Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Reuni

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia Ke-67!

Khusus hari ini, saya menulis sebuah kisah kecil. Mendadak, sih, tetapi senang saja bisa menulis cerita untuk Indonesia. :D Walau terlalu panjang, semoga tetap bisa dinikmati.

Selamat membaca! ;D

***
17 Agustus 2012

Dalam satu ruangan yang lengang, mereka masing-masing beriak tenang. Ada satu yang termangu di depan jendela, ada yang mengetik, ada juga yang sedang mengusutkan kening saat melihat Koran hari itu. Dirgahayu Indonesia Ke- 67.

Kartini menyengir santai, walau hatinya terasa terbahak puas. Indonesia masih hidup? “Kawan, Indonesia hari ini berulang tahun!”

Jemari Cut Dien berhenti bergerak. Mungkin, ia tersentak. Bersikap kalem, membenamkan matanya yang terbelalak. Ia memutar punggung, bertatap mata dengan Kartini. “Indonesia berulang tahun?”

Pattimura yang sedang duduk termenung pun terlonjak. “Benarkah? Indonesia masih bertahan?”

Kartini mengangguk lemas, tanpa daya.

“Apakah wajahku masih tertoreh di uang sepuluh ribu?” tanya Cut Dien mendesak, seiring dengan nada bicaranya yang hampir tersedak. Bergetar, juga gentar.

“Sayang, belum ada Koran khusus untukmu, ya. Sehingga kau tidak perlu ketinggalan zaman begitu,” Kartini mendelik tajam ke arah Cut Dien, melipat tangan di dadanya. “Wajahmu sudah lama lenyap dari uang sepuluh ribu. Sekarang, uang Indonesia satu itu sudah berganti tokoh, sekaligus warna. Sultan Mahmud Badaruddin yang memantau di sana. Ingin mengadakan survei, katanya. Ia ingin mengecek, apakah ada kejujuran yang disekap jauh-jauh di depan hadapan uang sepuluh ribu?”

Cut Dien tertawa. Ia kembali meneruskan ritual mengetiknya. “Baguslah, kalau begitu. Sungguh, aku benar-benar tak nyaman bila wajahku ada di sana. Bukan begitu, Thomas?”

Pattimura melirik Cut Dien. Nama aslinya terselip dalam kalimat tersebut. “He? Ya, begitulah. Walau wajahku termasuk dalam uang seribu, tetapi tetap saja. Banyak juga kok, orang yang menyelewengkannya.”

“Duh, sudah hentikan. Aku nggak tega mendengar perbincangan kalian. Indonesia pasti sekarang sudah ambruk, sudah sekarat. Tetapi lihat saja, Indonesia sudah di ujung ambang, masih saja ada yang menyambitnya berkali-kali. Bisa jadi, pecutan itu lebih perih dibandingkan malaikat pencabut nyawa,” ujar Kartini, menundukkan wajahnya lesu.

“Aku juga merasakan hal yang sama. Indonesia dulu dengan Indonesia sekarang memang berbeda. Aku jadi sedih, mengingat bagaimana aku memperjuangkannya dulu.” Tutur Cut Dien hambar.

“Maksudnya, kau menyesal, begitu?” sergah Pattimura, dengan tekanan nada di setiap kata.

Cut Dien hanya menghela napas berat. Entah mengapa, saat ‘Indonesia’ berkelebat di benaknya, jemarinya mendadak kelu. Sulit untuk kembali mencium bibir mesin ketik. “Bukan begitu, Thomas. Aku hanya sedih, apakah ada manusia sekarang yang memperjuangkan Indonesia seperti kita dulu?”

“Zaman sudah berbeda. Kini, cuman segelintir orang yang menganggap Indonesia bukanlah hanya tempat berpijak. Tempat hidup. Mereka lebih memilih, memanfaatkan Indonesia untuk berbagai bisnis, merebut segala sumber daya yang tertanam. Dan itu benar-benar mengerikan. Mereka tidak tahu kalau Indonesia itu hidup. Indonesia itu ada. Ia melihat. Ia juga merasakan. Betapa sakitnya menahan cekikan warganya setiap hari. Bahkan, setiap menit.”

Keheningan pun perlahan membungkus mereka menjadi satu. Hanya kolaborasi napas sendu yang berbaur, menggeliat masing-masing. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Nama mereka sudah terlanjur dikenang. Senjata bambu mereka sudah tumbang. Mereka hanya bisa berdoa. Bagaimana peperangan saudara terjadi kini.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Mereka semua terkesiap. Pattimura, bergegas berdiri. Ia menyipitkan mata. Dan dalam sedetik, sebuah senyuman terbit di bibirnya. “Bung Karno! Bung Hatta!”

Tinggallah Cut Dien yang terjebak penasaran. “Benarkah? Itu mereka?”

Kartini tahu, ada yang tak beres. Ia menyipitkan kedua bola matanya, meneliti sosok yang hadir di belakang punggung kedua tokoh proklamator itu. “Tunggu, siapa itu?” jemarinya menunjuk sosok yang masih menjadi bayang hitam.

Bung Karno dan Bung Hatta, dengan wajah lesu dan lemas, melangkah masuk, dan mereka menjawab dengan lirih. “Dia... Indonesia.”

***
Pattimura membawa beberapa kursi, mempersilakan ketiga tamu itu untuk duduk. Saat ia mempersilakan Indonesia untuk duduk, entah mengapa hatinya serasa teriris pilu. Ngilu. Melihat bagaimana sosok Indonesia yang sudah tua, mau duduk saja begitu susah. Kulitnya yang sudah mengeriput, tampak lemah, tertindas oleh borok dan luka di mana-mana.

“T-terimakasih, Thomas.” Indonesia mendongakkan kepalanya, menunjukkan wajah reotnya, tetapi masih sanggup-sanggupnya ia memancarkan senyum kehangatan. Dan senyum itu membuat Pattimura bergidik. Pundaknya melemas. Ia tak kuat bila terus-terusan berdiri.

“Ehem, ya. Ternyata, kalian sudah berkumpul lebih dulu. Baguslah, kalau kalian masih berinisiatif. Merasa terpanggil, ya?” ujar Bung Karno, menyudutkan sedikit tawa, walau itu terasa begitu pahit. “Oh, ya. Kami membawa Indonesia ke sini. Dia sedang berulang tahun hari ini. Karena katanya, dia kangen. Dia rindu orang-orang seperti kalian.”

Kartini tersedak. Dia segera menutup matanya, menampung butir air matanya yang menandak rontok. Ia terisak sesak. Tubuhnya tergoncang goyah. Dia tak kuat. Dia tak sanggup. Setelah sekian lama ia tak bertemu dengan Indonesia, dan saat waktu mempertemukan mereka, ia mendadak... iba. Bagaimana ia melihat tubuh Indonesia yang semakin kurus, hanya kulit tipis seperti selembar tisu yang membekap tulang, luka-luka bersebaran di mana-mana, pundak yang bobrok, wajah yang seperti meleleh, semuanya. Kartini tak sanggup melanjutkannya lagi.

“...Ya, mungkin kalian kaget. Mungkin kalian sedih. Tetapi, begitulah keadaan Indonesia kini. Begitulah yang Indonesia bendung selama ini. Tubuhnya yang kecil, semakin ringkih menampung kejahatan-kejahatan yang tercipta. Kejahatan-kejahatan yang memuncak tinggi, sehingga tubuh mungil Indonesia pun sudah tak sanggup mencegahnya lagi,” jelas Bung Karno.

Pattimura mengambil napas panjang, menjadikan kumpulan oksigen itu seperti sebuah kompensasi yang mengiringi matanya. Matanya menangkap pemandangan yang begitu miris. Indonesia benar-benar tampak menderita. “Ehm, ya, Indonesia. Sudah lama, ya, kita tidak berjumpa lagi.”

Indonesia kembali tersenyum, menunjukkan matanya yang pecak sebelah. “Ya, sudah lama sekali, ya.”

Pattimura diam membisu. Bulu tangannya merinding kompak. Ia tak tahu harus melanjutkan apa lagi. Namun, ia tidak bisa menahan pertanyaannya terlalu lama. Sehingga, ia terlanjur menumpahkannya. “Indonesia, mengapa matamu pecak sebelah?” tanyanya gugup.

Sedangkan Indonesia hanya menengadahkan wajah, memegang matanya yang pecak itu. “Oh, ini.” Ia berkata singkat, senyumnya belum juga mengempis. “Ini karena banyak rakyat miskin yang menderita, Thomas. Banyak tangis yang bergulir dari mata-mata mereka. Sehingga, ya begini. Karena setiap mereka menangis, aku juga menangis, lebih parah malah. Setiap mereka terisak, bahkan aku tak sanggup bernapas. Setiap mereka bangun di pagi hari dengan mata yang bengkak... ya, mataku pasti sudah seperti ingin loncat keluar. Aku tak kuat melihat mereka seperti itu.”

Pattimura menautkan alisnya, Indonesia benar-benar tidak seharusnya mendapatkan siksaan begitu perih. “Bukannya rakyat-rakyat miskin yang sering membuat ulah, ya?”

Indonesia terkekeh kecil, “kehidupan sekarang sudah terjungkir balik, Thomas. Kaum-kaum proletar yang menuntut, yang memberontak di mana-mana itu tak separah mereka yang sedang merajalela di dunia atas. Mereka gemertak, karena yang kaya pun juga semakin merebut hak-hak mereka. Merampas standar kemampuan mereka.” Indonesia menelan ludah pahitnya, “kaum-kaum miskin limbung karena mereka kehilangan arah. Harga-harga bahan pokok hidup yang naik membuat mereka tersungkur. Mereka tak lagi bisa mengikut pasrah terhadap muara negara. Mereka kehilangan tujuan. Karena... ya, tujuan mereka hidup cuman bahagia. Mereka nggak muluk-muluk untuk memiliki mimpi. Masih bisa makan aja sudah bersyukur. Dan parahnya, kini hak makan mereka saja sudah terebut oleh tangan-tangan jahil kelas atas.”

“Bukankah kita kaya SDA, Indonesia?” Pattimura menuangkan keheranannya lagi. Kartini sudah roboh, menangis-nangis histeris di pelukan Cut Dien. Kesedihan telah menohok jantungnya, mungkin.

Indonesia tiba-tiba melihat tubuhnya yang cungkring, tipis, dan itu terlihat begitu miris. Namun, masih sempat-sempatnya saja ia untuk menyunggingkan cengiran kalem. “Inilah yang membuat badanku remuk, Thomas. Badanku tak sanggup menopang bagaimana manusia bergantung penuh terhadap uang. Ya, selembar kertas itu. Uang seolah menggantikan peran Tuhan. Kini, banyak mereka yang lebih takut miskin dibanding takut mati. Bukan hanya bagi kaum miskin, tetapi yang kaya pun sama. Uang berlimpah-limpah yang mereka dapat bukan membuat mereka bersyukur. Itu semakin membuat mereka tak puas.

“Jadilah, mereka merekrut orang-orang desa dengan janji-janji manis. Dan alhasil, mereka tergiur. Mereka lebih memilih ke kota yang menjanjikan dibandingkan di pedesaan. Lalu, ambruklah kita dalam urusan pertanian. Tahu, tempe, pun kena imbasnya. Bagaimana kedua objek itu, tahu dan tempe, hal yang seharusnya sudah bisa kita kuasai –melihat kesuburan alam kita, menambah tersuruknya negaraku. Tahu Sumedang saja mungkin sudah tidak asli Sumedang. Manusia-manusia lebih memilih ke tempat-tempat yang ‘uang’nya menjanjikan. Kelas atas pun mulai memperbudak mereka dalam sebuah proyek besar-besaran. Dan, proyek mereka pasti tak luput dari peranku, Thomas. Secara tak langsung, tambang, timah, kekayaan yang kupunya pun raib secara perlahan. He-he, kau bisa lihat lah bagaimana tubuhku bisa setipis ini.”

“Seolah-olah uang menggiring kita kembali kepada kapitalisme.”

“Memang sangkar yang paling tepat untuk uang hanya itu, kan? Dalam sangkar itulah kita bisa melihat, bagaimana yang kaya semakin kaya. Dan semakin terpuruklah negaraku dalam soal ekonomi. Apalagi, kini uang sudah bermutasi menjadi berbagai hal, mulai dari kartu ATM, saham, bunga, dan sebagainya. Padahal, uang pun bukan satu-satunya sasaran yang bisa kita salahkan. Uang hanya medium. Hasrat kitalah yang menghantarkan kita kepada hal-hal tak diinginkan. Sebut sajalah yang sedang eksis, korupsi. Duh, duh, duh, banyak sekali sekarang manusia yang merenggut hak-hak orang lain lewat uang. Ada yang korupsi lewat jalur pajak, bahkan Al-Quran pun juga menjadi salah satu satu korbannya. Jika sudah begitu, kesengsaraan akan menjalar ke mana-mana, sampai ke akar-akarnya–tak lain dan tak bukan, rakyat miskin.”

Saat rentetan kalimat diucapkan oleh Indonesia, Cut Dien segera menyerobot, “ada kalanya kita harus kembali ke zaman barter. Lewat barter, kita tak butuh mata. Kita hanya butuh rasa percaya. Kita tak perlu melihat-lihat bagaimana besarnya barang yang akan kita dapatkan atau betapa kecilnya barang yang akan kita rengkuh. Tetapi, bukankah itu begitu indah, di kala manusia saling membutuhkan?”

Indonesia tersenyum tipis, dan ia tertawa. “Dalam konteks uang pun sebenarnya kita bisa menemukan keindahan, Cut Dien. Tetapi, ya itu masalahnya, hasrat kitalah yang menjebloskan kita ke dalam lubang penuh maki.”

Cut Dien terdiam. Ia lebih memilih mengelus punggung Kartini yang masih menangis.

Bung Hatta pun akhirnya berceletuk, “dan saya bingung juga. Mengapa mereka terlalu senang bergumul dengan uang, bila di akhir kehidupan, sekali renggut, habislah sudah?”

Mendengar pernyataan itu, Indonesia kembali terpingkal pelan. “Gaya bicaramu seperti Mephistopheles saja.”

Bung Hatta mengernyitkan kening, kedua alisnya menyatu, “Apa itu? Jenis nyamuk?”

“Bukan, bukan. Hanya seorang tokoh dalam karya Goethe, Faust.”

“Tetapi, jika direnungi, pertanyaan yang dilontarkan Bung Hatta ada bagusnya juga bila dipikirkan. Sepertinya manusia berkomplot dengan kawanan uang untuk mendapatkan kepuasan diri. Bukankah bila kita kaya, kita akan bangga? Kita bisa membanggakan diri?”

“Thomas, jika mereka setelah kaya akan benar-benar mati, di mana tempat mereka membanggakan diri?” tandas Bung Karno tegas.

Percekcokan itu pun dijawab santai oleh Indonesia, “di akhirat nanti, mungkin.”

Cut Dien pun segera memotong, “Hih, kalau di surga nanti segala doa bisa dikabulkan, salah satu doaku adalah semoga waktu tak mengizinkan mereka menyombongkan kekayaan mereka.”

Kartini yang sejak tadi mematung pun akhirnya berceloteh. Ia menyeka air matanya, memeriksa tenggorokannya yang sejak tadi tercekat. Setelah itu, ia mulai bicara. Dengan nada goyah. “Aku hanya sedih melihatmu, Indonesia. Bagaimana sekarang umurmu sudah 67 tahun, tetapi kau tetap saja rela menahan pedih. Rela menjadi tempat pelampiasan kejahatan mereka. Kukira, setelah aku pergi, akan ada generasi di zaman maju yang akan membahagiakanmu. Membuatmu bangkit kembali. Tetapi kenyataannya? Orang-orang itu hanya memperburuk keadaan.”

Cut Dien pun mengangguk, “aku juga salut kepadamu, Indonesia. Perjuanganku untuk membelamu tak sia-sia. Walau kondisimu sekarang yang sedang hancur, namun kau tetap menjadi Indonesia yang kukenal. Kubanggakan.”

Pattimura pun ikut berujar, “manusia zaman sekarang tak seperti yang kuharapkan. Bahkan, bila Tuhan mengizinkanku untuk bangkit lagi, aku rela untuk memperbaiki keadaanmu, Indonesia. Aku benar-benar mencintaimu. Amat teramat sangat.”

Bung Karno dan Bung Hatta ikut manggut-manggut, Kartini turut menggerakkan kepalanya yang tersandar di pundak Cut Dien.

Mendengar pengakuan itu, Indonesia terenyuh. Ia memercikkan sedikit senyum rapuh, namun tetap menguatkan mereka semua. Ia meletakkan tangannya di dada, dan berkata lantang, walau akhirnya menjelma menjadi bisik-bisik halus, “aku benar-benar merindukan orang seperti kalian. Sangat rindu. Asal kalian tahu.”

SELESAI

Jumat, 11 Mei 2012

Nebula

Gambar: Indah? Bukan Tumblr. Nebula memang selalu mempesona.

Kalau aku sebut kau Nebula, mungkin itu salah. Kau lebih dari sekedar itu. Pesonamu memancarkan berbagai cabang hipnotis. Dan matakulah yang menjadi korbannya. Mata yang menjadi sasaran tembaknya, hingga tak berkedip karena lemas tergoda.

            Tahukah kamu? Kecantikanmu membuatku merinding, seperti ingin merasakan apa yang dinamakan Supernova! Bahkan, aku ingin menjadi dirinya. Hingga mereka semua tahu, kita berdua adalah sehimpun ciptaan yang tak asal diciptakan. Serasi!
            Hei, aku harus memanggilmu apa? Nebula Semut? Itu salah! Tak ada orang yang sama persis sepertimu! Kau tidak berfraktal seperti apa yang Mandelbrot simpulkan!
 Ya. Kini, kau tinggal menyebut namamu. Itu saja.

“Nebula,”

            Aku tertawa puas. Akhirnya itu yang terlintas di benakku. Kau cukup Nebula. Melahirkan bintang, yang memesonakan indraku. Nama rumit yang aku pikirkan, ternyata untuk orang yang menciptakan kamu, aku, dan kita.

Sabtu, 05 Mei 2012

Agen Mars (1)

Kali ini, saya ingin mempublikasikan cerita untuk suatu sayembara yang sama. :D Karena terlalu panjang, saya membaginya menjadi dua bagian. Selamat Membaca! :D

***

Awan menggantung dengan wajah memelas. Berusaha menahan kepedihannya agar tidak tumpah ke mana-mana. Budi dan Mimi terlalu kecil untuk melakukan ini semua. Awan ingin sekali gemertak, marah dan protes terhadap Tuhan, mengapa hidup ini tidak terasa adil. Namun semuanya lagi-lagi tertahan–Tuhan tak mau mengungkap semuanya cepat-cepat.
“Kak, kenapa sih sampahnya banyak banget? Mimi kan capek,” ketus Mimi dengan bibir yang maju ke depan. Tangannya tak berhenti bergerak memungut sampah-sampah yang menyesaki pinggiran jalan kota.
Budi mendongak, tersenyum kepada adiknya, “Mimi, itu sudah menjadi adat istiadat bagi penduduk kota ini: Membuang sampah sembarangan. Susah diubah!”
Mimi menyeka keringatnya yang terus mengucur, seolah kepenatannya sudah penuh dan menubruk dinding otaknya. “Tapi kenapa harus begitu, Kak? Mimi capek. Bukan fisik Mimi saja yang capek, tetapi semuanya. Hati Mimi terlalu sering bertanya-tanya, kenapa Mimi tidak sekolah seperti anak-anak yang lainnya, tidak memiliki rumah yang bagus seperti yang lainnya dan banyak sekali hal-hal yang seharusnya Mimi miliki, tetapi tidak Mimi miliki,”
Budi menghela napas, “Kan sudah berapa kali Kakak bilang, kita itu–”
“Apa? Agen Mars? Agen yang berasal dari Mars, ditugaskan Tuhan untuk mengawasi tingkah laku manusia di Bumi? Alien yang bertugas membersihkan bumi? Kak, kenapa sih Kakak sangat percaya dengan cerita-cerita ayah dan ibu?”
Budi menganga lebar, tak percaya dengan penggalan kata yang barusan terlontar itu. “Mimi!”
Belum saja penjelasan belaka akan muncul dari bibir Budi, Mimi sudah berlalu pergi. Berjalan dengan langkah panjang sambil terisak tangis. Tak ada kepala yang menengok menghampiri mata Budi. Semuanya sudah berhiaskan punggung kecil yang berlalu pergi.
Budi tercenung dalam kata-kata yang baru saja Mimi ucapkan. Entah kenapa itu serasa mematikan hati untuk terus bersabar. Mimi sudah besar. Wajar dia berpikir seperti itu. Namun yang tidak bisa Budi yakini, bahwa adiknya ternyata sudah mengambil langkah yang tak pernah ia duga sebelumnya.

***
Langkah yang terseret-seret menderap di atas tanah. Melaju menuju sebuah bangunan kardus, yang berada di lorong sempit, menyempil di antara rumah-rumah yang sesak.
Budi membuka pintu rumahnya, memandang Mimi yang sudah memojok di sudut ruangan. Suaranya serak ditelan tangis yang terus melanda. Markas lagi-lagi penuh akan air mata.
“Mimi…” panggil Budi pelan.
Mimi pun mendongakkan kepalanya, menampilkan wajah sendunya yang menyedihkan. Matanya mengunus kedua bola mata kakaknya lamat. Hingga Budi tergidik merinding. Adiknya tampak sudah benar-benar muak.
“Mimi, iya, Kakak mau–“
Belum kalimat itu selesai dilontarkan, Mimi sudah memeluk hangat Budi. Kepalanya merutuk-rutuk di dada Budi. Kesedihannya, kekesalannya, ketakpuasannya, ditumpahkan saat itu juga.
“Maafkan Mimi, Kak. Mimi yang salah,” Napasnya tersendat-sendat karena diselingi tangis. “Seharusnya Mimi percaya dengan cerita-cerita ayah. Seharusnya Mimi nggak boleh berpikiran seperti tadi,”
Budi tersenyum kecil seraya mengelus punggung Mimi pelan. Dia pun mengajak adiknya duduk bersandar pada dinding rumahnya. “Mimi, wajar bila kamu tak percaya. Dulu, Kakak juga pernah berpikiran seperti itu,”
Air wajah Mimi seketika berubah penasaran, “benarkah?”
“Benar,” Budi menganggukkan kepalanya. “Awalnya Kakak juga tidak percaya dengan apa yang Ayah bicarakan. Bahwa kita adalah alien, makhluk yang sudah dicari-cari oleh banyak orang,”
“…lalu?”
“Tetapi, entah mengapa, rasa itu timbul seketika. Mungkin memang Kakak belum percaya, bahwa raga Kakak ini adalah tubuh alien –tapi akhirnya Kakak menyadari, bahwa Kakak benar-benar menjalankan misi menjadi alien Mars,” Budi tersenyum, mengambil napas panjang. “Raga ini sudah ingin berhenti untuk menjadi tukang sampah, memungut sampah-sampah di jalan, tetapi jiwa ini tidak mengatakan begitu. Seolah ada radar dari Mars –tempat asal kita yang mengirimkan, bahwa Kakak harus ingat misi mengapa Kakak diturunkan di bumi ini. Menjaga bumi dengan sebaik-baiknya,”
Wajah serius Mimi berubah dengan kening yang merengut bingung. “Tapi, kenapa kita harus menjadi alien miskin, Kak? Mimi bisa kok, jadi orang kaya yang sayang dengan bumi. Mimi bisa ke sekolah dengan naik sepeda, menggunakan peralatan hasil daur ulang, tidak seperti sekarang. Kita menjadi tukang sampah jalanan,”
Budi tersenyum puas, “Itulah yang dinamakan misi rahasia. Kamu bisa lihat kan, bagaimana orang-orang mapan di luar sana? Mengobral karbondioksida sembarangan, membuang sampah seenaknya, kantung belanja yang terus ditemukan, mereka benar-benar lupa dengan bumi, Mimi. Kalau kita menjadi alien kaya, kita bisa-bisa dicurigai bukan manusia. Kita bisa ditangkap, dimasukkan ke dalam museum astronomi, bahwa kita adalah makhluk asing dari Mars. Oleh karena itu, anggaplah ini sebuah penyamaran, hanya kau dan Kakak yang mengetahuinya,”
Mimi manggut-manggut mengerti, senyumnya melebar memenuhi udara rumah kardus yang mereka tinggali. Yang mereka anggap markas rahasia utusan-utusan alien dari Mars.
“Sekarang, Mimi akan lebih giat menjalani misi, Kak. Mimi janji, Mimi akan menjadi alien Mars yang baik,” janjinya dengan sunggingan senyum yang indah.
Budi mengangguk kecil, “Ozon pun menitipkan harapan di tangan kita,”
Mereka pun akhirnya terpingkal bersama. Menyulut sebuah kebahagiaan yang sangat sederhana. Tak perlu uang, tak perlu kekayaan. Walau ada seberkas ilusi di antara kebahagiaan mereka. Yang membuat semuanya terasa pelik. Mereka, berdua, terjerat dalam sebuah fiksi yang amat mendalam.

***
Kaki-kaki kecil berlarian di aspal. Membaur dengan teriakan bahagia, yang memanggil sebuah nama, “Kakaaak! Aku pulang!”
Budi mendongakkan kepalanya, matanya langsung terbelalak melihat semua yang dibawa adiknya sendiri, Mimi.
“Kak, lihat, Mimi bawa apa?” tanyanya dengan secercah senyum yang terlampir manis. Meletakkan barang-barang bekasnya ke lantai rumah kardusnya, markas rahasia.
“Ini buat apa, Mimi? Sampah bekasnya kok, banyak sekali?” Budi menggaruk kepalanya kebingungan. Menerka-nerka jawaban apa yang akan diutarakan adiknya.
“Kakak masa tidak bisa tahu? Ini adalah salahsatu untuk menjalankan misi dari Mars, lho. Mimi akhirnya sadar, misi ini benar-benar menyenangkan!”
Budi menaikkan alisnya, “Maksud kamu…bagaimana bisa?”
Mimi menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, “jadi, tadi Mimi bertemu dengan anak-anak yang baru saja pulang sekolah, dan mereka menatap Mimi lamaaa sekali. Mimi sempat heran, apa ada yang salah dari diri Mimi? Tapi ternyata, Kak, mereka itu memerhatikan tas mimi!”
“Tas yang kamu baru buat kemarin? Bahan jins?” timpal Budi dengan wajah yang masih kebingungan.
Mimi manggut-manggut sambil tersenyum, “Iya. Mereka juga sempat berbisik-bisik, bahwa tas Mimi itu bagus. Padahal kan, celana jins ini juga dari mereka-mereka. Tapi ternyata, Mimi bisa mengolahnya menjadi barang yang bagus, sekaligus mengurangi penggunaan plastik!”
Bibir Budi menganga lebar tak percaya. Ternyata adiknya bisa secerdik ini. Menggunakan barang-barang bekas untuk sebuah benda yang tak kalah bagusnya dengan barang-barang yang bermerek. Benar-benar inteligensi yang jenius.
“Wah, hebat kamu, Mi. Pasti Bos Mars bangga sama kamu. Ayah dan Ibu, yang sudah lebih dulu ke sana juga pasti bangga sama kamu. Kamu benar-benar agen Mars yang baik!” Budi tak henti-henti melontarkan pujian kepada Mimi. Dia benar-benar manusia yang menyayangi bumi. “Sekarang, kamu mau buat apa dari ini semua?”
Mata Mimi menyapu luas barang-barang di depannya. Bayangan-bayangan tentang benda yang indah sudah mondar-mandir di otaknya. “Tempat pensil dan… vas bunga!”
“Bagaimana caranya?”
Jemari-jemari kecil Mimi mulai terampil dengan barang-barang di depannya. Ia mulai meraih botol dan mulai menggunting di sana-sini. Menghasilkan imaji yang sangat proporsional untuk sebuah tempat pensil di otak Budi.
“Botol ini digunting melingkar, tak penuh satu lingkaran, jangan sampai putus, lalu…” Mimi mulai menjelaskan langkah-langkah selanjutnya. Untaian-untaian kata yang membuat Budi memekik takjub. Lewat tangannya, lahir sejumlah barang yang tak pernah disangka. Mimi terlalu asyik hingga terjun ke dalam dunia seninya, hingga hasilnya pun tak main-main. Luar biasa bagusnya.
Menyadari dua bola mata yang terus memandang gerak-geriknya, Mimi pun memberhentikan pekerjaannya. “Kok, Kakak melihat Mimi terus?”
Budi menggeleng-geleng, “Nggak, kok. Sudah, teruskan lagi,”
Seolah ada yang melintas sejenak di otak Mimi, tiba-tiba senyumnya merekah lebar. Kebahagiaan mulai tersirat kembali. “Ya ampun, Mimi sampai lupa. Kakak mau dibuatkan juga, ya? Kakak mau apa? Mobil-mobilan? Tas juga? Atau…”
Budi menggeleng lagi, “nggak perlu, Mimi. Semuanya buat kamu,”
“Jangan, Kak. Kakak juga harus mendapatkan sebuah barang yang merupakan karya dari Mimi sendiri! Itu juga bisa menjadi sebuah kenang-kenangan, kan?” serunya girang. Dia mulai bangkit dari tempat duduknya, melompat-lompat menuju daun pintu.
“Lho, kamu sekarang mau kemana, Mi?” tanya Budi kebingungan.
Mimi membalikkan badan, dengan sinar matahari yang juga menyorot langsung. Membuat tubuhnya menjadi siluet yang sangat anggun. “Aku ingin mencari bahan-bahan yang lain, untuk membuat suatu barang yang akan diberikan kepada Kakak,”
Budi menyimpulkan senyum. Menatap siluet yang beranjak pergi, dengan rambut yang berkibar ditiup angin. Tungkai kecil itu berlari, semakin beranjak jauh, hingga bayangannya semakin kecil, sampai hilang tak terlihat.
Namun, rasanya ada yang aneh. Ada segugus rasa yang datang tiba-tiba, menjelaskan–semua fiksi ini akan berakhir tak lama lagi.

Bersambung

Jumat, 20 April 2012

Primata Berteriak

Salam Primata!
Kali ini, saya hanya ingin memperkenalkan blog saya yang lain. Blog ini saya buat lewat wordpress, karena ini pertama kalinya saya menjajah dunia sana. :'D

Langsung aja, kalian semua bisa kunjungi:


Awalnya, saya hanya tertarik dengan teori Darwin, tetapi tiba-tiba ide-ide lewat dan merangkai sebuah cerita. Mulai dari cerita monyet, simpanse, dan lainnya. Sayang kalau didiamkan di otak, akhirnya saya membuat blog baru tentang mamalia-mamalia primata! :D

Dan doakan semoga blog ini berjalan sebagaimana mestinya.

Sang Pengangkut & Primata

Kamis, 19 April 2012

Bumi dan Kakek Tua

Hoi! Lama tidak bertemu, ya. Kali ini, saya akan memberikan kisah yang diciptakan untuk suatu sayembara, bertema tentang bumi. Tetapi entah ini yang akan dikirim, atau bukan. Yang jelas, yang terlintas di otak saya pertama kali hanyalah ini. Selamat Menikmati! :D

***

Segugus tangan kecil menghiasi kegembiraan para bunga. Anak itu bagai hujan yang melepas dahaga bagi bunga-bunga yang kehausan. Air-air merembesi kelopak bunga, hingga jatuh menetes di tanah. Bunga bergerak ke kanan dan ke kiri merayakan kegembiraannya. Bersorak sorai dalam gerakan yang sangat gemulai, membuat mata manusia tidak ingin mengerjap.

Namun, metafora itu tidak berlangsung terhadap Neuron. Dahinya mengernyit, bibirnya merengut rapat dan terdapat ocehan-ocehan kesal yang terus bermunculan. Tangannya bergerak asal-asalan ke segala tempat, tanpa mau tahu bunga mana yang sudah mendapat jatah air hari ini.

Sedangkan ibunya hanya menatap dari belakang, menahan tawa yang rasanya sudah ingin tumpah memenuhi udara. Menelan tawanya dalam-dalam, agar tidak terjadi muntah tawa yang bisa berlanjut terus menerus. Dirinya menggeleng-geleng sambil tersenyum, perlu adaptasi yang cukup panjang bagi Neuron untuk bersahabat dengan tanaman.

Benar saja, selang sepuluh detik, tawa itu lepas dan berkeliaran dalam labirin udara. Menggetarkan gendang telinga yang siap-siap akan meledak, memancarkan segala kekesalannya.

Neuron membanting penyiram tanaman dengan kesal. Membekaskan kesunyian yang mengiringi gesekan daun. Tawa itu berhenti, udara tidak lagi menjadi perantara bunyi. Neuron berbalik arah, memandang ibunya kesal.

“Aku tidak mau lagi menyiram tanaman! Biarkan saja mereka mati!”

***

Matahari menyembur sinarnya ke permukaan. Menghiasi dua wajah yang sedang termangu dalam segelintir pertanyaan.

Neuron terlonjak dari tempat duduknya, saat mengetahui dirinya sedang duduk di samping seorang kakek tua. Matanya terbelalak menatap wajah orang di sebelahnya itu, menampar pipinya sendiri, memastikan ini memang mimpi, tapi bukan mimpi horror.

Wajah yang sudah keriput seperti ingin meleleh dari posisi awalnya, kulit-kulit kering mengelupas, bola mata tak bulat sempurna –pandangan mata yang kosong, keringat yang terus menderas, seolah udara panas menyergapnya, hingga menggerogotinya secara perlahan. Ditambah lagi dengan tubuhnya yang bulat, wajah bulat, semua serba bulat –lagi-lagi tak bulat sempurna. Seluk beluk wajahnya tergambar jelas seperti dalam sampul buku-buku hantu milik Neuron. Sigap, Neuron mengambil jarak dari kakek tua itu, seraya meringis ketakutan.

“Kk…Kakek s…siapa?” tanyanya tergagap-gagap. Keringat dinginnya mengucur seketika. Jantungnya bertalu lebih cepat. Napasnya mengobral tak beraturan. Tubuhnya gemetar seperti kesetrum listrik. Dirinya benar-benar kehabisan kata-kata. Sepatah kata pun terlalu gugup untuk berhadapan dengan manusia ini.

“Kenapa kamu itu seperti mereka, Nak?” ucap kakek tua itu dengan pandangan yang tetap lurus ke depan. Seolah tak menyadari keberadaan Neuron di sampingnya.

Neuron mengernyitkan alis, memutar otaknya, mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan. Dia menggaruk-garuk kepala, rasa takutnya kini memudar menjadi rasa bingung. “Kakek bicara dengan siapa?”

“Dengan musuh-musuh atmosfer. Gerombolannya karbondioksida,” lanjutnya pelan. Intonasinya hilang dilahap hampa dalam mulutnya. Tak bergigi. Lidah yang menjalankan sepenuhnya.

“M…maksud Kakek?”

“Cukuplah ozon yang terkena cipratannya, terkena imbasnya, hingga dia marah dan lama-lama tak mau kompromi lagi,” Air muka kakek itu hanyut dalam seduhan benih air di pelupuk mata. Ujung matanya sedang dalam proses penciptaan suatu lambang sesaknya hati. Kata-kata ngawurnya mulai bergetar, goyah, menjelma menjadi bisik-bisik halus.

“M…ma,”

“Matahari jadi terlalu boros, Nak! Boros!” Dia mengetukkan tangannya di permukaan bangku taman. Membiarkan air matanya menuruni tebing pipinya perlahan. “Matahari menangis, Nak. Menangis,”

Dengan berpuluh-puluh pertanyaan yang menyerbunya dalam satu titik, Neuron akhirnya menanggapi diskusi tak formal namun berpokok bahasan yang berat. “Kenapa bisa begitu, Kek?”

“Bayangkan saja, dia itu ciptaan baik-baik, tetapi dipaksa jahat! Bayangkan!” Intonasi tinggi menekan di setiap kata yang terucap, mempercepat alur untuk menyimpulkan semua kejanggalan. “Dia tidak ingin manusia mengidap kanker kulit, dia tak ingin ada ‘badai matahari’ –yang menyangkut namanya, dia tidak mau, Nak. Dia ingin menjadi matahari yang baik, menyinari dunia, menjadi teman di subuh hari, menjadi penerang segala gulita di dunia, dia ingin itu, Nak,”

“Memang itu tugas matahari, kan?” tukas Neuron dengan wajah polos tak tahu apa-apa. Melupakan apa yang sering terjadi dalam hidupnya.

Kakek itu menghela napas panjang. Butir-butir air matanya terus jatuh tak beralas. “Manusia membuatnya kehilangan tugas-tugasnya,”

Neuron menunduk lesu, terperosok dalam palung pemikiran yang amat simpel, tetapi mengapa begitu rumit dipraktekkan. Teori-teori memang selalu terdengar bagus di telinga, tetapi terlalu buruk saat dipraktekkan. Pemanasan global selalu terngiang di telinganya, mengirimkan radar: ‘Gunakan sepeda’, ‘Tanam pohon di pekarangan rumahmu!’, ‘Buang sampah di tempatnya’, ‘Ingat 3R Neuron! Reuse, Reduce, Recycle!’, ‘Jangan terlalu lama menggunakan pendingin ruangan’, namun semua itu tertambat pada suatu celah otak yang tak berarti, terlupakan, terabaikan, menjadi sampah di otak.

Neuron tahu apa dampak, sebab, akibat dari pemanasan global. Dirinya tahu. Sekedar tahu. Dirinya akhirnya tahu, dia bukan manusia yang merombak, mencari teori baru untuk menghapus nama pemanasan global dalam masalah dunia. Dia bukan itu. Dia lebih menjorok kepada manusia yang menyebabkan pemanasan global.

“Asal kamu tahu, satu bibit tanaman itu akan membuat satu senyuman di mata alam,” Kakek tua menghapus air matanya. Kini ia tersenyum, memandang mata Neuron lamat-lamat. “Sangat berarti, Neuron,”

Kini, Neuron tidak bisa lagi menahan semua kebodohannya, kesalahannya, keegoisannya selama ini. Semuanya ditumpahkan saat itu juga. Air matanya mengalir deras. Dirinya terisak tangis yang terus menjadi-jadi. Dia tidak menyangka, dirinya adalah manusia yang begitu kejam. Menyiksa alam tanpa mau tahu kesedihannya. Menganggap semua makna hanya terkandung dalam untaian aksara, bukan dari sebuah kenyataan.

“Alam memang tidak bisa bicara, Neuron. Tak perlu mereka bicara. Karena keindahannya sudah menjelaskan semuanya,”

Kakek itu tersenyum, bangkit dari bangkunya. Meninggalkan Neuron yang masih terisak tangis. Melangkah menuju arah matahari yang ingin terbenam, ia berbalik badan, melambaikan tangannya ke arah Neuron.

“Alam ingin menjadi sahabatmu, Neuron!”

Neuron menyeka air matanya. Secercah senyum tampil menggantikan kegundahan rasa yang bereaksi pedih. Langkah kakek terus menjauh, siluetnya pun semakin panjang. Dia, bayangannya, bukan lagi sosok yang menyeramkan. Dia, adalah mahakarya Tuhan yang bermakna.

Neuron mengangguk mengerti. Kakek itu sangat kuat, sangat hebat. Karena beban itu sudah ditampung kakek sejak lama.

***

Sore yang sedang merajalela, matahari sudah sampai di ujung barat.

“Ibuuu!” teriak Neuron dari arah belakang. Tungkainya berinjit-injit menyusuri jalan menuju ibunya yang sedang berada di pekarangan rumah.

“Ada apa, Neuron? Kau sudah bangun?” Ibu menggengam kedua tangan Neuron yang melingkar di pinggangnya. Pelukan yang selalu hangat, menyejukkan hati. Pelukan memang konduktor panas yang handal.

Neuron memajukan bibirnya, “memang tadi, Neuron tidur ya, Bu?”

Ibu tersenyum simpul, mengacak-acak rambut Neuron yang tebal. “Tadi kamu itu tidur siang, Sayang. Sekarang, ada apa kamu memeluk ibu seperti ini?”

Neuron manggut-manggut sambil tersenyum. “Tanamannya sudah disiram, Bu? Kalau belum, biarkan Neuron yang mengurusnya,” ucap Neuron semangat. Ia langsung meraih penyiram tanaman dan bersiap-siap untuk menjadi Pak Tani kecil.

Ibu menaikkan alisnya. Dia menganga tak menyangka, dengan senyum yang belum menghindar dari bibirnya. “Sudah. Tetapi, kamu mengapa bisa jadi seperti ini?”

Mata Neuron melirik pada tumpukan sampah yang menumpuk di tempat sampah. “Bu, botol-botol bekasnya jangan dibuang, ya. Nanti Neuron buatkan pesawat-pesawatan. Oh, ya. Dari botol itu, Ibu juga bisa buat vas bunga, lho,” jelas Neuron semangat.

Ibu membelai kepala Neuron halus, sambil terus tersenyum. “Nah, gitu dong anak Ibu. Sayang dengan Bumi,”

Neuron memeluk ibunya lagi. Ingin sekali ia menjelaskan semuanya, bahwa manusia itulah yang membuatnya sadar akan keindahan ciptaan Tuhan yang harus dirawat. Ada titipan luar biasa dari Tuhan yang harus dijaga, dimanfaatkan dengan baik.

Dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia berbisik pelan: Terimakasih ya, Kakek Tua…

***

Di tengah bintang-bintang yang bertebaran luas, di sanalah ia berada.

Senyumnya tak henti mengembang. Seperti ragi roti yang sedang menjalankan fungsinya dalam pembuatan roti. Satu kebahagiaan memang sangat berarti. Menghapus segala pahitnya hidup yang sangat berwarna.

Dia tersenyum lagi. Biarlah fisiknya sudah buruk rupa, tak lagi sempurna, kulit yang keriput meleleh, banyak sekali kesedihan dalam dirinya, semuanya ia lupakan. Dirinya lebih baik optimis, manusia setiap zamannya berbeda. Akan ada generasi muda yang membenahi dirinya suatu saat nanti. Dirinya yakin. Yakin sekali.

Galaksi bimasakti memang rumahnya sejak dulu. Berjalan dalam rel yang itu-itu saja, memang terkadang membuatnya bosan. Berkenalan dengan tujuh planet lainnya, serasa teman hanya sebatas sesama jenis. Dirinya butuh makhluk yang berbeda.

Kakek Tua tersenyum lagi. Neuron adalah salah satu bintang yang sudah ia temukan. Neuron sudah menemukan jalannya. Ia sudah masuk ke dalam lorong yang benar, tinggal berjalan dan menuju titik akhirnya. Neuron akan merubah dunia, menjadi lebih bermanfaat.

Kakek Tua tersenyum puas. Ia mulai berkutat lagi dalam rotasi yang tidak dapat dielakkan. Mengelilingi matahari yang menjadi pusatnya. Sibuk kembali pada kerjaan non-stopnya, bersifat layaknya planet yang normal. Namun tidak kuper.

Dirinya tahu, menjadi planet yang berisi kehidupan memang penuh risiko, tetapi juga penuh akan kebahagiaan. Salah satunya, menyaksikan para manusia menyayangi dirinya sepenuh hati.

Dalam hati kecilnya, ia berceloteh pelan: Siapa lagi bocah kecil yang akan kudatangi, ya?

SELESAI