Sabtu, 16 Februari 2013
Monolog Lelaki
Sabtu, 01 Desember 2012
Filateli
Sabtu, 10 November 2012
Monokrom
Sabtu, 19 Mei 2012
Serenade
Oksigen mengepungku bangga
Menjerat hidungku hangat
Menerobos masuk tak mau tahu
Dia tak mau peduli
Dia hanya tahu dia suci
Untuk membisikkan kata:
Dia merasakan apa yang engkau rasa
Lagi
Awan berarak-arakan di langit yang terlentang
Merutuk-rutuk dalam dada langit yang amat lapang
Menghiasi setiap letupan jantung jika langit kelam
Siapa sangka petir juga berbahasa
Menyampaikan salam:
Kalian adalah kelinci yang pemalu
Lagi
Air mendamba di ujung daun
Bereaksi dalam segelintir heran
Mengapa gutasi selalu ada di sampingnya
Membuat air selalu merangkak hingga ingin terjatuh
Menjelma menjadi tetesan kecil
Hingga berkecipak:
Kalian, bagai daun dan gutasi
Lagi
Desah udara meniupkan namanya
Awan melingkarkan wajahnya
Air mengungkap semua pertanda
Kita semua adalah serenade cinta
Berkolaborasi menyampaikan rindu
Diiringi bisikan Tuhan yang memimpin:
Kalian mendengar bisikan yang sama
Sabtu, 12 Mei 2012
Kopi
Ia merogoh sakunya, melirik sedikit layar teleponnya:
Sigap, ia memasukkan lagi teleponnya ke sakunya dalam. Berusaha bertingkah normal lagi di depan istrinya dan anaknya. Berharap istrinya tidak berprasangka apa-apa. Apalagi Aluna, anaknya yang suka bertingkah macam-macam. Bisa-bisa merusak acara makan malam yang jarang-jarang dilakukan ini.
Teleponnya bergetar lagi.
Ia merogoh sakunya, melirik sedikit layar teleponnya:
Dialog dalam Danau
Siapa manusia yang paling sabar di dunia?
Masihkah kau menganggap dia adalah kamu?
Kau orang yang bodoh. Tidakkah kau bosan? Kau terlalu lama menunggu untuknya!
Hei, dia mencintai makhluk lain! Tidakkah kau sadar? Kau hanya sekedar temannya, tak lebih! Hilangkan perasaan itu jauh-jauh!
Aku tak sanggup melihatmu terus bertahan. Aku tak sanggup cinta menghabiskan kebahagiaanmu, hingga tinggal menyisakan kesedihan mendalam. Haruskah aku menghilangkan cinta untukmu?
Kamis, 16 Februari 2012
Cerita Kecil Ashton
***
"Ellie,Tunggu!"
"Apa yang kau mau Andre?"
"Aku ingin bicara sebentar ! Jadi selama ini..."
"Selama ini apa? cepatlah, aku tak punya banyak waktu...!"
"Aku... Ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu.."
"Maksudmu apa?"
"Emmm..."
"Jangan buang-buang waktuku Andre!"
"Ok, Aku.."
Aku mematikan tv, lagi-lagi adikku menonton acara yang tak patut untuk ditonton dia, sebagai anak yang masih dini.
"Ah Kakak apa-apaan sih! menggangu saja!" protes adikku, Ashton.
"Kau yang apa-apa! acara tadi tak patut untukmu!" jawabku puas.
"Apa salahnya? aku sudah kelas 6 SD! Aku sudah masuk masa pubertas,maklumilah!" jawabnya.
Aku tak kehilangan akal.
"Besok kau try out, lebih baik kau belajar daripada menonton acara ini!" jelasku.
"AAAAH! Dasar kakak yang tak bisa mengerti adiknya!"
Adikku meninggalkan ruang tv, dan masuk ke kamarnya. Aku menghela napas, Huuh, dasar anak zaman sekarang, ujarku dalam hati.
Oh iya! namaku Jack Robinson, panggil ku cukup dengan 4 huruf saja, Jack!
Setelah kalian mendengar kejadian tadi, kalian bisa menggambarkan sifat adikku yang satu ini?
Ok, sebaiknya aku ceritakan ya!
Antony Ashton namanya. Akhir-akhir ini atau sebut sajalah semenjak dia menduduki bangku kelas 6! Sifatnya berubah drastis! dia selalu menuntut bahwa dia sudah memasuki masa pubertas, dan bisa melakukan apa saja!
Aku berkali-kali mengingatkannya, dia selalu mengelak. Berbagai-bagai alasan selalu dilontarkannya.
Perasaan saat aku kelas 6 aku tak begini.
Apalagi, Ashton sedang duduk di kelas 6, dia sudah banyak Try Out dan ulangan harian. Apalagi nanti akan ada UASBN yang akan dihadapinya, tapi dia malah sibuk dengan tayangan per-episode yang tayang rutin setiap hari pukul 19.00, ah entahlah dia yang butuh nilai, bukan aku.
***
Keesokan Harinya...
Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 19.00 aku menutup buku biologi, dan menuju ruang tv dan memastikan apakah adikku yang satu ini, Ashton sedang menonton film percintaan atau belajar.
Kulihat bangku tv kosong, aku bersyukur dia sedang ada di kamarnya.
Aku pun menuju ke kamarnya. Tanpa basa-basi aku langsung masuk. Ashton terkaget. Dia terlihat belajar, tapi entah kenapa saat aku masuk dia langsung buru-buru merapikan buku tulisnya.
"Kakak, kalau mau masuk kamar seseorang ketok-ketok dulu lah!" serunya
"Oh, maaf, kau sedang mengerjakan PR?" tanyaku.
"Ya, kak buatkan aku Milo hangat dong!" pintanya.
"Adikku tersayang, kau mempunyai kaki, kau bisa menggunakannya dengan baik kan?"
"Sekali-sekali kak."
"Syukuri kakimu dik,"
Ashton menghela napas, dia beranjak dari kursinya, dan menuju ke dapur. Aku melihat tugas nya-Ashton, ya benar sih, tugas Bahasa Indonesia, tugas membuat puisi.
Aku kaget, mataku terbelalak. Adikku yang satu ini membuat-puisi-cinta-kepada-seseorang-bernama Anna!
Adikku masuk membawa gelas milo hangatnya, matanya langsung melotot saat aku memegang dan melihat buku tugas bahasa indonesia-nya. Dia menaruh gelas milonya di meja, dan merebut buku tugas bahasa indonesianya dariku.
"ARGH! KAKAK!" serunya.
"Oh-oh. Ternyata adikku yang satu ini sedang jatuh cinta, toh." ujarku.
"Ya, Wajarlah!" jawabnya.
"Eh, kalau boleh komentar, puisimu bagus juga, sungguh aku baru melihat kau sepuitis ini dik." ujarku.
"Ah apa sih kau ini!" komentarnya.
"Hmm, sepertinya kau sangat mengkhayati puisi itu. Apa yang kau suka darinya?" tanyaku.
"Kau tak perlu tahu, Kau ini ikut campur urusan orang lain saja! Ini urusanku!" protesnya.
"Oh, baiklah jika itu yang kau mau." aku pun meninggalkan kamar Ashton. Ashton terlihat masih memegang erat buku tugasnya.
Aku hanya tersenyum di balik pintu melihat kelakuan adikku yang satu ini.
***
Muka adikku terlihat kusam saat pulang sekolah, dia sedikit cemberut, hatiku bertanya-tanya ada apa dengan adikku yang satu ini?
"Adikku tersayang, ada apa dengan harimu ini?" tanyaku.
"Sial, tadi, Anna di depan ku sedang pacaran dengan Ryan!"
Wow! aku terkaget-kaget, adikku pertama kali curhat kepadaku!
"Hah? lalu puisi indahmu yang sudah diukir dengan bagus?" tanyaku menggodanya.
"Sudah menjadi serpihan-serpihan kertas." jawabnya.
Aku sedikit terkikik.
"Begini, kan sudah kubilang, cinta itu akan menjerumuskanmu dik, ya tak selamanya sih. Seperti kakakmu ini, jujur aku pernah suka kepada seorang perempuan, tapi setelah aku melihat perempuan-yang-aku-suka sedang memasukkan tangan ke hidungnya, aku langsung berhenti menyukainya." jelasku panjang lebar.
Adikku hanya mengangguk-angguk.
"Begini, kan kau sudah kelas 6, fokuslah dulu kepada ujianmu, jangan mengurusi persoalan cinta." nasehatku
Lagi-lagi dia mengangguk, aku tersenyum, semoga ini menjadi pelajaran baginya.
***
Aku melihat kalender kegiatan Ashton, dan terlihat lingkaran merah di agenda-nya. Ternyata, besok dia akan menghadapi UASBN. Aku membuka pintu kamar Ashton.
Terlihat dia sedang asik dengan pacar barunya, yaitu buku paket. Aku tersenyum. Kini, aku bangga dengan Ashton dia sudah melupakan sedikit demi sedikit tentang persoalan cinta, dan lebih fokus ke pelajaran.
"Emm.. Ashton, maaf mengganggu belajarmu, hanya ingin nanya, bagaimana kabar Anna dan Ryan?" tanyaku.
"Mereka semakin akrab, malah katanya hari ini mereka sedang jalan-jalan." jawabnya.
"Jalan-jalan? mereka tak belajar? padahal kan esok UASBN?" tanyaku lagi.
"Ya, begitulah mereka."
"Yasudah, kamu lanjutkan belajarnya, semoga besok sukses ya!" doaku kepada Ashton.
"Makasih kak."
Aku beranjak ke kamarku, dan bersyukur kepada Allah atas berubahnya adikku ini, Antony Ashton.
***
Senyum terpancar dari wajah adikku, Ashton. Dia menjadi lulusan terbaik tahun ini, mendapat nilai yang baik. Sebuah medali terlihat di lehernya.
Mataku berkeliaran, dan akhirnya tertuju kepada seorang anak laki-laki dan perempuan di sudut ruangan.
Ya, Anna dan Ryan, mereka tidak lulus karena sibuk dengan cinta. Anna masih menangis di pangkuan ibunya. Ibunya terus menenangkan Anna. Dan tiba-tiba...
POK!
Seseorang menepuk pundakku. Oh, Ashton!
"Kakakku yang paling baik, makasih atas semua nasihatmu selama ini kak. Kalau tak ada kakak, aku tak akan bisa seperti ini! Mungkin aku akan seperti Anna dan Ryan! Sekali lagi, makasih ya kak!" jelas Ashton panjang lebar.
Aku tersenyum.
"Iya,iya. Selamat ya dik, tuntutlah ilmu terus ya!" nasehatku.
Tiba-tiba seorang fotografer bicara kepada Ashton.
"Ini Ashton kan? wah selamat ya! foto dulu deh!" ujar fotografer.
Ashton menarik tanganku, dan merangkulnya.
Cahaya blitz menghampiri mataku, aku sedikit silau. Tapi aku mencoba tersenyum.
Ini pengalaman yang Ashton akan abadikan.
Oh iya ada pesan dari Ashton untuk kalian yang membaca notes ini,
"Nikmati masa mudamu dengan hal-hal yang berguna! Jangan membuangnya dengan sia-sia! Ini penentu buat masa tua kita loh!"
Selesai
Mohamad Sofwan Rizky
Jakarta,2 Oktober,2010.
***
Pesan penulis kini: tertawalah melihat EYD yang amburadul.
Selasa, 14 Februari 2012
Aderone
“Nama agamanya apa?”
“Aderone,”
“Umatnya berapa banyak?”
“Dua orang,”
“Kitabnya?”
“Linald,”
Tawa melepas dan beradu dengan udara. Mereka tertawa karena dialog yang terus diulang-ulang. Dialog yang akan menghantam telinga mereka dengan konyolnya suatu saat nanti. Walau mereka tak tahu, bila diketahui para ulama, pendeta, biksu dan lainnya akan segera dihajar habis-habisan.
“Hahaha, ini konyol banget!” sunggingan senyum belum bisa melarikan diri dari bibir manis Adellina. Dia terus terbahak-bahak tanpa jeda. Tak heran pita suaranya mengeluh kehausan.
“Kenapa? Ini itu romantis. Bila ditanya agama kita apa, jangan menjawab Islam atau Kristen. Tetapi, Aderone! Adellina dan Ronald!” Ronald terkekeh dengan puas. Ide gilanya berhasil membuat kekasihnya juga ikut larut dalam sebuah drama parodi buatannya. “Tapi ingat, Aderone hanya untuk kita berdua. Jangan pernah sekali-kali berdakwah tentang Aderone!”
Mereka terpingkal lagi. Seolah tak ada habisnya. Tak akan berhenti. Hanya karena satu ide gila: Aderone.
“Nanti, bila aku akan melamar kamu, jangan bilang kepada orangtuamu, bahwa kita tidak seiman. Karena ada Aderone yang menjadi saksinya,” lanjut Ronald.
“Sip! Kitab Linald juga akan segera meluncur! Dengan ajaran-ajaran yang khusus dibuat hanya untuk dua orang pengikut, kita.”
Mereka saling melempar senyum. Kebahagiaan tidak akan pudar di antara mereka. Kebahagiaan muncul menggantikan masalah yang menggelimuti mereka. Beda iman.
Jemari-jemari Adellina terus menari dalam keyboard laptopnya. Sebuah kata-kata yang akan dirangkai untuk beberapa surah sudah muncul di otaknya dengan cemerlang.
Tiba-tiba jemarinya merasa kelu. Kaku. Berhenti seketika. Tidak ada suara ketikan. Semuanya hilang. Adellina mengernyitkan kening. Masih ada yang mengganjal.
“Tuhan untuk Aderone itu siapa?”
Sambutan sunyi yang memberikan jawaban.
***
Adellina muncul dari bilik kafe. Membanting pintunya dengan keras. Matanya memancarkan silau dan sangat membendung. Seperti ada yang ingin tumpah dari matanya.
“Maaf, telat.” Suara Adellina terdengar parau saat merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi di depan Ronald. Matanya menahan untuk mengatup. Karena sesuatu akan turun dengan derasnya.
“Tak apa, Del. Ada apa sampai kamu menyuruhku untuk datang ke kafe?” Ronald membenarkan posisi duduknya. Alisnya menaik dengan spontan. Telinganya telah dipersiapkan untuk mendengar sebuah jawaban.
Adellina menghela napas berat. Sampai-sampai endusannya dapat terdengar oleh Ronald. “Aku hanya ingin menyerahkan ini,”
Sebuah buku tebal melaju dengan perlahan ke hadapan Ronald. Tertera sebuah huruf yang bergabung disana: LINALD.
“Sudah selesai? Aku tak sabar ingin membacanya! Sungguh!” semangat Ronald menggebu-gebu. Bibirnya merekah dengan indah. Matanya tampak takjub melihat buku yang ada di tangannya.
Air mata beriak dalam ujung mata Adellina. Menuruni tebing pipinya dengan pelan. “Bukan itu, Nald. Bukan itu,”
Bola mata Ronald membesar. Ada sebuah jawaban yang mengapung dengan misteri. “A…Apa?”
“Hubungan kita harus berakhir disini, Nald,” Adellina terisak tangis. Intonasinya mulai kacau ditelan napasnya yang sesak. Air mata tak kunjung berhenti mengalir. “Ini konyol, Nald. Konyol. Sejauh apapun kita mengembangkan Aderone, sejauh apapun kita mengkhayal tentang masa depan kita, itu tak akan merubah satupun!”
Wajah Ronald menekuk heran. Tidak dapat merasakan apakah ini mimpi atau kenyataan. “Kamu bercanda, kan?”
“Orangtua aku tidak akan bisa mengerti! Orangtua aku tidak akan bisa menerima! Ini semua percuma, Ronald. Kita hanya akan dianggap gila!” Nada Adellina menekan pada ujung kalimat. Napasnya meletup tak beraturan. Semuanya hancur berantakan.
Adellina bangkit dari kursinya. Tak ada makanan dan minuman yang singgah untuk meja itu. Yang ada hanya sebuah tangis yang tertera jelas. “Terimakasih atas semua memori yang kamu berikan. Aku hanya bisa mengatakan… maaf,”
Adellina pergi meninggalkan Ronald yang masih ditemani beribu-ribu pertanyaan. Ronald hanya membeku dan merasa bisu. Hanya butir-butir air mata yang dapat menyatakan semua perasaannya saat itu.
***
RONES ayat 3:
Agama penuh cinta, dan sebuah cinta juga penuh agama. Karena jalinan cinta suatu saat akan memiliki sebuah hari akhir.Seperti agama.
Matanya menyapu isi kitab Linald yang dirancang Adellina. Namun itu hanya membuatnya jatuh semakin dalam pada lautan hina. Semuanya terungkap. Agama memang terjalin kuat dengan cinta.
Ayat yang terdapat pada surah Rones inilah yang sangat membekas. Meninggalkan sebuah jejak yang dilarang untuk diikuti. Dilarang untuk mencari tahu. Kiamat sudah terjadi dalam kehidupan Ronald. Kiamat terjadi tanpa ada tanda terompet sangkakala. Tak ada sebuah penanda. Semua terjadi secara mengagetkan.
Undangan pernikahan Adellina dengan Ahmad sudah sampai di tangannya. Menyentakkan hati yang sedang merana. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan. Semuanya sudah sampai pada stadium akhir.
Tak ada lagi cinta, tak ada lagi Aderone.
Ronald tersungkur dan menggabungkan tangannya menjadi satu: Menghadap salib.
Dia mengangguk pelan dan tampak yakin.
Karena sejauh apapun manusia berkelana pasti akan kembali kepada penciptanya.
Selesai
Senin, 06 Februari 2012
Menunggu Perceraian
Kotor. Tak terurus. Sarang laba-laba.
Itulah yang pertama kali terlintas di otakku. Mungkin memang takdir sebuah gudang yang harus mengalah dengan ruangan-ruangan lain, karena ruangan ini sangat busuk. Ruangan ini seperti balon yang kau isi dengan kentutmu sendiri, lalu kau tancapkan jarum, dan menyebarlah aroma menjijikan.
Sebenarnya, aku benar-benar tak ada kemauan untuk masuk ke dalam ruangan ini. Tidak. Sama sekali tidak. Melainkan ayah yang menyuruhku untuk membersihkan gudang dan memilih barang apa yang masih layak pakai. 'Walaupun barang itu layak dan ada kenangan tentangnya, jangan ambil!' perintahnya.
Ayah dan aku akan pindah rumah. Dia bilang, dinding-dinding di rumah ini selalu berbicara dan mengingatkannya kepada ibu. Tak heran, sejak ibu dimakamkan, ayah selalu menangis.
Segera aku leburkan semua debu yang ada di sudut ruangan, mengganggu aktivitas sejumlah laba-laba yang sedang merajut, membuang buku-buku tua yang ditemani rayap, semuanya.
Hampir semua buku telah ditelan nafsu oleh rayap, kecuali satu kertas yang masih utuh. Jernih. Berkilau. Bersih. Semuanya. Seolah kertas itu adalah salah satu spesies zebra ditengah spesies unggas. Seperti orang gila di tengah-tengah kewarasan.
Aku mengernyit bingung. Apakah rayap bisa memilih mana yang pantas ditinggali? Mana yang harus dileburkan? Tanpa memperdulikan pertanyaan yang terus membendung, aku membuka kertas yang dilipat itu.
Sebuah barisan aksara-aksara indah tergores disana. Tulisan sambung yang segera menyergap mataku. Pusing. Aku mengatupkan mata sekali. Tintanya berwarna emas. Aku mengatupkan mata kedua kali. Benar-benar emas. Ada kertas bertinta emas yang selamat dari para rayap!
Anehnya, mataku seolah dipaksa untuk membaca. Ada sebuah medan magnet positif yang menarik medan 'negatif' mataku.
Kepada Maleo,
Putraku yang masih belia.
Apa kabar, Nak? Ibu menulis surat ini dalam waktu yang singkat, tapi begitu banyak arti yang tergores. Di tengah air mata yang tak bisa dibendung, banyak kesedihan yang memang harus diungkap. Duduklah yang manis, aku akan memberitahumu suatu berita yang bisa kau anggap sedih, ataupun tidak sama sekali.
Ibu belum pernah cerita kepadamu, kan? Apa yang terjadi sebelum aku dan ayahmu menikah? Bahwa tak ada sama sekali cinta di antara kita? Bahwa hanya ada paksaan yang membahana dalam hati kami masing-masing?
Ketahuilah, Maleo. Rencana ini sudah matang-matang kami persiapkan. Rencana ini sudah hadir dibenak kami masing-masing sejak duduk dipelaminan.
Kami. Akan. Menyelesaikan. Pernikahan. Kami. Secepatnya.
Aku akan bercerai dengan ayahmu saat kau mulai terjun ke dalam dunia yang benar-benar kau resapi, yang hanya kaulah yang pantas berada di dalamnya. Bahkan kau tak membutuhkan kami lagi, kau hanya butuh dirimu sendiri untuk menemanimu.
Aku menuliskan surat ini saat kau baru berusia dua tahun. Saat kau pergi memancing dengan ayahmu. Jadi surat ini, tak ada hal yang tersembunyi.
Tetapi bodohnya, rencana itu tak pernah berhasil. Belum gagal, namun memang belum terlaksana. Perceraian ini masih dalam rencana. Menunggumu untuk bisa bangkit sendiri.
Oh, ya. Hanya ada satu waktu yang membuatku cinta kepada ayahmu. Yaitu, saat menciptakanmu. Jadi, jangan salah sangka bahwa kau diciptakan tanpa cinta.
Ibumu,
Helena.
Aku terbahak dalam genangan air yang muncul di sudut mata. Tak ada yang lucu, tak ada kesedihan. Aku sendiri heran mengapa aku menangis dalam tawa.
Surat ini benar-benar surat yang terbodoh -yang pernah aku baca. Surat ini benar-benar ajaib. Bisa menebak tepat saat usia berapa aku membacanya. Ya, Ibu. Saat aku sudah meresapi dunia seperti yang kau tunggu-tunggu itu.
Tetapi, aku bisa tersenyum puas. Rencana itu tak pernah terlaksana! Perceraian itu tak ada dalam pernikahan kalian berdua! Kalian berhasil menyembunyikannya! Cinta kalian dipisahkan oleh maut seperti suami istri yang saling mencinta! Dan kalian benar-benar hebat bisa melalui 30 tahun tanpa cinta!
Aku menyeka air mata. Asal kau tahu ya, Bu.
...Ayah masih kehilangan sosok yang dia tidak cintai.





