Seiring
dengan deringan alarmnya yang nyaring, Mei bangkit dari ranjangnya. Tak lupa ia
mengangkat kedua tangannya, meregangkan tulang punggungnya. Ia ber-hoam-lebar,
mempertunjukkan dua lubang hidungnya yang besarnya bukan main. Namun, Mei tak
pernah ambil pusing. Dia juga tak malu-malu menyejajarkan dua lubang hidungnya
dengan sebuah goa penuh kelelawar-kelelawar yang hinggap di stalaktitnya.
Karena apa?Senin, 06 Agustus 2012
The Cupib Team ( #1 Xiao Mei)
Seiring
dengan deringan alarmnya yang nyaring, Mei bangkit dari ranjangnya. Tak lupa ia
mengangkat kedua tangannya, meregangkan tulang punggungnya. Ia ber-hoam-lebar,
mempertunjukkan dua lubang hidungnya yang besarnya bukan main. Namun, Mei tak
pernah ambil pusing. Dia juga tak malu-malu menyejajarkan dua lubang hidungnya
dengan sebuah goa penuh kelelawar-kelelawar yang hinggap di stalaktitnya.
Karena apa?Sabtu, 04 Agustus 2012
Agen Mars (2)
Kembali lagi! :D Merasa mempunyai hutang dan ditagih keras oleh waktu, saya akhirnya angkat tangan. Memungut satu kata demi kata, menyerahkannya pada tangan yang terus menengadah. Tangan apa? Tangan panjang berwarna putih polos. Kertas.
Minggu, 26 Februari 2012
Kolaborasi Mimpi (1)
Selamat... membaca!
***
Secercah bayangan selalu mengikuti langkah mereka. Bayangan yang tak pernah mengeluh kesah atas keringat yang terus membanjir. Bayangan yang menjadi teman berkelana yang paling setia bagi mereka. Bayangan tak pernah menolak ingin dibawa kemana oleh mereka. Bayangan selalu membuyuti dan pasrah walaupun akan diajak ke tempat yang paling menjijikan.
Bayangan tak pernah menolak jika ditakdirkan harus mengikuti manusia. Sekalipun manusia itu beruntung atau tidak, bayangan tetap harus menjalankan tugasnya.
“Kak, kita akan berhenti kapan?” celoteh adiknya. Ia terus menyeka keringat yang mengguyur tubuhnya basah. Mengangkut karung beras yang berisi sejumlah sampah bukan suatu hal yang mudah bagi seorang bocah kecil.
Kakaknya memandangnya letih. Berjalan dan memunguti sampah yang ada memang sangat melelahkan. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak takdir yang sudah menghantam hidupnya keras. Dia juga tidak boleh menyesali hidup. Dia diutus untuk ke dunia, bukan karena niat sia-sia. Dirinya yakin, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk dirinya agar hidup.
“Sedikit lagi. Sampahnya juga sedikit lagi. Jika kita tak mau ditampar Bang Boni,” cetus kakanya pelan. Matanya menerawang wajah Bang Boni yang marah bila dia dan adiknya tidak bisa mengumpulkan sampah yang lebih banyak. Namun memang Bang Boni harapan hidupnya saat ini. Bila dirinya tidak menemukan Bang Boni, dia yakin dia tidak bisa terus melangkah sampai sekarang.
Adiknya mengernyitkan bibir mungilnya. Menghela napas berat dan menaikkan karung ke pundaknya lebih kuat.
Sementara kakaknya menyunggingkan senyum kepastian. Merangkul adiknya dengan rasa bangga yang membahana. Jika dunia bertanya siapa bocah-bocah yang mengerti arti kehidupan, mereka akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambai-lambai agar lebih jelas.
Karena arti kehidupan tidak terbatas, sementara hidup terbatas. Namun keterbatasan hidup bukanlah dinding penghalang untuk terus mencari. Mencari makna dan tujuan mereka terlahir di dunia.
Bayangan mereka lagi-lagi tersenyum. Terbahak kecil melihat dua siluet yang merangkul satu sama lain. Dan merasa bangga menjadi bayangan jejak bahagia mereka.
Manusia lain selalu membuang sisa.
Namun mereka selalu memanfaatkan sisa.
Dibawah matahari yang akan segera menutupi permukaan, mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Damar sedang sibuk dengan botol mineral bekas. Membuat lubang di sana dan menancapkan potongan kardus. Membuat baling-baling dan membuat sayap. Membayangkan sedikit harapan yang akan sangat membekas.
Sementara Dio bercengkrama dengan kardus yang lebih besar. Mengerutkan kening dan memutar otak sejenak. Sketsa-sketsa bangunan bertumbuk menjadi satu di benaknya. Tak jarang ia menampilkan senyum jika menemukan ide yang fantastis untuk dipraktekkan.
Jemari Dio tampak lihai menggunakan pisau bekas. Pisau lipat yang sudah berkarat tanpa menghiraukan bahwa ada bibit tetanus di sana. Dengan tenaganya, dia berhasil memotong kardus itu menjadi beberapa bagian dan merangkainya perlahan.
Sedangkan Damar sibuk memutar baling-baling pesawat mainan barunya. Berandai-andai bahwa terbang ke langit sangatlah indah. Menembus awan-awan dan berada lebih tinggi dari burung-burung. Mengenakan seragam pilot yang gagah. Bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang dititipkan padanya.
Damar bangkit berdiri. Berputar dan berlari membawa pesawat mainannya. Membiarkan baling-baling pesawatnya diterpa angin kencang. “Pesawat Damar Indonesia akan melaju kencang menuju benua Eropa!” teriaknya bahagia. Kakinya melompat gembira. Menyentuh bumi tanpa alas kaki. Mengajak dunia untuk bersorak sorai bersamanya. Mengajak angin yang menghempas untuk menari bersamanya.
Dio memicingkan mata. Siluet adiknya menari-nari di bawah senja. Memancarkan senyum dan radar mimpi yang akan terwujud. Dia membuang peluhnya puas. Dia menepuk tangannya keras dan meneriakkan nama adiknya.
“Damar!”
Tarian itu berhenti. Damar membalikkan badan dan menatap sumber suara yang memanggil namanya. Kakaknya berada di samping sebuah bangunan berbentuk kubus. Bangunan yang menyerupai tempat berteduh. Bangunan yang memiliki sebuah atap. Bangunan tempat berlindung. Rumah! Dia memiliki rumah!
Damar berlari-lari kecil dengan bibir yang merekah layaknya bunga. Menuju dekapan peluk yang telah disiapkan Dio. Memeluk kakaknya erat dengan butir-butir air mata turun tanpa diundang.
“Kita memiliki rumah, Kak?” tanya Damar dengan tangisan yang masih terisak. Baru kali ini ia menangis karena bahagia. Segera ia memasuki rumah barunya tak sabar. Senyumnya tak berhenti mengembang. Dia terkagum-kagum walau rumahnya berisi tanpa perabotan. Dia tidak mengeluh walau rumahnya terbuat dari kardus.
“Walaupun sempit, setidaknya kita tidak perlu tidur di depan ruko Pak Raja, kan?” Dio merangkul adiknya. Senyumnya tak berhenti mengempis. Rumah memang menjadi dambaannya sejak harus hidup berdua dengan adiknya. Sejak mereka ditinggal maut oleh kedua orangtuanya.
“Dan kita tidak akan diomeli Pak Raja lagi!”
Dio tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Melihat adiknya bahagia itu sudah lebih dari cukup. Mungkin ini jawabannya. Jawaban mengapa ia masih harus melanjutkan hidup. Jawaban mengapa ia tidak ikut bersama orangtuanya ke alam sana. Ya, dia masih memiliki satu malaikat yang harus dilindungi, Damar.
Dio membuang napas panjang. Tak henti ia mengucap syukur. Tuhan selalu menyisakan bahagia bagi makhluknya. Kebahagiaan memang bukan harta. Namun adalah waktu di mana manusia masih memiliki kesempatan untuk bersyukur.
Dan dia hanya bisa berharap agar hujan tak akan datang. Menghancurkan rumahnya yang tidak tahan air.
Bersambung
Jumat, 24 Februari 2012
Seri Hewan: Perkenalan
Ya, entah apa yang saya mimpikan semalam, hari ini saya menemukan buku-buku tulis sejarah penulisan saya. *halah*
Tapi memang benar. Dari dulu saya sudah menulis, namun di buku tulis. Menulis dengan tangan. Bukan seperti ini. Dulu saya belum canggih, EYD juga masih suka-suka. Semua dituang sesuka hati.
Jadi dulu saya niatnya ingin membuat buku karena melihat banyaknya penulis cilik yang datang. Dan lucunya, yang saya tahu mengirim naskah itu lewat buku tulis, bukan lewat print-out. Jadi, terciptalah sebuah karya yang saya buat dengan tulisan tangan.
Dan cerita ini salahsatunya. Saya menemukan buku tulis kumpulan-kumpulan cerita hewan yang saya rangkai sendiri saat masih sekolah dasar. Cerita ini baru sampai bab tujuh. Intinya, cerita ini belum selesai. Karena saya sudah malas melanjutkannya. -_-
Tetapi... saya akan menulis ulang kembali cerita itu lewat blog ini! Sebelumnya, ada beberapa tokoh yang ada dalam buku tulis itu:
1.Tiny (Kura-kura): Bijaksana.
2. Rabb (Kelinci) : Ceroboh.
3. Acorn (Tupai) : Lucu, IQ-nya tinggi. (Tertawalah!)
4. Hams (Hamster) : Ceria.
5. Teddy (Beruang) : Sombong.
6. Doggie (Anjing) : Ngantuk sejati.
7. Duck (Bebek) : Periang.
8. Burd (Burung Hantu) : Insomnia sejati.
Mungkin nama-namanya memang aneh-aneh. Dan tujuh bab yang saya akan ceritakan juga pasti aneh. Kepolosan akan hal-hal yang tak lucu menjadi lucu akan terlihat. Saksikan saja, ya.
Seperti yang saya bilang, saya akan menyebarkannya untuk kalian.
Selamat menikmati cerita-cerita hewan yang... absurd!
Jumat, 04 November 2011
Cinta Danbo Part 1
Anak-anak didikan tumblr pasti mengenalnya. Sebuah kardus berwarna coklat yang tidak biasa. Memiliki mata, mulut, tangan dan kaki.Dan pastinya, dia sangat lucu. (?) Fenomena Danbo sudah begitu booming. Dengan wajah polos dan lugu, dia dapat menghipnotis para manusia. Sehingga, google, tumblr, dan yang lainnya begitu bosan dengan keyword 'Danbo' yang mereka akses. Berikut adalah sebuah... cerita fiksi tentang Danbo, yang dibuat dengan tujuan iseng. Selamat dicicipi!Cerita, dimulai...
Suatu hari, hiduplah sebuah kardus yang rongsok, tapi menarik. Matanya yang bulat, kepalanya yang kotak, begitu jelas bila dilihat dari kejauhan. Tapi siapa sangka, hidupnya penuh kesendirian. Bukan selamanya sendiri, tetapi dia memang belum menemukannya. Suatu hari, ia datang ke padang rumput yang luas.
"Subhanallah..padang rumput yang menakjubkan..." ucapnya kagum. Memang, suasana di padang rumput itu memang begitu indah. Matahari yang sedikit lagi terbenam, suara perbincangan angin dengan daun dan padang rumput yang sepi.
Tapi, sesuatu telah membangunkan otaknya. Dia mendengar suatu langkah, dari kejauhan. Ia berbalik badan dan memicingkan mata bulatnya. Dari matanya, tampak sesosok yang berwujud kotak dan memiliki 2 mata. Jalannya agak condong ke ngesot... Danbo pun semakin penasaran. Siapakah dia?
Sesosok yang kotak itu semakin mendekat. Mata bulat Danbo pun semakin terbuka. Bayangan wujud 'kotak' itu semakin jelas. Dan... sesosok itu sudah didepan Danbo, tiga sentimeter dari posisinya.
Danbo hanya terdiam. Ia memperhatikan tubuh sesosok yang ada didepannya. Kotak..Memiliki dua tangan
.. dan dua mata. Danbo sama sekali tak berkedip. Entah kenapa, sesosok yang ada didepannya begitu mempesona baginya. Sampai akhirnya, sesosok itu meraih tangan Danbo, dan mengajak berkenalan."Hai..Sedang apa kamu disini? Perkenalkan, namaku Wall-E, pembersih sampah," ucap Wall-E pelan sambil tersenyum.
Danbo pun menjadi gugup. Dengan ragu dan terbata-bata, ia mengucapkan "Emm.. ya. Namaku Danbo,"
Wall-E hanya mengangguk sebisanya. "Terus, kenapa kamu berada disini?" tanya Wall-E penasaran.
Danbo semakin takjub dengan gaya bicara Wall-E. Suaranya, apa yang dibicarakan, begitu menarik dalam pikiran Danbo. "Haha..tak apa. Hanya mencari tempat yang segar. Ternyata, aku menemukannya disini."
"Kau bilang tempat ini indah?"
"Ya, indah. Sangat indah." jawab Danbo yakin.
Wall-E hanya tersenyum dan memandang padang rumput yang luas ini. "Terimakasih jika ini memang indah. Padahal, dulunya tidak begini. Dulu, padang rumput ini penuh dengan sampah. Tapi, semenjak aku membersihkannya, tak sangka akan menjadi seindah ini,"
"Kau yang membersihkannya? Sungguh? Padang ini begitu luas, Wall-E! Kau luar biasa!" tanya Danbo tak yakin.
Wall-E hanya mengangguk tersenyum. Tanpa ada isyarat, Wall-E meraih tangan Danbo, dan mengajaknya mengelilingi padang rumput. Hingga sampai... di bagian tengah padang rumput tersebut.
"Hei! Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Danbo sambil menggaruk kepalanya.
Wall-E tersenyum kembali. "Pemandangan akan lebih indah bila dilihat disini. Sekarang, baringkan tubuhmu disini,"
Tanpa kata, Danbo langsung menuruti perkataan Wall-E. Hingga ia, benar-benar melihat semua karunia Tuhan.

"Sekarang, tatap langit menjelang malam ini. Lihat gradasi warnanya. Begitu indah bukan?" tanya Wall-E sambil menunjuk langit.
"Indah! Sangat menakjubkan! Aku belum pernah melihat tempat ini sebelumnya!" seru Danbo.
"Sekarang, kau mau menjadi temanku?" tanya Wall-E.
Danbo menoleh kearah Wall-E. Tak perlu berpikir, ia langsung menjawab. "Mau! Sangat mau!" ucapnya semangat.
"Walaupun aku pembersih sampah?"
"Ya, aku tetap mau walaupun kamu itu sampahnya, misalnya."
Wall-E tersenyum kecil. Dan menatap langit kembali. "Terimakasih, Danbo.." bisiknya pelan.
Mereka pun melanjutkan menatap langit. Sesekali Danbo menatap ke arah Wall-E.
Wall-E, aku bingung ada apa pada perasaanku saat ini..
Bersambung