku dalam. Sudut mataku sudah mulai goyah. Sibuk meracik simbol untuk gumpalan rasa yang amat pedih.  Lengkaplah sudah. Lembaran hidup yang berjalan pada seutas benang, dengan kemungkinan terbesar adalah jatuh.

Jawabannya kujawab lirih,
Aku.

Jika air beriak, memercikkan sebuah pertanyaan:
Masihkah kau menganggap dia adalah kamu?
Napasku tercekat dalam sebuah rasa yang begitu membelit. Ingin sekali aku berteriak tidak, namun rasanya sulit. Rasa cinta yang sudah terlanjur menyulut sebuah mantel hangat. Merengkuh tubuhku selamanya. Sulit dilepaskan.

Bila harus jujur, aku harus mengakui, dia masih menjadi orang yang bertitel kucinta.

Jika Tuhan mengirimkan petir yang menyambar sekaligus berkata:
Kau orang yang bodoh. Tidakkah kau bosan? Kau terlalu lama menunggu untuknya!
Aku hanya bisa tersenyum dalam segelintir pahit. Ini adalah yang kurasa, ini adalah sebuah keanehan. Aku juga tidak tahu apa artinya. Tetapi semakin aku tak tahu mengapa aku tak samasekali bosan menunggunya, itu semakin membuatku bertahan,  rela hanyut dalam hantaman ombak yang keras.

Jika awan hitam ikut berceloteh:
Hei, dia mencintai makhluk lain! Tidakkah kau sadar? Kau hanya sekedar temannya, tak lebih! Hilangkan perasaan itu jauh-jauh!
Aku mengedip lagi, hingga tak terasa air mata sudah jatuh berkeping-keping. Sudah sepuluh tahun, aku menjadi teman dekatnya, sekaligus orang yang ia percaya. Dan sudah beribu-ribu cerita yang ia berikan kepadaku, tapi samasekali tak ada cerita yang menyangkut namaku.

Aku menatap langit, angkasa sedang terbahak. Petirnya semakin menjadi-jadi. Dia sangka aku terlalu mengkhayati peran dalam drama hidup ini.

Akhirnya hujan turun, membisikkan kata-kata:
Aku tak sanggup melihatmu terus bertahan. Aku tak sanggup cinta menghabiskan kebahagiaanmu, hingga tinggal menyisakan kesedihan mendalam. Haruskah aku menghilangkan cinta untukmu?
Aku tersenyum lagi. Aku menggeleng pelan. Hujan menyamar menjadi tangis, hingga menyembunyikan air mata yang terus ada. Walau imaji terus muncul, menggambarkan dia yang melihatku sampai begini karenanya.

Aku hanya bisa menjawab. Tak usah, hujan.

Karena jika cinta hilang, dia tak lagi bahagia dengan orang yang ia cinta.

Jika dia tidak bahagia, aku semakin terpuruk.

Karena hidupku sudah menyimpulkan sendiri,

Cukup aku yang mencinta. Cukup ia yang bahagia. Aku sudah puas. Sangat puas.

Kamis, 16 Februari 2012

Cerita Kecil Ashton

Nah! Ketemu lagi sama saya. Sekian lama tidak ada sebuah sapaan, akhirnya sekarang timbul dari post ini. Kali ini tidak ada ide baru, tidak ada cerita baru. Yang ada hanya cerita lama yang muncul kembali. Cerita ini sudah lahir dari tahun 2010. Namun baru merasakan dunia tahun 2012. Dia sama seperti manusia. Tidak pernah merasakan hidup saat baru lahir.

***

"Ellie,Tunggu!"

"Apa yang kau mau Andre?"

"Aku ingin bicara sebentar ! Jadi selama ini..."

"Selama ini apa? cepatlah, aku tak punya banyak waktu...!"

"Aku... Ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu.."

"Maksudmu apa?"

"Emmm..."

"Jangan buang-buang waktuku Andre!"

"Ok, Aku.."

Aku mematikan tv, lagi-lagi adikku menonton acara yang tak patut untuk ditonton dia, sebagai anak yang masih dini.

"Ah Kakak apa-apaan sih! menggangu saja!" protes adikku, Ashton.

"Kau yang apa-apa! acara tadi tak patut untukmu!" jawabku puas.

"Apa salahnya? aku sudah kelas 6 SD! Aku sudah masuk masa pubertas,maklumilah!" jawabnya.

Aku tak kehilangan akal.

"Besok kau try out, lebih baik kau belajar daripada menonton acara ini!" jelasku.

"AAAAH! Dasar kakak yang tak bisa mengerti adiknya!"

Adikku meninggalkan ruang tv, dan masuk ke kamarnya. Aku menghela napas, Huuh, dasar anak zaman sekarang, ujarku dalam hati.

Oh iya! namaku Jack Robinson, panggil ku cukup dengan 4 huruf saja, Jack!

Setelah kalian mendengar kejadian tadi, kalian bisa menggambarkan sifat adikku yang satu ini?

Ok, sebaiknya aku ceritakan ya!

Antony Ashton namanya. Akhir-akhir ini atau sebut sajalah semenjak dia menduduki bangku kelas 6! Sifatnya berubah drastis! dia selalu menuntut bahwa dia sudah memasuki masa pubertas, dan bisa melakukan apa saja!

Aku berkali-kali mengingatkannya, dia selalu mengelak. Berbagai-bagai alasan selalu dilontarkannya.

Perasaan saat aku kelas 6 aku tak begini.

Apalagi, Ashton sedang duduk di kelas 6, dia sudah banyak Try Out dan ulangan harian. Apalagi nanti akan ada UASBN yang akan dihadapinya, tapi dia malah sibuk dengan tayangan per-episode yang tayang rutin setiap hari pukul 19.00, ah entahlah dia yang butuh nilai, bukan aku.

***

Keesokan Harinya...

Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 19.00 aku menutup buku biologi, dan menuju ruang tv dan memastikan apakah adikku yang satu ini, Ashton sedang menonton film percintaan atau belajar.

Kulihat bangku tv kosong, aku bersyukur dia sedang ada di kamarnya.

Aku pun menuju ke kamarnya. Tanpa basa-basi aku langsung masuk. Ashton terkaget. Dia terlihat belajar, tapi entah kenapa saat aku masuk dia langsung buru-buru merapikan buku tulisnya.

"Kakak, kalau mau masuk kamar seseorang ketok-ketok dulu lah!" serunya

"Oh, maaf, kau sedang mengerjakan PR?" tanyaku.

"Ya, kak buatkan aku Milo hangat dong!" pintanya.

"Adikku tersayang, kau mempunyai kaki, kau bisa menggunakannya dengan baik kan?"

"Sekali-sekali kak."

"Syukuri kakimu dik,"

Ashton menghela napas, dia beranjak dari kursinya, dan menuju ke dapur. Aku melihat tugas nya-Ashton, ya benar sih, tugas Bahasa Indonesia, tugas membuat puisi.

Aku kaget, mataku terbelalak. Adikku yang satu ini membuat-puisi-cinta-kepada-seseorang-bernama Anna!

Adikku masuk membawa gelas milo hangatnya, matanya langsung melotot saat aku memegang dan melihat buku tugas bahasa indonesia-nya. Dia menaruh gelas milonya di meja, dan merebut buku tugas bahasa indonesianya dariku.

"ARGH! KAKAK!" serunya.

"Oh-oh. Ternyata adikku yang satu ini sedang jatuh cinta, toh." ujarku.

"Ya, Wajarlah!" jawabnya.

"Eh, kalau boleh komentar, puisimu bagus juga, sungguh aku baru melihat kau sepuitis ini dik." ujarku.

"Ah apa sih kau ini!" komentarnya.

"Hmm, sepertinya kau sangat mengkhayati puisi itu. Apa yang kau suka darinya?" tanyaku.

"Kau tak perlu tahu, Kau ini ikut campur urusan orang lain saja! Ini urusanku!" protesnya.

"Oh, baiklah jika itu yang kau mau." aku pun meninggalkan kamar Ashton. Ashton terlihat masih memegang erat buku tugasnya.

Aku hanya tersenyum di balik pintu melihat kelakuan adikku yang satu ini.

***

Muka adikku terlihat kusam saat pulang sekolah, dia sedikit cemberut, hatiku bertanya-tanya ada apa dengan adikku yang satu ini?

"Adikku tersayang, ada apa dengan harimu ini?" tanyaku.

"Sial, tadi, Anna di depan ku sedang pacaran dengan Ryan!"

Wow! aku terkaget-kaget, adikku pertama kali curhat kepadaku!

"Hah? lalu puisi indahmu yang sudah diukir dengan bagus?" tanyaku menggodanya.

"Sudah menjadi serpihan-serpihan kertas." jawabnya.

Aku sedikit terkikik.

"Begini, kan sudah kubilang, cinta itu akan menjerumuskanmu dik, ya tak selamanya sih. Seperti kakakmu ini, jujur aku pernah suka kepada seorang perempuan, tapi setelah aku melihat perempuan-yang-aku-suka sedang memasukkan tangan ke hidungnya, aku langsung berhenti menyukainya." jelasku panjang lebar.

Adikku hanya mengangguk-angguk.

"Begini, kan kau sudah kelas 6, fokuslah dulu kepada ujianmu, jangan mengurusi persoalan cinta." nasehatku

Lagi-lagi dia mengangguk, aku tersenyum, semoga ini menjadi pelajaran baginya.

***

Aku melihat kalender kegiatan Ashton, dan terlihat lingkaran merah di agenda-nya. Ternyata, besok dia akan menghadapi UASBN. Aku membuka pintu kamar Ashton.

Terlihat dia sedang asik dengan pacar barunya, yaitu buku paket. Aku tersenyum. Kini, aku bangga dengan Ashton dia sudah melupakan sedikit demi sedikit tentang persoalan cinta, dan lebih fokus ke pelajaran.

"Emm.. Ashton, maaf mengganggu belajarmu, hanya ingin nanya, bagaimana kabar Anna dan Ryan?" tanyaku.

"Mereka semakin akrab, malah katanya hari ini mereka sedang jalan-jalan." jawabnya.

"Jalan-jalan? mereka tak belajar? padahal kan esok UASBN?" tanyaku lagi.

"Ya, begitulah mereka."

"Yasudah, kamu lanjutkan belajarnya, semoga besok sukses ya!" doaku kepada Ashton.

"Makasih kak."

Aku beranjak ke kamarku, dan bersyukur kepada Allah atas berubahnya adikku ini, Antony Ashton.

***

Senyum terpancar dari wajah adikku, Ashton. Dia menjadi lulusan terbaik tahun ini, mendapat nilai yang baik. Sebuah medali terlihat di lehernya.

Mataku berkeliaran, dan akhirnya tertuju kepada seorang anak laki-laki dan perempuan di sudut ruangan.

Ya, Anna dan Ryan, mereka tidak lulus karena sibuk dengan cinta. Anna masih menangis di pangkuan ibunya. Ibunya terus menenangkan Anna. Dan tiba-tiba...

POK!

Seseorang menepuk pundakku. Oh, Ashton!

"Kakakku yang paling baik, makasih atas semua nasihatmu selama ini kak. Kalau tak ada kakak, aku tak akan bisa seperti ini! Mungkin aku akan seperti Anna dan Ryan! Sekali lagi, makasih ya kak!" jelas Ashton panjang lebar.

Aku tersenyum.

"Iya,iya. Selamat ya dik, tuntutlah ilmu terus ya!" nasehatku.

Tiba-tiba seorang fotografer bicara kepada Ashton.

"Ini Ashton kan? wah selamat ya! foto dulu deh!" ujar fotografer.

Ashton menarik tanganku, dan merangkulnya.

Cahaya blitz menghampiri mataku, aku sedikit silau. Tapi aku mencoba tersenyum.

Ini pengalaman yang Ashton akan abadikan.

Oh iya ada pesan dari Ashton untuk kalian yang membaca notes ini,

"Nikmati masa mudamu dengan hal-hal yang berguna! Jangan membuangnya dengan sia-sia! Ini penentu buat masa tua kita loh!"

Selesai

Mohamad Sofwan Rizky

Jakarta,2 Oktober,2010.


***

Pesan penulis kini: tertawalah melihat EYD yang amburadul.

Selasa, 14 Februari 2012

Aderone

“Nama agamanya apa?”

“Aderone,”

“Umatnya berapa banyak?”

“Dua orang,”

“Kitabnya?”

“Linald,”

Tawa melepas dan beradu dengan udara. Mereka tertawa karena dialog yang terus diulang-ulang. Dialog yang akan menghantam telinga mereka dengan konyolnya suatu saat nanti. Walau mereka tak tahu, bila diketahui para ulama, pendeta, biksu dan lainnya akan segera dihajar habis-habisan.

“Hahaha, ini konyol banget!” sunggingan senyum belum bisa melarikan diri dari bibir manis Adellina. Dia terus terbahak-bahak tanpa jeda. Tak heran pita suaranya mengeluh kehausan.

“Kenapa? Ini itu romantis. Bila ditanya agama kita apa, jangan menjawab Islam atau Kristen. Tetapi, Aderone! Adellina dan Ronald!” Ronald terkekeh dengan puas. Ide gilanya berhasil membuat kekasihnya juga ikut larut dalam sebuah drama parodi buatannya. “Tapi ingat, Aderone hanya untuk kita berdua. Jangan pernah sekali-kali berdakwah tentang Aderone!”

Mereka terpingkal lagi. Seolah tak ada habisnya. Tak akan berhenti. Hanya karena satu ide gila: Aderone.

“Nanti, bila aku akan melamar kamu, jangan bilang kepada orangtuamu, bahwa kita tidak seiman. Karena ada Aderone yang menjadi saksinya,” lanjut Ronald.

“Sip! Kitab Linald juga akan segera meluncur! Dengan ajaran-ajaran yang khusus dibuat hanya untuk dua orang pengikut, kita.”

Mereka saling melempar senyum. Kebahagiaan tidak akan pudar di antara mereka. Kebahagiaan muncul menggantikan masalah yang menggelimuti mereka. Beda iman.

Jemari-jemari Adellina terus menari dalam keyboard laptopnya. Sebuah kata-kata yang akan dirangkai untuk beberapa surah sudah muncul di otaknya dengan cemerlang.

Tiba-tiba jemarinya merasa kelu. Kaku. Berhenti seketika. Tidak ada suara ketikan. Semuanya hilang. Adellina mengernyitkan kening. Masih ada yang mengganjal.

“Tuhan untuk Aderone itu siapa?”

Sambutan sunyi yang memberikan jawaban.

***

Adellina muncul dari bilik kafe. Membanting pintunya dengan keras. Matanya memancarkan silau dan sangat membendung. Seperti ada yang ingin tumpah dari matanya.

“Maaf, telat.” Suara Adellina terdengar parau saat merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi di depan Ronald. Matanya menahan untuk mengatup. Karena sesuatu akan turun dengan derasnya.

“Tak apa, Del. Ada apa sampai kamu menyuruhku untuk datang ke kafe?” Ronald membenarkan posisi duduknya. Alisnya menaik dengan spontan. Telinganya telah dipersiapkan untuk mendengar sebuah jawaban.

Adellina menghela napas berat. Sampai-sampai endusannya dapat terdengar oleh Ronald. “Aku hanya ingin menyerahkan ini,”

Sebuah buku tebal melaju dengan perlahan ke hadapan Ronald. Tertera sebuah huruf yang bergabung disana: LINALD.

“Sudah selesai? Aku tak sabar ingin membacanya! Sungguh!” semangat Ronald menggebu-gebu. Bibirnya merekah dengan indah. Matanya tampak takjub melihat buku yang ada di tangannya.

Air mata beriak dalam ujung mata Adellina. Menuruni tebing pipinya dengan pelan. “Bukan itu, Nald. Bukan itu,”

Bola mata Ronald membesar. Ada sebuah jawaban yang mengapung dengan misteri. “A…Apa?”

“Hubungan kita harus berakhir disini, Nald,” Adellina terisak tangis. Intonasinya mulai kacau ditelan napasnya yang sesak. Air mata tak kunjung berhenti mengalir. “Ini konyol, Nald. Konyol. Sejauh apapun kita mengembangkan Aderone, sejauh apapun kita mengkhayal tentang masa depan kita, itu tak akan merubah satupun!”

Wajah Ronald menekuk heran. Tidak dapat merasakan apakah ini mimpi atau kenyataan. “Kamu bercanda, kan?”

“Orangtua aku tidak akan bisa mengerti! Orangtua aku tidak akan bisa menerima! Ini semua percuma, Ronald. Kita hanya akan dianggap gila!” Nada Adellina menekan pada ujung kalimat. Napasnya meletup tak beraturan. Semuanya hancur berantakan.

Adellina bangkit dari kursinya. Tak ada makanan dan minuman yang singgah untuk meja itu. Yang ada hanya sebuah tangis yang tertera jelas. “Terimakasih atas semua memori yang kamu berikan. Aku hanya bisa mengatakan… maaf,”

Adellina pergi meninggalkan Ronald yang masih ditemani beribu-ribu pertanyaan. Ronald hanya membeku dan merasa bisu. Hanya butir-butir air mata yang dapat menyatakan semua perasaannya saat itu.

***

RONES ayat 3:

Agama penuh cinta, dan sebuah cinta juga penuh agama. Karena jalinan cinta suatu saat akan memiliki sebuah hari akhir.Seperti agama.

Matanya menyapu isi kitab Linald yang dirancang Adellina. Namun itu hanya membuatnya jatuh semakin dalam pada lautan hina. Semuanya terungkap. Agama memang terjalin kuat dengan cinta.

Ayat yang terdapat pada surah Rones inilah yang sangat membekas. Meninggalkan sebuah jejak yang dilarang untuk diikuti. Dilarang untuk mencari tahu. Kiamat sudah terjadi dalam kehidupan Ronald. Kiamat terjadi tanpa ada tanda terompet sangkakala. Tak ada sebuah penanda. Semua terjadi secara mengagetkan.

Undangan pernikahan Adellina dengan Ahmad sudah sampai di tangannya. Menyentakkan hati yang sedang merana. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan. Semuanya sudah sampai pada stadium akhir.

Tak ada lagi cinta, tak ada lagi Aderone.

Ronald tersungkur dan menggabungkan tangannya menjadi satu: Menghadap salib.

Dia mengangguk pelan dan tampak yakin.

Karena sejauh apapun manusia berkelana pasti akan kembali kepada penciptanya.

Selesai

Senin, 06 Februari 2012

Menunggu Perceraian

Debu-debu segera merangsang hidungku. Tanpa mau tahu, bahwa aku sedang pilek. Aku hanya mengeluh kecil, dan menyapu pandangan ke seluruh pelosok ruangan berukuran kecil ini.

Kotor. Tak terurus. Sarang laba-laba.

Itulah yang pertama kali terlintas di otakku. Mungkin memang takdir sebuah gudang yang harus mengalah dengan ruangan-ruangan lain, karena ruangan ini sangat busuk. Ruangan ini seperti balon yang kau isi dengan kentutmu sendiri, lalu kau tancapkan jarum, dan menyebarlah aroma menjijikan.

Sebenarnya, aku benar-benar tak ada kemauan untuk masuk ke dalam ruangan ini. Tidak. Sama sekali tidak. Melainkan ayah yang menyuruhku untuk membersihkan gudang dan memilih barang apa yang masih layak pakai. 'Walaupun barang itu layak dan ada kenangan tentangnya, jangan ambil!' perintahnya.

Ayah dan aku akan pindah rumah. Dia bilang, dinding-dinding di rumah ini selalu berbicara dan mengingatkannya kepada ibu. Tak heran, sejak ibu dimakamkan, ayah selalu menangis.

Segera aku leburkan semua debu yang ada di sudut ruangan, mengganggu aktivitas sejumlah laba-laba yang sedang merajut, membuang buku-buku tua yang ditemani rayap, semuanya.

Hampir semua buku telah ditelan nafsu oleh rayap, kecuali satu kertas yang masih utuh. Jernih. Berkilau. Bersih. Semuanya. Seolah kertas itu adalah salah satu spesies zebra ditengah spesies unggas. Seperti orang gila di tengah-tengah kewarasan.

Aku mengernyit bingung. Apakah rayap bisa memilih mana yang pantas ditinggali? Mana yang harus dileburkan? Tanpa memperdulikan pertanyaan yang terus membendung, aku membuka kertas yang dilipat itu.

Sebuah barisan aksara-aksara indah tergores disana. Tulisan sambung yang segera menyergap mataku. Pusing. Aku mengatupkan mata sekali. Tintanya berwarna emas. Aku mengatupkan mata kedua kali. Benar-benar emas. Ada kertas bertinta emas yang selamat dari para rayap!

Anehnya, mataku seolah dipaksa untuk membaca. Ada sebuah medan magnet positif yang menarik medan 'negatif' mataku.

Kepada Maleo,
Putraku yang masih belia.

Apa kabar, Nak? Ibu menulis surat ini dalam waktu yang singkat, tapi begitu banyak arti yang tergores. Di tengah air mata yang tak bisa dibendung, banyak kesedihan yang memang harus diungkap. Duduklah yang manis, aku akan memberitahumu suatu berita yang bisa kau anggap sedih, ataupun tidak sama sekali.

Ibu belum pernah cerita kepadamu, kan? Apa yang terjadi sebelum aku dan ayahmu menikah? Bahwa tak ada sama sekali cinta di antara kita? Bahwa hanya ada paksaan yang membahana dalam hati kami masing-masing?

Ketahuilah, Maleo. Rencana ini sudah matang-matang kami persiapkan. Rencana ini sudah hadir dibenak kami masing-masing sejak duduk dipelaminan.

Kami. Akan. Menyelesaikan. Pernikahan. Kami. Secepatnya.

Aku akan bercerai dengan ayahmu saat kau mulai terjun ke dalam dunia yang benar-benar kau resapi, yang hanya kaulah yang pantas berada di dalamnya. Bahkan kau tak membutuhkan kami lagi, kau hanya butuh dirimu sendiri untuk menemanimu.

Aku menuliskan surat ini saat kau baru berusia dua tahun. Saat kau pergi memancing dengan ayahmu. Jadi surat ini, tak ada hal yang tersembunyi.

Tetapi bodohnya, rencana itu tak pernah berhasil. Belum gagal, namun memang belum terlaksana. Perceraian ini masih dalam rencana. Menunggumu untuk bisa bangkit sendiri.

Oh, ya. Hanya ada satu waktu yang membuatku cinta kepada ayahmu. Yaitu, saat menciptakanmu. Jadi, jangan salah sangka bahwa kau diciptakan tanpa cinta.

Ibumu,

Helena.

Aku terbahak dalam genangan air yang muncul di sudut mata. Tak ada yang lucu, tak ada kesedihan. Aku sendiri heran mengapa aku menangis dalam tawa.

Surat ini benar-benar surat yang terbodoh -yang pernah aku baca. Surat ini benar-benar ajaib. Bisa menebak tepat saat usia berapa aku membacanya. Ya, Ibu. Saat aku sudah meresapi dunia seperti yang kau tunggu-tunggu itu.

Tetapi, aku bisa tersenyum puas. Rencana itu tak pernah terlaksana! Perceraian itu tak ada dalam pernikahan kalian berdua! Kalian berhasil menyembunyikannya! Cinta kalian dipisahkan oleh maut seperti suami istri yang saling mencinta! Dan kalian benar-benar hebat bisa melalui 30 tahun tanpa cinta!

Aku menyeka air mata. Asal kau tahu ya, Bu.


...Ayah masih kehilangan sosok yang dia tidak cintai.

Selesai