Kamis, 02 Agustus 2012
Tangis
Minggu, 15 Juli 2012
Malam
Sabtu, 19 Mei 2012
Serenade
Oksigen mengepungku bangga
Menjerat hidungku hangat
Menerobos masuk tak mau tahu
Dia tak mau peduli
Dia hanya tahu dia suci
Untuk membisikkan kata:
Dia merasakan apa yang engkau rasa
Lagi
Awan berarak-arakan di langit yang terlentang
Merutuk-rutuk dalam dada langit yang amat lapang
Menghiasi setiap letupan jantung jika langit kelam
Siapa sangka petir juga berbahasa
Menyampaikan salam:
Kalian adalah kelinci yang pemalu
Lagi
Air mendamba di ujung daun
Bereaksi dalam segelintir heran
Mengapa gutasi selalu ada di sampingnya
Membuat air selalu merangkak hingga ingin terjatuh
Menjelma menjadi tetesan kecil
Hingga berkecipak:
Kalian, bagai daun dan gutasi
Lagi
Desah udara meniupkan namanya
Awan melingkarkan wajahnya
Air mengungkap semua pertanda
Kita semua adalah serenade cinta
Berkolaborasi menyampaikan rindu
Diiringi bisikan Tuhan yang memimpin:
Kalian mendengar bisikan yang sama
Kamis, 19 April 2012
Matahari
M A T A H A R I
Bumi tak sanggup untuk menolak
Berkutat dalam rotasi yang tak dapat dielakkan
Untuk membuyuti segugus bintang langka
Hingga larut dalam seduhan panasnya
Manusia tak lagi bisa berdusta
Tersengat hantaran panas tak terperi
Bola mata terbius untuk mengerjap
Bibir merapal untaian pujian alamiah
Hingga mereka tahu
Mereka adalah sebuah titik kecil
di mata Sang Surya
Bagai sebuah lentera yang kekal
dalam gelapnya kabut hitam
Menyorot bumi dengan sinar terang
Menghapuskan gelap tanpa harus melenyapkan
Menjadi penyembuh yang handal
dalam menghasilkan butiran air di pelipis
Teruslah engkau membungkus bumi
Merengkuh kehidupan manusia
Memeluk hangat gundah para manusia
Dan menunjukkan keagunganNya
Karena saat bertemu Matahari
Semua terasa begitu dekat
Mengabaikan batas waktu dan dimensi
Seperti sebuah hati
yang sedang bercengkrama dengan Sang Pencipta
(Mohamad Sofwan Rizky, 2012)
Jumat, 02 Maret 2012
Petir

Bagaikan parade menyorotkan atraksi
Menerangi sejumlah titik yang ia mau
Menggugah para makhluk di muka bumi
Membuatnya bersorak sorai gembira
Tak terkendali
Dia datang
Memecah keserakahan para saksi
Gemertaknya berkoar-koar gratis
Tanpa ada perjanjian kompromi
untuk sedikit dispensasi
Dia datang
Menjalankan sebuah misi terang-terangan
Tanpa harus strategi dan taktik belaka
Untuk menerjang para musuh
yang tak percaya kepada tuannya
Dia datang
Dengan mempertunjukkan keperkasaannya
dehaman kuat panjang
setruman ajaib
yang memonopoli permukaan
Dia datang
Terbahak puas melihat manusia
Terpojok dalam segelintir rasa takut
menutup telinga
menyebut nama tuannya
Dia pergi
dengan tugas terkendali
Gelakan tawa pasti terdengar
Kepuasan mengelilinginya pasti
Karena dia sebuah petunjuk jelas bagi para makhluk
bahwa ada yang akan menyambar lebih dahsyat
dibandingkan dirinya
-yang sebatas serenade kecil
bertabur jari
namun membuat telinga memekik takjub
...Tuannya petir.
Jumat, 28 Oktober 2011
Lupa
Dan aku tak sempat melihatnya
Tunggu, apa itu?
Mereka pun pergi. Jauh sekali.
Aku belum sempat mengetahui apapun
Apakah kamu tahu?
Apakah kamu sempat melihat mereka?
Apakah kamu sama sepertiku?
Otakku berusaha mengingat
Walaupun hanya sebatas siluet
yang bermain riang
Sejumlah kata bergabung dengan sejenis lainnya
Mencoba merangkai sebuah kalimat
yang semakin mempersulit diriku
Dan ya, aku memang lupa.


