Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

Jawaban Mama



Ada jutaan metafora di balik seringai malam. Ada banyak berkas rindu yang berhamburan, mengarus bersama hembusan udara malam. Aku selalu percaya bahwa malam tak selamanya kelam. Aku pun juga percaya bila malam bukanlah wajah yang penuh muram. Karena dalam malam, banyak noktah-noktah pembangkit misteri yang lama tenggelam. Datang dengan perlahan, dan pergi saat mata kita terpejam. Bayangkanlah, aku tahu kalian pasti akan paham.
Sampai sekarang, banyak malam yang kulalui dengan torehan kisah. Ada kisah yang kupikirkan sendiri, ada kisah teman sekolahku yang terbawa hingga ke rumah, ada cerita dalam setitik bintang, atau bahkan sekadar bulan yang mendesah. Tetapi, tak ada yang lebih istimewa dibandingkan jawaban Mama yang selalu meriah. Menarik sekat jiwaku yang telah lelah, hingga siap mendengarkan lagi jawaban Mama yang begitu indah.
Mungkin, ini terdengar aneh. Tetapi, kami berdua selalu sukses terkekeh.
Jadi, aku memiliki sejumput ritual yang kulakukan bersama Mama sebelum tidur. Kebiasaan aneh yang sebenarnya lebih berujung ke arah ngawur. Ritual itu berwujud... sejumlah pertanyaan bodohku yang kulontarkan kepada Mama, dan Mama harus menjawabnya, hingga aku puas melindur. Hingga Mama terkadang ikut mengantuk, terseret-seret waktu yang perlahan mengendur. Memang, jawaban Mama tak sepenuhnya jujur. Tetapi, selalu manjur membawaku menuju alam tidur.
“Sudah malam, saatnya kita tidur.” Mama mulai menarik tirai jendela. Sigap, aku melompat ke ranjang, tempat segala kisah bermula. Mama mematikan lampu, dan dunia terasa buta. Rengkuhan selimut membungkus tubuhku berada. Mama duduk di sampingku, dengan bantal yang siap menyangga punggungnya. Bintang, bulan, semua makhluk malam serasa merangkum kami dalam satu buana. Buana milik kami bersama. 
Dalam gelap, pendar bulan ternyata sanggup menembus jendela kamarku yang tipis. Sinar bintang pun ikut-ikutan merintis. Aku meringis. Gigiku muncul berbaris. Gelap ternyata tak membuat aku menangis. Justru, berbagai rasa aneh yang biasanya muncul, kini tak bisa aku gubris. Termasuk, kepingin pipis.
Aku mencoba memejamkan mata. Dalam satu detik, gelap segera menyerobot hingga membuai netra. Ah, ternyata berdoa lebih nyaman begini rasanya. Dengan mata terpejam, lirih doa dalam jiwa, bintang warna-warni di kelopak mata yang mengatup ... aku berdoa semoga aku bermimpi indah, dan keluargaku juga. Atau, siapa tahu semua keluargaku bermimpi sama. Bertemu di suatu tempat, lalu menertawakan keajaiban yang ada.
“Sudah berdoa?” ujar Mama tiba-tiba.
Aku membuka mata, menyimpulkan senyum pendek. “Sudah, dalam hati.”
Sunyi melewati kami dengan takzim, menyisihkan hening malam yang terasa dingin. Aku menyengir, ini waktunya bermain. Bukan maksudku ingin minta dikelonin, tetapi aku iseng saja ingin mengajukan pertanyaan yang terkadang membuat pusing. Segera kucari kumpulan pertanyaanku yang selalu kuajukan kepada Mama setiap malam, bahkan kususun urutannya. Ya, urutan pertanyaan-pernyataan itu.
“Ma, kupu-kupu itu indah, kan?”
Mama melenguh, aku tahu hatinya mengeluh. Siapa sih yang nggak bosan setiap hari diajukan pertanyaan yang sama? Dengan nada  tenang, ia menyahut sungguh, “Indah, lah...”
Aku bernapas lega, bagus kalau Mama masih ingin menyahut. Tak perlu aku memberengut. “Kupu-kupu kan dulunya ulat, tetapi ulat itu kan jelek banget, Ma. Kok bisa jadi indah seperti kupu-kupu begitu sih, Ma?”
Mama menghela napas. Banyak makna yang sebenarnya terjejas. Tetapi, ia lebih memilih bungkam, menjawab dengan bebas, “Ada fasenya. Ulat yang kata kamu jelek itu merajut benang-benang putih, hingga membekapi tubuh ulat itu sendiri. Nah, itu yang disebut kepompong. Lalu, beberapa hari kemudian, tukutukutuk... kepompong itu menetas, menjadi seonggok makhluk yang mengibarkan sayap indahnya, hingga terbang bebas... jauh ... ke langit ...”
Aku menatap langit-langit kamar. Meresapi jawaban Mama yang tak pernah hambar. Sebenarnya, itulah yang aku cari. Jawaban Mama yang memapahkanku menuju lingkaran imaji tak bertepi. Membawa pikiranku pergi, tetapi tetap bersama realita yang menanti. Urusan jawaban, aku sudah tahu sendiri. Bu Guru di sekolahku sudah menerangkannya berkali-kali.
“Kalau kangguru, kenapa ada kantung di perutnya, Ma?” tanyaku lagi.
Mama terdiam. Aku menunggu. Bisa jadi dia mencari jawaban baru, atau mengingat jawaban apa yang ia berikan kepadaku pada malam-malam sebelumnya. “Oooh, itu. Kalau nggak ada kantungnya, anaknya mau diletakkan di mana? Kasihan kan, anaknya ...”
Mama tertawa, sedangkan aku hanya mengangguk-angguk. Banyak makna yang harus kureguk. Satu demi satu, bagaikan menenggak susu bubuk.
“Macan tutul sebenarnya kan nggak galak ya, Ma?” celetukku lagi.
Mama tercenung. Merenung. Dan sepertinya logika harus terpaksa digantung. “Eeeh... iya.”
“Iya, sebenarnya kalau kita nggak deketin, dia nggak akan marah ya, Ma? Tetapi, kenapa kalau kita jauh dia nggak marah?”
Mama berdeham. Pertanyaanku saja mungkin ia tak paham. “Dia nggak akan marah kalau nggak diganggu. Oleh karena itu, kita lihatnya dari arah yang jauh, memang untuk apa sih lihat dekat-dekat?”
“Ma, mengapa Mickey harus sama Minnie, sedangkan Donald harus dengan Daisy?”
“Ya, mungkin karena mereka sejenis. Tikus dengan tikus, bebek dengan bebek.”
“Kalau Winnie the Pooh kok suka madu? Dia kan bukan lebah?”
“Tetapi dia beruang madu.”
“Kalau kelinci kenapa suka wortel, Ma?”
“Kan wortel mengandung vitamin A.”
“Ma, kenapa kalau malam kita harus tidur?”
“Memangnya kamu nggak capek seharian ini? Kita semua kan butuh istirahat.”
Aku tertegun. Semua kesadaranku terlonjak bangun. Rekaman-rekaman gambar bergilir masuk ke otakku, berbaris hingga tersusun-susun. Ah, mungkin ini alasannya mengapa aku selalu mengajukan pertanyaan kepada Mama setiap malam, karena Mama selalu menuntun. Menuntun aku menuju gerbang mimpi, meresapi gejolak diri, menyibak Nirwana hati. Tak peduli lagi dengan teori-teori basi. Lagipula, bukankah itu yang susah dicari? Bukankah ‘rasa’ yang mendukung segala tetek-bengek teori? Bukankah rasa percaya yang membuat teori terpatri pasti di dunia ini?
“Ma, apakah setiap manusia bisa menepuk lalat? Kan susah banget ...”
“Ma, jerapah kok lehernya panjang?”
“Ma, gajah kok bisa punya belalai?”
“Ma, ini kok bisa...”
“Ma, kalau ini...”
“Ma...”
Dengan segala kesabarannya, Mama menerangkan dengan hati-hati. Mulai dari jawaban yang logis atau pun tidak, aku tetap sukses dibuatnya terdiam pasi. Membuat mulutku terjahit rapat, tak dapat menyela, menyergah, atau menentang jawaban Mama yang tak pernah basi. Tak akan mati. Karena, jawaban Mama penuh dengan sebilah hati. Tak berlandaskan teori, tetapi selalu membulat pasti.
Sebab itulah, kualirkan segala ceritaku, kisahku, segalanya yang terjadi pada hari yang sudah kulalui, kepada Mama. Kuceritakan kisahku di sekolah, di perjalanan, di mana pun, karena aku tahu, Mama tak akan bosan menanggapi. Mama selalu memberikan celetukan yang tak pernah sepi, selalu rapi, sekaligus menyejukkan lereng hati. Bahkan, aku tak segan-segan mengarang cerita, mengarang sosok ‘teman’ di sekolah yang sebenarnya tak ada, meminta saran terhadap apa yang sebenarnya tak terjadi, karena aku tahu, Mama selalu memiliki solusi. Apa saja. Walaupun pertanyaanku itu belum terjadi, walaupun sebuah kejadian belum padat akan bukti, tetapi Mama selalu bisa menunjukkan jalan terdekat, terapat, terhangat, terpadat ... akan sebuah makna ... kepada aku, si Manusia Pencari. Pencari tambatan arti.
Sebenarnya ada satu pertanyaan yang sudah lama berkecamuk dalam otakku, tetapi tak sekalinya aku tanyakan kepada Mama : Mama memang tak bosan ya, menjawab puluhan pertanyaanku? Bahkan, kutanyakan hal itu kepada diriku sendiri, seolah membalikkan cermin, hingga terpatut bayanganku sendiri, seorang diri : dan memangnya kamu tak bosan bertanya tentang hal yang sama kepada Mama setiap malam?
Ternyata, setiap malam, setiap pertanyaan-pertanyaan anehku yang berhasil Mama terjang, tercipta sebuah jawaban, bagi satu pertanyaan yang tergantung lama dalam otakku. Dan aku mengerti hal itu sekarang. Aku puas. Aku cukup terbelalak, dengan sebuah senyum yang membentang...
Jawaban Mama-lah yang membawaku tidur, menuntunku ke alam mimpi, merengkuh realita dalam hati, dan siap memanggilku bila matahari telah menggandeng pagi.

***
Malam itu, gemerisik daun mengecup desauan angin mesra. Bulan merapatkan spasinya dengan bintang, agar saling mengumbar cinta. Burung-burung bertengger, rumput-rumput bergoyang lihai, danau tampak tenang nan stagnan, seolah mengundang kasih di tungku angkasa.
Malam itu, di situlah kelopak mataku mengatup, bibirku menutup, tak lagi menjorokkan tanya. Aku habis oleh kata-kata. Aku kalah telak bersama teori tak berjiwa. Aku digilas berbagai macam rasa. Jawaban Mama berhasil mengantarku menuju alam maya, dengan sebagaimana mestinya.
“Semoga mimpi indah...” Mama keluar kamar, dengan jawaban yang masih menggetarkan debar.

Kebayoran Lama
Sofwan Rizky

Sabtu, 04 Agustus 2012

Agen Mars (2)


Kembali lagi! :D Merasa mempunyai hutang dan ditagih keras oleh waktu, saya akhirnya angkat tangan. Memungut satu kata demi kata, menyerahkannya pada tangan yang terus menengadah. Tangan apa? Tangan panjang berwarna putih polos. Kertas.

***
Ah, itu dia! Kardus-kardus bekas!
Matanya merona seketika. Menghunus sebuah benda di seberang jalan. Layaknya filem dengan sebuah kilat yang terus melewat. Kendaraan terlalu cepat sehingga membuyarkan semuanya.
Kakinya mulai melangkah tanpa ragu. Sekilas senyum mengiringi langkah kecilnya. Berbinar memanah kumpulan kardus-kardus tak bermajikan itu.
Sebuah mobil dari arah jauh melaju dengan cepat. Berlomba dengan cahaya, bunyi dan gerombolannya. Termasuk, langkah kecil Mimi.
Mimi, yang terlalu asyik dengan penemuannya tak peduli soal itu. Tak ada longokan, tak ada tengokan. Pasrah dengan apa yang akan menghantamnya. Bertaruh, kardus itu lebih penting dari nyawanya.
Mobil semakin dekat, tetapi tidak ada antisipasi. Mimi terus berlari kencang, sama seperti mobil tadi, yang akan menghadangnya.
Benar saja, selang dua detik, teriakan sudah membahana. Menggores luka yang pedih terhadap mata. Pemandangan pilu sudah bisa mengiris hati para manusia yang melihatnya.

***
Di Rumah Sakit, Budi benar-benar goyah. Dia benar-benar tidak terkendali. Keringat dingin sudah menetes hingga jatuh tak terhitung. Perasaan takut sudah bergetar kencang, membunyikan lonceng hatinya.
Mimi, Mimi, Mimi.
Nama yang terus terngiang di telinga Budi. Sejak tetangganya mengabarkan bahwa Mimi mengalami kecelakaan, hatinya tidak terus berhenti berceloteh. Buih-buih mata sudah siap di belakang panggung. Opera menyedihkan akan segera disibak, berlatar sebuah fiksi yang belum diungkap.
Kini, dia sudah berada di samping adiknya yang terbaring lemas. Matanya mengatup, senyum tak lagi muncul. Sejumlah harapan terus bermunculan di tengah tangis yang sangat menyesakkan hati.
Bangun Mimi, bangun.
Tak henti ia merapal kalimat sejenis itu. Berkali-kali, hingga kalimat itu seperti menjelma menjadi mantra, menjadi napas baru yang menembus tubuh adiknya, hingga Mimi menggerakkan tangannya dan matanya terbuka dengan sangat berat.
“Kak…”
Budi mendongak pelan. Wajahnya ingin sumringah, tetapi entah mengapa tidak bisa. Tangannya langsung menghampiri tangan Mimi. “Mimi…”
Dengan gerakan mulut yang berat, Mimi mengucap, “Kak, tolong jaga bumi, ya. Mimi nggak yakin, Mimi bisa mengabdi lebih lama,”
Budi menganga, menggeleng-geleng. Tangisnya mengucur dengan spontan. “Nggak, Mimi. Kamu itu kuat, kamu bisa menjalani semua ini, Mi,”
Mimi mencoba tersenyum simpul, menyebarkan keindahan. “Mimi ingin yakin, namun rasanya susah, Kak. Mimi hanya sadar, bahwa misi kita itu kekal, sedangkan Mimi tidak,”
“Mi, kamu itu pernah bilang, kamu ingin menjalani misi dengan giat, kamu pernah bilang kamu mau menjadi alien Mars yang baik. Kamu masih ingat, kan? Kamu masih mau seperti itu, kan? Kamu harus bangkit, Mi. Kakak nggak bisa berdiri sendirian,” Tangisnya semakin menyesakkan pita suara. Tercekat dalam segenggam kesedihan. Kesedihan yang sama seperti saat ingin kehilangan ayahnya. Ayahnya, yang merangkai semua cerita ini dengan indah, hingga dirinya dan adiknya percaya, bahwa semua itu benar adanya. Percaya bahwa dirinya adalah makhluk asing yang diturunkan di bumi dengan sejumlah misi, menyelamatkan bumi dari bahaya. Dirinya tahu, itu konyol. Itu fana. Tetapi, dia percaya. Sangat percaya.

...Budi, ayah ingin bilang sekali lagi, rawatlah bumi seperti kamu mencintai hidup. Kamu hanya cukup berpikir, zaman masih membentang luas. Generasi Mars masih menunggu di belakang. Kita, alien-alien kecil hanya cukup menjalani misi dengan sebaik-baiknya. Mars sangat sayang kepada Bumi, Budi. Ketauhilah.

Mimi tersenyum kecil, “Mimi bukan alien, Kak,”

...Nanti, jika ayah lebih dulu kembali ke Mars, meninggalkanmu dan adikmu sendirian, tak usah khawatir. Kamu tinggal menurunkan rahasia hidup ini kepada adikmu dan berkata: sayangilah bumi seperti Mars menyayangi Bumi. Bilang kepadanya, kita adalah alien ajaib, bukan manusia biasa. Jangan mengungkap cerita ini terlalu cepat, Budi. Karena adikmu pasti akan mengetahuinya lebih cepat. Jangan cemas.

“M...Mimi?”
“Mimi itu manusia biasa, Kak. Mimi sama seperti manusia lainnya, berpijak di tanah, lahir di bumi dengan menembus rahim masing-masing,” Mimi mengambil napas panjang, berusaha untuk kuat dalam mengutus kata-kata. “Tetapi tak ada yang salah, Kak. Cerita fiksi itu benar-benar membuat kita kuat, sekaligus berbeda,”

Saat dia beranjak dewasa, dia akan mengetahui segalanya. Dirinya akan menyadari, cerita ini akan membuat kita berbeda. Cerita belaka dari Ayah ini akan menguatkan jalinan kalian. Ini yang akan menopang hidup kalian, percayalah.

Budi menyeka air matanya, terharu melihat drama yang akan segera berakhir ini. Cerita yang akan berwujud dalam butiran debu hingga berbaur dengan luasnya udara. Tak memandang arah.
“Cerita ayah membuat Mimi lebih mensyukuri hidup, Kak. Cerita ayah yang membuat Mimi kuat di balik segala keterbatasan,”
“Tapi, Mi. Mimi jangan tinggalin Kakak lebih dulu. Kita harus menjalankan misi ini sampai selesai. Bumi masih butuh bantuan kita, Mi. Masih banyak orang-orang jahat di bumi ini,” Budi semakin terisak tangis. Dia benar-benar tidak siap menutup semua lembaran cerita ini.

...Sampai pada saatnya, kita memang harus menutup lembaran cerita ini semua. Karena jika kita sudah membuka, kita harus berani untuk menutup, Budi. Tak usah cemas, penutup tak selalu mengerikan. Alien-alien yang diutus Mars masih tetap ada di luar sana. Masih ada orang yang bersifat layaknya penghuni Mars. Tak usah khawatir, Budi.

Budi menangis dengan derasnya. Dia merasakan atmosfer yang sama saat memori-memori mengingatkannya kepada perbincangan empat mata dengan ayahnya, saat kematian sedang mendekat. Namun dirinya tak lagi-lagi siap. Menutup semuanya. Dia belum siap.
Mimi menggerakkan tangannya dengan berat, menatap mata Budi yang sudah penuh dengan air. “Kakak jangan nangis. Mimi yakin, Kakak masih bisa menjalani misi walau tanpa Mimi. Mimi yakin, kok, soalnya Kakak selalu ikhlas menjalani hidup. Walau hanya terus memungut sampah, tetapi Kakak ikhlas. Itu yang buat Mimi yakin,”
“Mimi...” lirih Budi dengan membalas tatapannya. Tatapan lurus dengan menegaskan kata-kata.
“Maafkan Mimi belum sempat memberi kenang-kenangan untuk Kakak, ya. Namun Mimi hanya ingin titipkan kepercayaan kepada Kakak. Mimi serahkan peran Mimi dalam misi ini untuk Kakak,”
Budi tidak bisa lagi berkata-kata. Terbata-bata pun tidak. Hanya tangis yang menjelaskan semuanya.
“Kak, sayangilah bumi seperti Mars menyayangi Bumi. Ubahlah bumi menjadi planet yang indah. Bahagiakanlah seluruh manusia di muka bumi. Karena Kakak, tak pernah sendiri. Mimi dan Ayah, akan memantau Kakak dari teropong di planet Mars,”
Tiba-tiba napas Mimi mulai sesak. Jantungnya bertalu tak beraturan. Tenggorokannya tercekat dengan keras. Sebuah ruh akan direnggut pada saat yang bersamaan. Meninggalkan raga yang sudah menjadi teman lama.
Mata Mimi mendelik, mengucap dengan tergagap-gagap, “...Kak, tolong jaga bumi, ya...”
Tatapan kosong Mimi berubah menjadi mata yang menutup. Kepalanya terbaring lemas dengan senyum yang mencerah. Wajahnya menampakkan senyum bahagia dalam sebuah perpisahan yang manis.
Budi teriak diiringi tangis yang semakin membanjir, menggenggam tangan Mimi dengan erat. Membelai rambut panjang adiknya yang sangat ia puja. Lagi-lagi dia harus kehilangan orang yang ia amat sayangi.
“Ya, Mimi. Kakak selalu ingat. Selalu,” Budi memeluk tubuh adiknya erat dengan air mata yang terus mengalir di tebing pipinya.
Dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Mimi, berharap adiknya masih bisa mendengar sebuah bisikan cinta terakhir darinya.
“Kakak janji, Mimi. Kakak janji. Kakak, akan menjadi agen Mars yang bisa membahagiakan bumi, manusia, dan kamu,”

Budi, waktu memang terus berperan. Perlahan, alien-alien akan kembali ke planet asalnya. Tapi tak usah khawatir, kau jalankan saja misimu dengan sebaik-baiknya. Karena kami, akan selalu menontonmu dalam teropong Mars yang amat jauh, namun dekat di hati.



...Selamat menjadi agen Mars, Budi.

SELESAI

Minggu, 26 Februari 2012

Kolaborasi Mimpi (1)

Sebenarnya post ini adalah naskah sayembara yang tak jadi kukirim. Karena... saya salah membaca kriteria dan syaratnya! :]. Awalnya, naskah ini akan saya kirim untuk 'Andrea Hirata Song Book', namun... ternyata cerita itu harus berdasarkan kisah nyata. Bukanlah fiksi. *melengos*. Jadi, daripada naskah ini mematung di dokumen tanpa ada yang baca, saya post disini. Karena terlalu panjang, saya bagi menjadi beberapa bagian.

Selamat... membaca!

***

Secercah bayangan selalu mengikuti langkah mereka. Bayangan yang tak pernah mengeluh kesah atas keringat yang terus membanjir. Bayangan yang menjadi teman berkelana yang paling setia bagi mereka. Bayangan tak pernah menolak ingin dibawa kemana oleh mereka. Bayangan selalu membuyuti dan pasrah walaupun akan diajak ke tempat yang paling menjijikan.

Bayangan tak pernah menolak jika ditakdirkan harus mengikuti manusia. Sekalipun manusia itu beruntung atau tidak, bayangan tetap harus menjalankan tugasnya.

“Kak, kita akan berhenti kapan?” celoteh adiknya. Ia terus menyeka keringat yang mengguyur tubuhnya basah. Mengangkut karung beras yang berisi sejumlah sampah bukan suatu hal yang mudah bagi seorang bocah kecil.

Kakaknya memandangnya letih. Berjalan dan memunguti sampah yang ada memang sangat melelahkan. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak takdir yang sudah menghantam hidupnya keras. Dia juga tidak boleh menyesali hidup. Dia diutus untuk ke dunia, bukan karena niat sia-sia. Dirinya yakin, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk dirinya agar hidup.

“Sedikit lagi. Sampahnya juga sedikit lagi. Jika kita tak mau ditampar Bang Boni,” cetus kakanya pelan. Matanya menerawang wajah Bang Boni yang marah bila dia dan adiknya tidak bisa mengumpulkan sampah yang lebih banyak. Namun memang Bang Boni harapan hidupnya saat ini. Bila dirinya tidak menemukan Bang Boni, dia yakin dia tidak bisa terus melangkah sampai sekarang.

Adiknya mengernyitkan bibir mungilnya. Menghela napas berat dan menaikkan karung ke pundaknya lebih kuat.

Sementara kakaknya menyunggingkan senyum kepastian. Merangkul adiknya dengan rasa bangga yang membahana. Jika dunia bertanya siapa bocah-bocah yang mengerti arti kehidupan, mereka akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambai-lambai agar lebih jelas.

Karena arti kehidupan tidak terbatas, sementara hidup terbatas. Namun keterbatasan hidup bukanlah dinding penghalang untuk terus mencari. Mencari makna dan tujuan mereka terlahir di dunia.

Bayangan mereka lagi-lagi tersenyum. Terbahak kecil melihat dua siluet yang merangkul satu sama lain. Dan merasa bangga menjadi bayangan jejak bahagia mereka.


***

Manusia lain selalu membuang sisa.

Namun mereka selalu memanfaatkan sisa.

Dibawah matahari yang akan segera menutupi permukaan, mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing.

Damar sedang sibuk dengan botol mineral bekas. Membuat lubang di sana dan menancapkan potongan kardus. Membuat baling-baling dan membuat sayap. Membayangkan sedikit harapan yang akan sangat membekas.

Sementara Dio bercengkrama dengan kardus yang lebih besar. Mengerutkan kening dan memutar otak sejenak. Sketsa-sketsa bangunan bertumbuk menjadi satu di benaknya. Tak jarang ia menampilkan senyum jika menemukan ide yang fantastis untuk dipraktekkan.

Jemari Dio tampak lihai menggunakan pisau bekas. Pisau lipat yang sudah berkarat tanpa menghiraukan bahwa ada bibit tetanus di sana. Dengan tenaganya, dia berhasil memotong kardus itu menjadi beberapa bagian dan merangkainya perlahan.

Sedangkan Damar sibuk memutar baling-baling pesawat mainan barunya. Berandai-andai bahwa terbang ke langit sangatlah indah. Menembus awan-awan dan berada lebih tinggi dari burung-burung. Mengenakan seragam pilot yang gagah. Bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang dititipkan padanya.

Damar bangkit berdiri. Berputar dan berlari membawa pesawat mainannya. Membiarkan baling-baling pesawatnya diterpa angin kencang. “Pesawat Damar Indonesia akan melaju kencang menuju benua Eropa!” teriaknya bahagia. Kakinya melompat gembira. Menyentuh bumi tanpa alas kaki. Mengajak dunia untuk bersorak sorai bersamanya. Mengajak angin yang menghempas untuk menari bersamanya.

Dio memicingkan mata. Siluet adiknya menari-nari di bawah senja. Memancarkan senyum dan radar mimpi yang akan terwujud. Dia membuang peluhnya puas. Dia menepuk tangannya keras dan meneriakkan nama adiknya.

“Damar!”

Tarian itu berhenti. Damar membalikkan badan dan menatap sumber suara yang memanggil namanya. Kakaknya berada di samping sebuah bangunan berbentuk kubus. Bangunan yang menyerupai tempat berteduh. Bangunan yang memiliki sebuah atap. Bangunan tempat berlindung. Rumah! Dia memiliki rumah!

Damar berlari-lari kecil dengan bibir yang merekah layaknya bunga. Menuju dekapan peluk yang telah disiapkan Dio. Memeluk kakaknya erat dengan butir-butir air mata turun tanpa diundang.

“Kita memiliki rumah, Kak?” tanya Damar dengan tangisan yang masih terisak. Baru kali ini ia menangis karena bahagia. Segera ia memasuki rumah barunya tak sabar. Senyumnya tak berhenti mengembang. Dia terkagum-kagum walau rumahnya berisi tanpa perabotan. Dia tidak mengeluh walau rumahnya terbuat dari kardus.

“Walaupun sempit, setidaknya kita tidak perlu tidur di depan ruko Pak Raja, kan?” Dio merangkul adiknya. Senyumnya tak berhenti mengempis. Rumah memang menjadi dambaannya sejak harus hidup berdua dengan adiknya. Sejak mereka ditinggal maut oleh kedua orangtuanya.

“Dan kita tidak akan diomeli Pak Raja lagi!”

Dio tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Melihat adiknya bahagia itu sudah lebih dari cukup. Mungkin ini jawabannya. Jawaban mengapa ia masih harus melanjutkan hidup. Jawaban mengapa ia tidak ikut bersama orangtuanya ke alam sana. Ya, dia masih memiliki satu malaikat yang harus dilindungi, Damar.

Dio membuang napas panjang. Tak henti ia mengucap syukur. Tuhan selalu menyisakan bahagia bagi makhluknya. Kebahagiaan memang bukan harta. Namun adalah waktu di mana manusia masih memiliki kesempatan untuk bersyukur.

Dan dia hanya bisa berharap agar hujan tak akan datang. Menghancurkan rumahnya yang tidak tahan air.

Bersambung


Jumat, 24 Februari 2012

Seri Hewan: Perkenalan

Saya harus mengucapkan 'halo' lagi? :-)
Ya, entah apa yang saya mimpikan semalam, hari ini saya menemukan buku-buku tulis sejarah penulisan saya. *halah*

Tapi memang benar. Dari dulu saya sudah menulis, namun di buku tulis. Menulis dengan tangan. Bukan seperti ini. Dulu saya belum canggih, EYD juga masih suka-suka. Semua dituang sesuka hati.

Jadi dulu saya niatnya ingin membuat buku karena melihat banyaknya penulis cilik yang datang. Dan lucunya, yang saya tahu mengirim naskah itu lewat buku tulis, bukan lewat print-out. Jadi, terciptalah sebuah karya yang saya buat dengan tulisan tangan.

Dan cerita ini salahsatunya. Saya menemukan buku tulis kumpulan-kumpulan cerita hewan yang saya rangkai sendiri saat masih sekolah dasar. Cerita ini baru sampai bab tujuh. Intinya, cerita ini belum selesai. Karena saya sudah malas melanjutkannya. -_-

Tetapi... saya akan menulis ulang kembali cerita itu lewat blog ini! Sebelumnya, ada beberapa tokoh yang ada dalam buku tulis itu:

1.Tiny (Kura-kura): Bijaksana.
2. Rabb (Kelinci) : Ceroboh.
3. Acorn (Tupai) : Lucu, IQ-nya tinggi. (Tertawalah!)
4. Hams (Hamster) : Ceria.
5. Teddy (Beruang) : Sombong.
6. Doggie (Anjing) : Ngantuk sejati.
7. Duck (Bebek) : Periang.
8. Burd (Burung Hantu) : Insomnia sejati.

Mungkin nama-namanya memang aneh-aneh. Dan tujuh bab yang saya akan ceritakan juga pasti aneh. Kepolosan akan hal-hal yang tak lucu menjadi lucu akan terlihat. Saksikan saja, ya.

Seperti yang saya bilang, saya akan menyebarkannya untuk kalian.

Selamat menikmati cerita-cerita hewan yang... absurd!

Kantin Bu Marni

Ha-lo!
Post ini bukanlah post baru, bukan ide baru, bukan utusan tentara baru dari otak saya. Melainkan sebuah cerita yang sudah lama, hampir terlupakan, namun kini muncul kembali. Diawali dengan ditemukannya buku tulis yang berisi cerita tersebut. Cerita ini saya tulis saat lomba mengarang -saat menduduki sekolah dasar. Dan cerita ini yang membuat saya menang. :-D

Cerita ini sedikit direvisi, agar nyaman dibaca.
Selamat mencicipi!

***
Pada suatu hari, terdapat sebuah sekolah bernama SD Barisan Membentang. Di sekolah itu, terdapat dua kantin. Kantin itu terdiri dari kantin Bu Marni dan kantin Pak Karjo. Dua kantin ini sangatlah berbeda. Bukan dari barang jajakannya, namun dari ramainya kerumunan yang terlihat. Kantin Bu Marni sangatlah ramai pembeli, sedangkan kantin Pak Karjo sangat sepi.

...Dan ini yang membuat Pak Karjo menjadi iri.

Akhirnya Pak Karjo mempunyai niat jahat, ia ingin menghancurkan kantin Bu Marni.

"Lihat saja, kantinmu akan hancur!" dengus Pak Karjo kesal. Matanya membesar lebar. Wajahnya marah tak terkendali.

Sedangkan di Kantin Bu Marni, tampak banyak pembeli disana. Sampai-sampai Bu Marni jadi kewalahan. Tetapi, dia terus tersenyum. Menyingkirkan rasa lelahnya.

"Alhamdulillah, penghasilanku setiap hari semakin banyak," syukurnya.

***
Saat malam hari, Pak Karjo sedang berjalan dengan hati-hati. Sengaja ia memperkecil langkahnya. Dia berjalan mengendap-ngendap karena ingin menghancurkan kantin Bu Marni. Malam itu sangatlah gelap, tidak ada penerangan. Sehingga terkadang mengganggu penglihatan Pak Karjo.

Pak Karjo mulai menghancurkan kantin Bu Marni. Derai gelas yang pecah terdengar keras. Berbagai perabotan jatuh ke lantai dengan tidak semestinya. Semuanya berantakan. Hancur.

Pak Karjo tersenyum puas. Menahan rasa tawa yang berkecamuk. "Rasakan ini, Marni!"

***
Keesokan harinya, Pak Karjo merapihkan bajunya. Berjalan dengan gagah menuju kantin Bu Marni. Ocehan-ocehan buruknya sudah menunggu untuk dilontarkan. Matanya tak sabar untuk melihat tangisan Bu Marni.

Sesampainya disana, Pak Karjo terbelalak.

Kantin Bu Marni tampak seperti biasa, ramai pembeli, rapih, dan lengkap. Tak ada satupun yang hancur. Tak ada yang rusak. Semuanya seperti biasanya.

Pak Karjo menelan ludah. Firasat buruk menghantamnya kencang.

Dia berbalik badan dan menatap kantinnya. Kantinnya berantakan. Hancur. Rusak. Benda-benda bertebaran di lantai. Barang jualannya dikelilingi lalat karena jatuh ke aspal.

Dia gemertak kesal. Mengerti akan siasat buruknya yang mengenai dirinya sendiri. Ternyata kemarin malam dia menghancurkan kantinnya sendiri, bukan kantin Bu Marni. Dia kesal mengapa langit begitu gelap. Dia benci mengapa langit begitu akrab dengan Bu Marni.

Segera dia menyimpulkan,

Senjata makan tuan!

Selesai