Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

The Cupib Team ( #1 Xiao Mei)


Halo! Kembali lagi, kali ini dengan hal yang berbeda. Saya ingin memperkenalkan dengan serial baru dari blog ini, yaitu The Cupib Team. Cerita konyol penuh dengan absurditas namun mengisi kekosongan waktu, saya anggap bisa menuang indah dalam blog ini.

Karena mulai sekarang, saya ingin menulis The Cupib Team . Tokoh-tokohnya nanti juga akan bermunculan, karena pasti, The Cupib Team bukan berisi satu orang, namun banyak. Dan juga memiliki banyak kemampuan aneh.

Episode pertama, dimulai dari gadis cina, Xiao Mei. Selamat menikmati! :D


***
Pib. Pib. Pib.

Seiring dengan deringan alarmnya yang nyaring, Mei bangkit dari ranjangnya. Tak lupa ia mengangkat kedua tangannya, meregangkan tulang punggungnya. Ia ber-hoam-lebar, mempertunjukkan dua lubang hidungnya yang besarnya bukan main. Namun, Mei tak pernah ambil pusing. Dia juga tak malu-malu menyejajarkan dua lubang hidungnya dengan sebuah goa penuh kelelawar-kelelawar yang hinggap di stalaktitnya. Karena apa?

Pib.
Rutinitasnya yang aneh bukan main mengantarkannya untuk menyandang sebuah titel kewarasan. Setidaknya, menurutnya. Bukan menurut orang lain. Karena apa? (lagi), menurut seorang Xiao Mei, semua manusia di dunia ini itu gila. Hanya beberapa yang waras. Ya, contohnya dia.

Pib.
Sebuah bunyi yang selalu ia suka. Ya, upilnya yang jatuh. Mei tak pernah tahu apakah ada kotoran hidung yang jatuh dengan sendirinya dari sebuah hidung. Mei juga tak pernah memikirkan bila apakah ada upil yang berbunyi ‘pib’ bila menyentuh permukaan. Karena seumur hidupnya peristiwa itu terlihat langka, Mei mengkalsifikasikannya menjadi kemampuan khusus. Jarang-jarang, kan, ada upil yang bisa berbunyi lucu seperti sandal anak-anak yang cit-cit-cit bila berjalan.

Pib.

Tuh, kan. Upilnya nggak terbendung lagi. Dengan mudahnya upilnya berseliweran keluar dari tempatnya tanpa ada portal yang membendung. Mei menggeleng-gelengkan kepalanya ekstra cepat, dan ajaibnya, upil-upilnya juga keluar lancar seperti meriam. Mei menyeringai, dia membayangkan bagaimana jadinya bila upilnya benar-benar meriam. Meledak di mana-mana. Kalau itu terjadi, ia bisa menggunakannya untuk menakut-nakuti Haven yang sering menyebutnya ‘Cipil’ atau sebutlah ‘Cina Upil’.

Pib.

Mei bangkit dan menuju kamar mandi. Sampai sekarang, entah mengapa ia sama sekali tidak risih atau histeris karena upilnya yang ajaib itu. Malah, dia menunggu sesuatu dari sana. Apakah upilku bisa berbunyi ‘hickory, dickory, dock, the mouse ran up the clock’?

***

Kaki-kaki kecil Xiao Mei menyusuri koridor kelasnya. Derapan kakinya yang mungil seperti sedang menapak di empuknya bantal awan. Tak terdengar. Tas kecilnya yang menghinggap di pundaknya sangat imut bila disandingkan dengan rambutnya yang dikucir dua dan indahnya, bergoyang-goyang. Seperti sungut semut bila berjalan, berbunyi tuing-tuing.

Xiao Mei pun sampai di depan kelasnya. Dan dengan santainya, ia membuka gagang pintunya dan...

“OH TIDAAK! CIPIL DATAAANG!” Suara Bob Si Gendut langsung berkeliaran di mana-mana. Tersumpal puluhan roti yang masuk di mulutnya, tak menyurutkan teriakannya yang seperti speaker masjid.

Dengan tenangnya, Xiao Mei hanya menyipitkan matanya yang sudah sipit. Sigap, ia duduk di tempatnya.

Xiao Mei duduk paling belakang, paling pojok, sendirian pula. Berbeda dengan anak-anak yang lain, yang sudah dijatahkan untuk duduk berdua sebangku. Tetapi, apa boleh buat, Xiao Mei harus mengerti. Dia berjalan dalam radius lima meter dari teman-temannya yang norak itu saja sudah ngacir duluan.

Dan benar saja, gerombolannya Haven Cs datang menghampiri meja Xiao Mei. “Eww. Jadi orang kok nggak pernah sadar, ya.” Xiao Mei hanya terdiam. Matanya benar-benar muak melihat Haven yang sok memainkan rambutnya yang panjang.

Tak mau kalah, Xiao Mei membenarkan kucir duanya, agar terus bisa bergoyang-goyang.

Dengan sinisnya, Haven gemertak. Ia menghantam meja Xiao Mei. “EH! Jangan sok ikutin gue, ya. Rambut lo itu jauh abis sama gue. Dan, rambut lo itu nggak ada yang bisa dimainin. Namanya juga Cipil. Apa, Girls?”

Dengan kompak, Ellie, Annie, Eve menyahut dari belakang Angel. “CINA UPIL!”

Kali ini, Xiao Mei benar-benar marah. Berani-beraninya seorang Haven menghina-hina kucir dua miliknya. Tidak tahukah dia bahwa gaya kucir ini peninggalan ibu Xiao Mei? Tidak tahukah bahwa rambut Xiao Mei sangat bersejarah? Rambut yang sudah dioles dengan darah semut?

Cepat, Xiao Mei memasukkan jari telunjuknya di hidung. Mengobrak-abriknya, mencari kekuatannya yang entah menyelip di mana. Seperti biasa, pencarian itu terlihat mudah. Xiao Mei langsung menyodorkan upilnya kepada Haven, dan langsung disambut dengan jeritan Haven yang terlihat basi itu.

“EWWW! CIPIL! IH! IH!” Haven kabur, kembali ke tempatnya. Ia mendelik kepada Xiao Mei, mengerucutkan bibirnya sok imut. “Ih, lo bener-bener gila, ya. Upil kok dipamer-pamerin,”
Xiao Mei hanya terdiam. Ya, itulah senjata ampuhnya selama ini. Senjata untuk melumpuhkan teman-temannya yang busuknya sama semua. Satu buah upil, yang padahal hanya benda kecil tersumbat di hidung.

Diam-diam, ia memasukkan upilnya kembali ke hidungnya.

***

Di tengah malam yang menusuk dingin, Xiao Mei masih terjaga.

Ia hanya merebahkan tubuhnya di ranjang, memperhatikan upilnya baik-baik. Sungguh, deh. Sejorok-joroknya dia, dia masih sempat untuk berpikir terakhir kalinya. Upil kan jorok. Dan upil nggak ada yang berbunyi ‘Pib’. Maksud Mama itu apa, sih, menyuruhku untuk siap sedia dengan upil di hidungku?

Xiao Mei tahu, lubang hidungnya besar. Diameter hidungnya mungkin mencapai tiga senti. Tetapi, sampai sekarang, dia benar-benar belum tahu. Mengapa almarhum mamanya memerintahkannya untuk terus berupil?

Dengan mata yang sudah meruyup suntuk, Xiao Mei terus memerhatikan salah satu upilnya baik-baik. Bulat, jumbo (bila dibandingkan dengan upil manusia normal), hijau, teksturnya tak polos, bergerigi. Ia terus memperluas matanya untuk meneliti seluk beluk upilnya.

Selang dua detik, matanya tiba-tiba terbeliak. Matanya membundar lebar, mengerjap-ngerjap beberapa kali. Ia terlonjak dari tempat tidurnya, memperhatikan upilnya yang tiba-tiba bersinar terang. Sinarnya sangat menyilaukan mata.

Mulut Xiao Mei menganga, ia tak henti-hentinya untuk takjub. Tubuhnya hanya mematung karena sendi-sendinya yang memaku. Tak bisa digerakkan. Dalam relungnya, ia sedikit berdecak, u-upilku k-kenapa?

Dan selanjutnya, semua pertanyaannya terungkap sudah. Upil yang bersinar itu melayang, berpendar menerangi ruangan. Upil itu pun bergerak, menyembulkan mata, bibir, mengeluarkan tangan dan kaki. Xiao Mei semakin dibuat terpukau.

Sinar itu semakin menyala, Xiao Mei semakin terperanjat.

Upil itu pun merekah, bibirnya mulai bergerak.

Xiao Mei semakin tergidik. Tak siap menyaksikan fenomena selanjutnya.

Dalam keheningan malam yang membungkus ruangan, sinar itu melenyap. Upil itu terus merekah, memancarkan pesonanya.

Dalam dua detik, entah mengapa upil itu ternyata berbahasa. “Hai, Xiao Mei. Selamat datang di Cupib Team!”

Bersambung

Sabtu, 04 Agustus 2012

Agen Mars (2)


Kembali lagi! :D Merasa mempunyai hutang dan ditagih keras oleh waktu, saya akhirnya angkat tangan. Memungut satu kata demi kata, menyerahkannya pada tangan yang terus menengadah. Tangan apa? Tangan panjang berwarna putih polos. Kertas.

***
Ah, itu dia! Kardus-kardus bekas!
Matanya merona seketika. Menghunus sebuah benda di seberang jalan. Layaknya filem dengan sebuah kilat yang terus melewat. Kendaraan terlalu cepat sehingga membuyarkan semuanya.
Kakinya mulai melangkah tanpa ragu. Sekilas senyum mengiringi langkah kecilnya. Berbinar memanah kumpulan kardus-kardus tak bermajikan itu.
Sebuah mobil dari arah jauh melaju dengan cepat. Berlomba dengan cahaya, bunyi dan gerombolannya. Termasuk, langkah kecil Mimi.
Mimi, yang terlalu asyik dengan penemuannya tak peduli soal itu. Tak ada longokan, tak ada tengokan. Pasrah dengan apa yang akan menghantamnya. Bertaruh, kardus itu lebih penting dari nyawanya.
Mobil semakin dekat, tetapi tidak ada antisipasi. Mimi terus berlari kencang, sama seperti mobil tadi, yang akan menghadangnya.
Benar saja, selang dua detik, teriakan sudah membahana. Menggores luka yang pedih terhadap mata. Pemandangan pilu sudah bisa mengiris hati para manusia yang melihatnya.

***
Di Rumah Sakit, Budi benar-benar goyah. Dia benar-benar tidak terkendali. Keringat dingin sudah menetes hingga jatuh tak terhitung. Perasaan takut sudah bergetar kencang, membunyikan lonceng hatinya.
Mimi, Mimi, Mimi.
Nama yang terus terngiang di telinga Budi. Sejak tetangganya mengabarkan bahwa Mimi mengalami kecelakaan, hatinya tidak terus berhenti berceloteh. Buih-buih mata sudah siap di belakang panggung. Opera menyedihkan akan segera disibak, berlatar sebuah fiksi yang belum diungkap.
Kini, dia sudah berada di samping adiknya yang terbaring lemas. Matanya mengatup, senyum tak lagi muncul. Sejumlah harapan terus bermunculan di tengah tangis yang sangat menyesakkan hati.
Bangun Mimi, bangun.
Tak henti ia merapal kalimat sejenis itu. Berkali-kali, hingga kalimat itu seperti menjelma menjadi mantra, menjadi napas baru yang menembus tubuh adiknya, hingga Mimi menggerakkan tangannya dan matanya terbuka dengan sangat berat.
“Kak…”
Budi mendongak pelan. Wajahnya ingin sumringah, tetapi entah mengapa tidak bisa. Tangannya langsung menghampiri tangan Mimi. “Mimi…”
Dengan gerakan mulut yang berat, Mimi mengucap, “Kak, tolong jaga bumi, ya. Mimi nggak yakin, Mimi bisa mengabdi lebih lama,”
Budi menganga, menggeleng-geleng. Tangisnya mengucur dengan spontan. “Nggak, Mimi. Kamu itu kuat, kamu bisa menjalani semua ini, Mi,”
Mimi mencoba tersenyum simpul, menyebarkan keindahan. “Mimi ingin yakin, namun rasanya susah, Kak. Mimi hanya sadar, bahwa misi kita itu kekal, sedangkan Mimi tidak,”
“Mi, kamu itu pernah bilang, kamu ingin menjalani misi dengan giat, kamu pernah bilang kamu mau menjadi alien Mars yang baik. Kamu masih ingat, kan? Kamu masih mau seperti itu, kan? Kamu harus bangkit, Mi. Kakak nggak bisa berdiri sendirian,” Tangisnya semakin menyesakkan pita suara. Tercekat dalam segenggam kesedihan. Kesedihan yang sama seperti saat ingin kehilangan ayahnya. Ayahnya, yang merangkai semua cerita ini dengan indah, hingga dirinya dan adiknya percaya, bahwa semua itu benar adanya. Percaya bahwa dirinya adalah makhluk asing yang diturunkan di bumi dengan sejumlah misi, menyelamatkan bumi dari bahaya. Dirinya tahu, itu konyol. Itu fana. Tetapi, dia percaya. Sangat percaya.

...Budi, ayah ingin bilang sekali lagi, rawatlah bumi seperti kamu mencintai hidup. Kamu hanya cukup berpikir, zaman masih membentang luas. Generasi Mars masih menunggu di belakang. Kita, alien-alien kecil hanya cukup menjalani misi dengan sebaik-baiknya. Mars sangat sayang kepada Bumi, Budi. Ketauhilah.

Mimi tersenyum kecil, “Mimi bukan alien, Kak,”

...Nanti, jika ayah lebih dulu kembali ke Mars, meninggalkanmu dan adikmu sendirian, tak usah khawatir. Kamu tinggal menurunkan rahasia hidup ini kepada adikmu dan berkata: sayangilah bumi seperti Mars menyayangi Bumi. Bilang kepadanya, kita adalah alien ajaib, bukan manusia biasa. Jangan mengungkap cerita ini terlalu cepat, Budi. Karena adikmu pasti akan mengetahuinya lebih cepat. Jangan cemas.

“M...Mimi?”
“Mimi itu manusia biasa, Kak. Mimi sama seperti manusia lainnya, berpijak di tanah, lahir di bumi dengan menembus rahim masing-masing,” Mimi mengambil napas panjang, berusaha untuk kuat dalam mengutus kata-kata. “Tetapi tak ada yang salah, Kak. Cerita fiksi itu benar-benar membuat kita kuat, sekaligus berbeda,”

Saat dia beranjak dewasa, dia akan mengetahui segalanya. Dirinya akan menyadari, cerita ini akan membuat kita berbeda. Cerita belaka dari Ayah ini akan menguatkan jalinan kalian. Ini yang akan menopang hidup kalian, percayalah.

Budi menyeka air matanya, terharu melihat drama yang akan segera berakhir ini. Cerita yang akan berwujud dalam butiran debu hingga berbaur dengan luasnya udara. Tak memandang arah.
“Cerita ayah membuat Mimi lebih mensyukuri hidup, Kak. Cerita ayah yang membuat Mimi kuat di balik segala keterbatasan,”
“Tapi, Mi. Mimi jangan tinggalin Kakak lebih dulu. Kita harus menjalankan misi ini sampai selesai. Bumi masih butuh bantuan kita, Mi. Masih banyak orang-orang jahat di bumi ini,” Budi semakin terisak tangis. Dia benar-benar tidak siap menutup semua lembaran cerita ini.

...Sampai pada saatnya, kita memang harus menutup lembaran cerita ini semua. Karena jika kita sudah membuka, kita harus berani untuk menutup, Budi. Tak usah cemas, penutup tak selalu mengerikan. Alien-alien yang diutus Mars masih tetap ada di luar sana. Masih ada orang yang bersifat layaknya penghuni Mars. Tak usah khawatir, Budi.

Budi menangis dengan derasnya. Dia merasakan atmosfer yang sama saat memori-memori mengingatkannya kepada perbincangan empat mata dengan ayahnya, saat kematian sedang mendekat. Namun dirinya tak lagi-lagi siap. Menutup semuanya. Dia belum siap.
Mimi menggerakkan tangannya dengan berat, menatap mata Budi yang sudah penuh dengan air. “Kakak jangan nangis. Mimi yakin, Kakak masih bisa menjalani misi walau tanpa Mimi. Mimi yakin, kok, soalnya Kakak selalu ikhlas menjalani hidup. Walau hanya terus memungut sampah, tetapi Kakak ikhlas. Itu yang buat Mimi yakin,”
“Mimi...” lirih Budi dengan membalas tatapannya. Tatapan lurus dengan menegaskan kata-kata.
“Maafkan Mimi belum sempat memberi kenang-kenangan untuk Kakak, ya. Namun Mimi hanya ingin titipkan kepercayaan kepada Kakak. Mimi serahkan peran Mimi dalam misi ini untuk Kakak,”
Budi tidak bisa lagi berkata-kata. Terbata-bata pun tidak. Hanya tangis yang menjelaskan semuanya.
“Kak, sayangilah bumi seperti Mars menyayangi Bumi. Ubahlah bumi menjadi planet yang indah. Bahagiakanlah seluruh manusia di muka bumi. Karena Kakak, tak pernah sendiri. Mimi dan Ayah, akan memantau Kakak dari teropong di planet Mars,”
Tiba-tiba napas Mimi mulai sesak. Jantungnya bertalu tak beraturan. Tenggorokannya tercekat dengan keras. Sebuah ruh akan direnggut pada saat yang bersamaan. Meninggalkan raga yang sudah menjadi teman lama.
Mata Mimi mendelik, mengucap dengan tergagap-gagap, “...Kak, tolong jaga bumi, ya...”
Tatapan kosong Mimi berubah menjadi mata yang menutup. Kepalanya terbaring lemas dengan senyum yang mencerah. Wajahnya menampakkan senyum bahagia dalam sebuah perpisahan yang manis.
Budi teriak diiringi tangis yang semakin membanjir, menggenggam tangan Mimi dengan erat. Membelai rambut panjang adiknya yang sangat ia puja. Lagi-lagi dia harus kehilangan orang yang ia amat sayangi.
“Ya, Mimi. Kakak selalu ingat. Selalu,” Budi memeluk tubuh adiknya erat dengan air mata yang terus mengalir di tebing pipinya.
Dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Mimi, berharap adiknya masih bisa mendengar sebuah bisikan cinta terakhir darinya.
“Kakak janji, Mimi. Kakak janji. Kakak, akan menjadi agen Mars yang bisa membahagiakan bumi, manusia, dan kamu,”

Budi, waktu memang terus berperan. Perlahan, alien-alien akan kembali ke planet asalnya. Tapi tak usah khawatir, kau jalankan saja misimu dengan sebaik-baiknya. Karena kami, akan selalu menontonmu dalam teropong Mars yang amat jauh, namun dekat di hati.



...Selamat menjadi agen Mars, Budi.

SELESAI

Minggu, 26 Februari 2012

Kolaborasi Mimpi (1)

Sebenarnya post ini adalah naskah sayembara yang tak jadi kukirim. Karena... saya salah membaca kriteria dan syaratnya! :]. Awalnya, naskah ini akan saya kirim untuk 'Andrea Hirata Song Book', namun... ternyata cerita itu harus berdasarkan kisah nyata. Bukanlah fiksi. *melengos*. Jadi, daripada naskah ini mematung di dokumen tanpa ada yang baca, saya post disini. Karena terlalu panjang, saya bagi menjadi beberapa bagian.

Selamat... membaca!

***

Secercah bayangan selalu mengikuti langkah mereka. Bayangan yang tak pernah mengeluh kesah atas keringat yang terus membanjir. Bayangan yang menjadi teman berkelana yang paling setia bagi mereka. Bayangan tak pernah menolak ingin dibawa kemana oleh mereka. Bayangan selalu membuyuti dan pasrah walaupun akan diajak ke tempat yang paling menjijikan.

Bayangan tak pernah menolak jika ditakdirkan harus mengikuti manusia. Sekalipun manusia itu beruntung atau tidak, bayangan tetap harus menjalankan tugasnya.

“Kak, kita akan berhenti kapan?” celoteh adiknya. Ia terus menyeka keringat yang mengguyur tubuhnya basah. Mengangkut karung beras yang berisi sejumlah sampah bukan suatu hal yang mudah bagi seorang bocah kecil.

Kakaknya memandangnya letih. Berjalan dan memunguti sampah yang ada memang sangat melelahkan. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak takdir yang sudah menghantam hidupnya keras. Dia juga tidak boleh menyesali hidup. Dia diutus untuk ke dunia, bukan karena niat sia-sia. Dirinya yakin, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk dirinya agar hidup.

“Sedikit lagi. Sampahnya juga sedikit lagi. Jika kita tak mau ditampar Bang Boni,” cetus kakanya pelan. Matanya menerawang wajah Bang Boni yang marah bila dia dan adiknya tidak bisa mengumpulkan sampah yang lebih banyak. Namun memang Bang Boni harapan hidupnya saat ini. Bila dirinya tidak menemukan Bang Boni, dia yakin dia tidak bisa terus melangkah sampai sekarang.

Adiknya mengernyitkan bibir mungilnya. Menghela napas berat dan menaikkan karung ke pundaknya lebih kuat.

Sementara kakaknya menyunggingkan senyum kepastian. Merangkul adiknya dengan rasa bangga yang membahana. Jika dunia bertanya siapa bocah-bocah yang mengerti arti kehidupan, mereka akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambai-lambai agar lebih jelas.

Karena arti kehidupan tidak terbatas, sementara hidup terbatas. Namun keterbatasan hidup bukanlah dinding penghalang untuk terus mencari. Mencari makna dan tujuan mereka terlahir di dunia.

Bayangan mereka lagi-lagi tersenyum. Terbahak kecil melihat dua siluet yang merangkul satu sama lain. Dan merasa bangga menjadi bayangan jejak bahagia mereka.


***

Manusia lain selalu membuang sisa.

Namun mereka selalu memanfaatkan sisa.

Dibawah matahari yang akan segera menutupi permukaan, mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing.

Damar sedang sibuk dengan botol mineral bekas. Membuat lubang di sana dan menancapkan potongan kardus. Membuat baling-baling dan membuat sayap. Membayangkan sedikit harapan yang akan sangat membekas.

Sementara Dio bercengkrama dengan kardus yang lebih besar. Mengerutkan kening dan memutar otak sejenak. Sketsa-sketsa bangunan bertumbuk menjadi satu di benaknya. Tak jarang ia menampilkan senyum jika menemukan ide yang fantastis untuk dipraktekkan.

Jemari Dio tampak lihai menggunakan pisau bekas. Pisau lipat yang sudah berkarat tanpa menghiraukan bahwa ada bibit tetanus di sana. Dengan tenaganya, dia berhasil memotong kardus itu menjadi beberapa bagian dan merangkainya perlahan.

Sedangkan Damar sibuk memutar baling-baling pesawat mainan barunya. Berandai-andai bahwa terbang ke langit sangatlah indah. Menembus awan-awan dan berada lebih tinggi dari burung-burung. Mengenakan seragam pilot yang gagah. Bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang dititipkan padanya.

Damar bangkit berdiri. Berputar dan berlari membawa pesawat mainannya. Membiarkan baling-baling pesawatnya diterpa angin kencang. “Pesawat Damar Indonesia akan melaju kencang menuju benua Eropa!” teriaknya bahagia. Kakinya melompat gembira. Menyentuh bumi tanpa alas kaki. Mengajak dunia untuk bersorak sorai bersamanya. Mengajak angin yang menghempas untuk menari bersamanya.

Dio memicingkan mata. Siluet adiknya menari-nari di bawah senja. Memancarkan senyum dan radar mimpi yang akan terwujud. Dia membuang peluhnya puas. Dia menepuk tangannya keras dan meneriakkan nama adiknya.

“Damar!”

Tarian itu berhenti. Damar membalikkan badan dan menatap sumber suara yang memanggil namanya. Kakaknya berada di samping sebuah bangunan berbentuk kubus. Bangunan yang menyerupai tempat berteduh. Bangunan yang memiliki sebuah atap. Bangunan tempat berlindung. Rumah! Dia memiliki rumah!

Damar berlari-lari kecil dengan bibir yang merekah layaknya bunga. Menuju dekapan peluk yang telah disiapkan Dio. Memeluk kakaknya erat dengan butir-butir air mata turun tanpa diundang.

“Kita memiliki rumah, Kak?” tanya Damar dengan tangisan yang masih terisak. Baru kali ini ia menangis karena bahagia. Segera ia memasuki rumah barunya tak sabar. Senyumnya tak berhenti mengembang. Dia terkagum-kagum walau rumahnya berisi tanpa perabotan. Dia tidak mengeluh walau rumahnya terbuat dari kardus.

“Walaupun sempit, setidaknya kita tidak perlu tidur di depan ruko Pak Raja, kan?” Dio merangkul adiknya. Senyumnya tak berhenti mengempis. Rumah memang menjadi dambaannya sejak harus hidup berdua dengan adiknya. Sejak mereka ditinggal maut oleh kedua orangtuanya.

“Dan kita tidak akan diomeli Pak Raja lagi!”

Dio tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Melihat adiknya bahagia itu sudah lebih dari cukup. Mungkin ini jawabannya. Jawaban mengapa ia masih harus melanjutkan hidup. Jawaban mengapa ia tidak ikut bersama orangtuanya ke alam sana. Ya, dia masih memiliki satu malaikat yang harus dilindungi, Damar.

Dio membuang napas panjang. Tak henti ia mengucap syukur. Tuhan selalu menyisakan bahagia bagi makhluknya. Kebahagiaan memang bukan harta. Namun adalah waktu di mana manusia masih memiliki kesempatan untuk bersyukur.

Dan dia hanya bisa berharap agar hujan tak akan datang. Menghancurkan rumahnya yang tidak tahan air.

Bersambung


Jumat, 24 Februari 2012

Seri Hewan: Perkenalan

Saya harus mengucapkan 'halo' lagi? :-)
Ya, entah apa yang saya mimpikan semalam, hari ini saya menemukan buku-buku tulis sejarah penulisan saya. *halah*

Tapi memang benar. Dari dulu saya sudah menulis, namun di buku tulis. Menulis dengan tangan. Bukan seperti ini. Dulu saya belum canggih, EYD juga masih suka-suka. Semua dituang sesuka hati.

Jadi dulu saya niatnya ingin membuat buku karena melihat banyaknya penulis cilik yang datang. Dan lucunya, yang saya tahu mengirim naskah itu lewat buku tulis, bukan lewat print-out. Jadi, terciptalah sebuah karya yang saya buat dengan tulisan tangan.

Dan cerita ini salahsatunya. Saya menemukan buku tulis kumpulan-kumpulan cerita hewan yang saya rangkai sendiri saat masih sekolah dasar. Cerita ini baru sampai bab tujuh. Intinya, cerita ini belum selesai. Karena saya sudah malas melanjutkannya. -_-

Tetapi... saya akan menulis ulang kembali cerita itu lewat blog ini! Sebelumnya, ada beberapa tokoh yang ada dalam buku tulis itu:

1.Tiny (Kura-kura): Bijaksana.
2. Rabb (Kelinci) : Ceroboh.
3. Acorn (Tupai) : Lucu, IQ-nya tinggi. (Tertawalah!)
4. Hams (Hamster) : Ceria.
5. Teddy (Beruang) : Sombong.
6. Doggie (Anjing) : Ngantuk sejati.
7. Duck (Bebek) : Periang.
8. Burd (Burung Hantu) : Insomnia sejati.

Mungkin nama-namanya memang aneh-aneh. Dan tujuh bab yang saya akan ceritakan juga pasti aneh. Kepolosan akan hal-hal yang tak lucu menjadi lucu akan terlihat. Saksikan saja, ya.

Seperti yang saya bilang, saya akan menyebarkannya untuk kalian.

Selamat menikmati cerita-cerita hewan yang... absurd!

Jumat, 04 November 2011

Cinta Danbo Part 1

Anak-anak didikan tumblr pasti mengenalnya. Sebuah kardus berwarna coklat yang tidak biasa. Memiliki mata, mulut, tangan dan kaki.Dan pastinya, dia sangat lucu. (?) Fenomena Danbo sudah begitu booming. Dengan wajah polos dan lugu, dia dapat menghipnotis para manusia. Sehingga, google, tumblr, dan yang lainnya begitu bosan dengan keyword 'Danbo' yang mereka akses. Berikut adalah sebuah... cerita fiksi tentang Danbo, yang dibuat dengan tujuan iseng. Selamat dicicipi!


Cerita, dimulai...

Suatu hari, hiduplah sebuah kardus yang rongsok, tapi menarik. Matanya yang bulat, kepalanya yang kotak, begitu jelas bila dilihat dari kejauhan. Tapi siapa sangka, hidupnya penuh kesendirian. Bukan selamanya sendiri, tetapi dia memang belum menemukannya. Suatu hari, ia datang ke padang rumput yang luas.

"Subhanallah..padang rumput yang menakjubkan..." ucapnya kagum. Memang, suasana di padang rumput itu memang begitu indah. Matahari yang sedikit lagi terbenam, suara perbincangan angin dengan daun dan padang rumput yang sepi.

Tapi, sesuatu telah membangunkan otaknya. Dia mendengar suatu langkah, dari kejauhan. Ia berbalik badan dan memicingkan mata bulatnya. Dari matanya, tampak sesosok yang berwujud kotak dan memiliki 2 mata. Jalannya agak condong ke ngesot... Danbo pun semakin penasaran. Siapakah dia?

Sesosok yang kotak itu semakin mendekat. Mata bulat Danbo pun semakin terbuka. Bayangan wujud 'kotak' itu semakin jelas. Dan... sesosok itu sudah didepan Danbo, tiga sentimeter dari posisinya.

Danbo hanya terdiam. Ia memperhatikan tubuh sesosok yang ada didepannya. Kotak..Memiliki dua tangan.. dan dua mata. Danbo sama sekali tak berkedip. Entah kenapa, sesosok yang ada didepannya begitu mempesona baginya. Sampai akhirnya, sesosok itu meraih tangan Danbo, dan mengajak berkenalan.

"Hai..Sedang apa kamu disini? Perkenalkan, namaku Wall-E, pembersih sampah," ucap Wall-E pelan sambil tersenyum.

Danbo pun menjadi gugup. Dengan ragu dan terbata-bata, ia mengucapkan "Emm.. ya. Namaku Danbo,"


Wall-E hanya mengangguk sebisanya. "Terus, kenapa kamu berada disini?" tanya Wall-E penasaran.

Danbo semakin takjub dengan gaya bicara Wall-E. Suaranya, apa yang dibicarakan, begitu menarik dalam pikiran Danbo. "Haha..tak apa. Hanya mencari tempat yang segar. Ternyata, aku menemukannya disini."

"Kau bilang tempat ini indah?"

"Ya, indah. Sangat indah." jawab Danbo yakin.

Wall-E hanya tersenyum dan memandang padang rumput yang luas ini. "Terimakasih jika ini memang indah. Padahal, dulunya tidak begini. Dulu, padang rumput ini penuh dengan sampah. Tapi, semenjak aku membersihkannya, tak sangka akan menjadi seindah ini,"

"Kau yang membersihkannya? Sungguh? Padang ini begitu luas, Wall-E! Kau luar biasa!" tanya Danbo tak yakin.

Wall-E hanya mengangguk tersenyum. Tanpa ada isyarat, Wall-E meraih tangan Danbo, dan mengajaknya mengelilingi padang rumput. Hingga sampai... di bagian tengah padang rumput tersebut.

"Hei! Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Danbo sambil menggaruk kepalanya.

Wall-E tersenyum kembali. "Pemandangan akan lebih indah bila dilihat disini. Sekarang, baringkan tubuhmu disini,"

Tanpa kata, Danbo langsung menuruti perkataan Wall-E. Hingga ia, benar-benar melihat semua karunia Tuhan.

"Sekarang, tatap langit menjelang malam ini. Lihat gradasi warnanya. Begitu indah bukan?" tanya Wall-E sambil menunjuk langit.

"Indah! Sangat menakjubkan! Aku belum pernah melihat tempat ini sebelumnya!" seru Danbo.

"Sekarang, kau mau menjadi temanku?" tanya Wall-E.

Danbo menoleh kearah Wall-E. Tak perlu berpikir, ia langsung menjawab. "Mau! Sangat mau!" ucapnya semangat.

"Walaupun aku pembersih sampah?"

"Ya, aku tetap mau walaupun kamu itu sampahnya, misalnya."

Wall-E tersenyum kecil. Dan menatap langit kembali. "Terimakasih, Danbo.." bisiknya pelan.

Mereka pun melanjutkan menatap langit. Sesekali Danbo menatap ke arah Wall-E.

Wall-E, aku bingung ada apa pada perasaanku saat ini..


Bersambung