Halaman

Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Tangis


 Gambar: Muffintop04.DeviantArt

Matamu mulai mengembung
Rahangmu mulai mengeras
Segelintir pahit menohok lidahmu dari belakang
Kau bahkan tak sanggup lagi menolak
Kenangan-kenangan indah yang bertaburan, begitu memesonakan indramu
Kau ingin takjub, tetapi tak bisa
Kau hanya ingin berkorban demi pedih, yang ingin menyayat-nyayat tubuhmu dengan indahnya

Matamu mulai beriak, hingga aku bisa bercermin di sana
Bibirmu mengatup rapat-rapat
Kau hanya ingin merangkul celotehan hatimu erat-erat
Saling mengelus dada, saling menempuh derita
Dan pada detik yang membeku indah, kau akhirnya tersadar
Bahwa ada manusia yang rela mengenyam pahit dengan manis

Air matamu mulai menggantung malu-malu
Ingin jatuh, tetapi takut
Celetukan-celetukan hatimulah yang saat itu menopang butir air matamu
Kau ingin ambruk, tetapi berdiri saja terpuruk
Seluruh tubuhmu mulai penuh dengan memori-memori indah tak terelakkan
Sel-sel tubuhmu bergetar, goyah dengan memori indah yang tak akan bisa diindahkan lagi
Pada detik itu, kau merasakan sebuah getar yang menyelinap halus
Bahwa tangis, adalah rempah-rempah memori yang terkikis oleh masa

Hingga saatnya, aku pun bangkit berdiri
Kau benar-benar rubuh, menatapku nanar seolah sungguh
Kau jatuh dalam dekapanku, dengan kenangan pahit yang berceceran berantakan di wajahmu

Air matamu akhirnya pecah, melelehi wajahmu pasrah
Kau menggigit bibir, merasakan runyam yang mengiris-ngiris tubuhmu ngilu
Pipimu memerah, seperti ditampar oleh rayuan indah bertubi-tubi

Aku pun tergidik. Dalam kedua mataku, aku melihat segalanya

Sesak napasmu, adalah wajahnya yang menancap paru-parumu lama
Tangis indahmu, adalah butir-butir katanya yang sudah membendung lama dalam sel darahmu
Gigilan tubuhmu, adalah sejuk namanya yang sudah membuatmu beku sekian lama
Hingga aku pun melihat,


...Senyummu, yang membuktikan bahwa arus waktu tak pernah mengalir sia-sia
Dan satu hal yang membuatku terlonjak, bahwa:
Satu ibarat yang sama dalam hidupmu, bahwa cengirmu adalah tangismu

Kini, aku yang menangis
Jatuh pada jurang yang dalam, mengais-ngais hampa teramat pelam
Aku ikut merasakan bagaimana indah tak selamanya indah
Bagaimana kalap yang berpura-pura lelap
Bagaimana dusta yang bersembunyi dalam cinta

Dan, aku mengaku kalah
Kau seharusnya bahagia dalam tangismu
Ya, bahagia

Karena asal kau tahu
Aku, adalah manusia yang tak sanggup melebarkan senyum dalam prosesi tangis-menangis

Minggu, 15 Juli 2012

Malam



Saat aku bermimpi di tengah malam
Meresap menjadi ruh sebuah bintang
Menghias lukisan gulita yang lapang
Merindu terhadap kumpulan kunang-kunang

Jati diriku terpecah menjadi serpihan bintang. Menyebar berantakan, tak peduli adanya peta. Aku hanyalah sebuah hiburan di tengah deru tangis Sang Malam. Aku tak peduli jiwaku tak utuh kembali. Tugasku bukan itu. Malam tidak menginginkan itu.

Matahari bersembunyi di balik kelam
Berkhianat terhadap Sang Malam
Mengecup selingkuhannya dengan dalam
Meninggalkan rindu yang teramat buram

Mataku menggembung mendengar celotehan Sang Malam. Reaksi hasrat dan rindu tampak dari dirinya yang selalu gelap seolah ingin melenyapkan. Melahap segala sinar yang ada, mengingat jati dirinya yang sedang kalap.

Ia tampak tak mau malu oleh eksistensinya saat terang
Tak mau mencicipi bibir sebuah gulita
Dirinya selalu takut
Dia tak akan bisa lagi berpendar
Dia takut
Matahari tak lagi bisa menemani

Malam ingin seperti lentera
Menerangi gelap hingga terlena
Menemani manusia yang sedang merana
Menjelma menjadi lebih dari satu warna

Aku mengangguk. Terus mengibaskan sinar. Mungkin ini sebabnya mengapa bulan selalu ada di samping Malam. Mengapa bulan terkadang terlihat seluruhnya, separuh atau hanya sedikit.
Karena Bulan tak sombong
Ia setia dalam kerendahan dirinya
Ia rela menjadi dada untuk Malam yang sedang sendu
Aku tersenyum. Tak sia-sia mimpiku mengubahku menjadi bintang. Setidaknya untuk malam ini. Menemani bulir mata Malam,
Yang merindukan kasih Sang Surya

Sabtu, 19 Mei 2012

Serenade

Lagi
Oksigen mengepungku bangga
Menjerat hidungku hangat
Menerobos masuk tak mau tahu
Dia tak mau peduli
Dia hanya tahu dia suci
Untuk membisikkan kata:
Dia merasakan apa yang engkau rasa

Lagi
Awan berarak-arakan di langit yang terlentang
Merutuk-rutuk dalam dada langit yang amat lapang
Menghiasi setiap letupan jantung jika langit kelam
Siapa sangka petir juga berbahasa
Menyampaikan salam:
Kalian adalah kelinci yang pemalu

Lagi
Air mendamba di ujung daun
Bereaksi dalam segelintir heran
Mengapa gutasi selalu ada di sampingnya
Membuat air selalu merangkak hingga ingin terjatuh
Menjelma menjadi tetesan kecil
Hingga berkecipak:
Kalian, bagai daun dan gutasi

Lagi
Desah udara meniupkan namanya
Awan melingkarkan wajahnya
Air mengungkap semua pertanda
Kita semua adalah serenade cinta
Berkolaborasi menyampaikan rindu
Diiringi bisikan Tuhan yang memimpin:
 Kalian mendengar bisikan yang sama


Kamis, 19 April 2012

Matahari

Ya! Sajak ini saya tulis untuk tugas sekolah, di mana kami diperintahkan membuat dua puisi, salahsatunya adalah tentang keindahan alam. Awalanya, ingin mengutip puisi Petir yang telah saya buat sebelumnya, tetapi ide-ide baru menolaknya mentah-mentah. Jadi, ini puisi barunya! :D

***

M A T A H A R I

Bumi tak sanggup untuk menolak

Berkutat dalam rotasi yang tak dapat dielakkan

Untuk membuyuti segugus bintang langka

Hingga larut dalam seduhan panasnya

Manusia tak lagi bisa berdusta

Tersengat hantaran panas tak terperi

Bola mata terbius untuk mengerjap

Bibir merapal untaian pujian alamiah

Hingga mereka tahu

Mereka adalah sebuah titik kecil

di mata Sang Surya

Bagai sebuah lentera yang kekal

dalam gelapnya kabut hitam

Menyorot bumi dengan sinar terang

Menghapuskan gelap tanpa harus melenyapkan

Menjadi penyembuh yang handal

dalam menghasilkan butiran air di pelipis

Teruslah engkau membungkus bumi

Merengkuh kehidupan manusia

Memeluk hangat gundah para manusia

Dan menunjukkan keagunganNya

Karena saat bertemu Matahari

Semua terasa begitu dekat

Mengabaikan batas waktu dan dimensi

Seperti sebuah hati

yang sedang bercengkrama dengan Sang Pencipta


(Mohamad Sofwan Rizky, 2012)

Jumat, 02 Maret 2012

Petir


Bagaikan parade menyorotkan atraksi
Menerangi sejumlah titik yang ia mau
Menggugah para makhluk di muka bumi
Membuatnya bersorak sorai gembira
Tak terkendali

Dia datang
Memecah keserakahan para saksi
Gemertaknya berkoar-koar gratis
Tanpa ada perjanjian kompromi
untuk sedikit dispensasi

Dia datang
Menjalankan sebuah misi terang-terangan
Tanpa harus strategi dan taktik belaka
Untuk menerjang para musuh
yang tak percaya kepada tuannya

Dia datang
Dengan mempertunjukkan keperkasaannya
dehaman kuat panjang
setruman ajaib
yang memonopoli permukaan

Dia datang
Terbahak puas melihat manusia
Terpojok dalam segelintir rasa takut
menutup telinga
menyebut nama tuannya

Dia pergi
dengan tugas terkendali
Gelakan tawa pasti terdengar
Kepuasan mengelilinginya pasti

Karena dia sebuah petunjuk jelas bagi para makhluk
bahwa ada yang akan menyambar lebih dahsyat
dibandingkan dirinya

-yang sebatas serenade kecil
bertabur jari
namun membuat telinga memekik takjub


...Tuannya petir.

Jumat, 28 Oktober 2011

Lupa

Sejumlah kalimat melewati otakku
Dan aku tak sempat melihatnya
Tunggu, apa itu?
Mereka pun pergi. Jauh sekali.

Aku belum sempat mengetahui apapun
Apakah kamu tahu?
Apakah kamu sempat melihat mereka?
Apakah kamu sama sepertiku?

Otakku berusaha mengingat
Walaupun hanya sebatas siluet
yang bermain riang
Sejumlah kata bergabung dengan sejenis lainnya
Mencoba merangkai sebuah kalimat
yang semakin mempersulit diriku

Dan ya, aku memang lupa.