Senin, 19 November 2012
Jawaban Mama
Sabtu, 04 Agustus 2012
Agen Mars (2)
Kembali lagi! :D Merasa mempunyai hutang dan ditagih keras oleh waktu, saya akhirnya angkat tangan. Memungut satu kata demi kata, menyerahkannya pada tangan yang terus menengadah. Tangan apa? Tangan panjang berwarna putih polos. Kertas.
Minggu, 26 Februari 2012
Kolaborasi Mimpi (1)
Selamat... membaca!
***
Secercah bayangan selalu mengikuti langkah mereka. Bayangan yang tak pernah mengeluh kesah atas keringat yang terus membanjir. Bayangan yang menjadi teman berkelana yang paling setia bagi mereka. Bayangan tak pernah menolak ingin dibawa kemana oleh mereka. Bayangan selalu membuyuti dan pasrah walaupun akan diajak ke tempat yang paling menjijikan.
Bayangan tak pernah menolak jika ditakdirkan harus mengikuti manusia. Sekalipun manusia itu beruntung atau tidak, bayangan tetap harus menjalankan tugasnya.
“Kak, kita akan berhenti kapan?” celoteh adiknya. Ia terus menyeka keringat yang mengguyur tubuhnya basah. Mengangkut karung beras yang berisi sejumlah sampah bukan suatu hal yang mudah bagi seorang bocah kecil.
Kakaknya memandangnya letih. Berjalan dan memunguti sampah yang ada memang sangat melelahkan. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak takdir yang sudah menghantam hidupnya keras. Dia juga tidak boleh menyesali hidup. Dia diutus untuk ke dunia, bukan karena niat sia-sia. Dirinya yakin, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk dirinya agar hidup.
“Sedikit lagi. Sampahnya juga sedikit lagi. Jika kita tak mau ditampar Bang Boni,” cetus kakanya pelan. Matanya menerawang wajah Bang Boni yang marah bila dia dan adiknya tidak bisa mengumpulkan sampah yang lebih banyak. Namun memang Bang Boni harapan hidupnya saat ini. Bila dirinya tidak menemukan Bang Boni, dia yakin dia tidak bisa terus melangkah sampai sekarang.
Adiknya mengernyitkan bibir mungilnya. Menghela napas berat dan menaikkan karung ke pundaknya lebih kuat.
Sementara kakaknya menyunggingkan senyum kepastian. Merangkul adiknya dengan rasa bangga yang membahana. Jika dunia bertanya siapa bocah-bocah yang mengerti arti kehidupan, mereka akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambai-lambai agar lebih jelas.
Karena arti kehidupan tidak terbatas, sementara hidup terbatas. Namun keterbatasan hidup bukanlah dinding penghalang untuk terus mencari. Mencari makna dan tujuan mereka terlahir di dunia.
Bayangan mereka lagi-lagi tersenyum. Terbahak kecil melihat dua siluet yang merangkul satu sama lain. Dan merasa bangga menjadi bayangan jejak bahagia mereka.
Manusia lain selalu membuang sisa.
Namun mereka selalu memanfaatkan sisa.
Dibawah matahari yang akan segera menutupi permukaan, mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Damar sedang sibuk dengan botol mineral bekas. Membuat lubang di sana dan menancapkan potongan kardus. Membuat baling-baling dan membuat sayap. Membayangkan sedikit harapan yang akan sangat membekas.
Sementara Dio bercengkrama dengan kardus yang lebih besar. Mengerutkan kening dan memutar otak sejenak. Sketsa-sketsa bangunan bertumbuk menjadi satu di benaknya. Tak jarang ia menampilkan senyum jika menemukan ide yang fantastis untuk dipraktekkan.
Jemari Dio tampak lihai menggunakan pisau bekas. Pisau lipat yang sudah berkarat tanpa menghiraukan bahwa ada bibit tetanus di sana. Dengan tenaganya, dia berhasil memotong kardus itu menjadi beberapa bagian dan merangkainya perlahan.
Sedangkan Damar sibuk memutar baling-baling pesawat mainan barunya. Berandai-andai bahwa terbang ke langit sangatlah indah. Menembus awan-awan dan berada lebih tinggi dari burung-burung. Mengenakan seragam pilot yang gagah. Bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang dititipkan padanya.
Damar bangkit berdiri. Berputar dan berlari membawa pesawat mainannya. Membiarkan baling-baling pesawatnya diterpa angin kencang. “Pesawat Damar Indonesia akan melaju kencang menuju benua Eropa!” teriaknya bahagia. Kakinya melompat gembira. Menyentuh bumi tanpa alas kaki. Mengajak dunia untuk bersorak sorai bersamanya. Mengajak angin yang menghempas untuk menari bersamanya.
Dio memicingkan mata. Siluet adiknya menari-nari di bawah senja. Memancarkan senyum dan radar mimpi yang akan terwujud. Dia membuang peluhnya puas. Dia menepuk tangannya keras dan meneriakkan nama adiknya.
“Damar!”
Tarian itu berhenti. Damar membalikkan badan dan menatap sumber suara yang memanggil namanya. Kakaknya berada di samping sebuah bangunan berbentuk kubus. Bangunan yang menyerupai tempat berteduh. Bangunan yang memiliki sebuah atap. Bangunan tempat berlindung. Rumah! Dia memiliki rumah!
Damar berlari-lari kecil dengan bibir yang merekah layaknya bunga. Menuju dekapan peluk yang telah disiapkan Dio. Memeluk kakaknya erat dengan butir-butir air mata turun tanpa diundang.
“Kita memiliki rumah, Kak?” tanya Damar dengan tangisan yang masih terisak. Baru kali ini ia menangis karena bahagia. Segera ia memasuki rumah barunya tak sabar. Senyumnya tak berhenti mengembang. Dia terkagum-kagum walau rumahnya berisi tanpa perabotan. Dia tidak mengeluh walau rumahnya terbuat dari kardus.
“Walaupun sempit, setidaknya kita tidak perlu tidur di depan ruko Pak Raja, kan?” Dio merangkul adiknya. Senyumnya tak berhenti mengempis. Rumah memang menjadi dambaannya sejak harus hidup berdua dengan adiknya. Sejak mereka ditinggal maut oleh kedua orangtuanya.
“Dan kita tidak akan diomeli Pak Raja lagi!”
Dio tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Melihat adiknya bahagia itu sudah lebih dari cukup. Mungkin ini jawabannya. Jawaban mengapa ia masih harus melanjutkan hidup. Jawaban mengapa ia tidak ikut bersama orangtuanya ke alam sana. Ya, dia masih memiliki satu malaikat yang harus dilindungi, Damar.
Dio membuang napas panjang. Tak henti ia mengucap syukur. Tuhan selalu menyisakan bahagia bagi makhluknya. Kebahagiaan memang bukan harta. Namun adalah waktu di mana manusia masih memiliki kesempatan untuk bersyukur.
Dan dia hanya bisa berharap agar hujan tak akan datang. Menghancurkan rumahnya yang tidak tahan air.
Bersambung
Jumat, 24 Februari 2012
Seri Hewan: Perkenalan
Ya, entah apa yang saya mimpikan semalam, hari ini saya menemukan buku-buku tulis sejarah penulisan saya. *halah*
Tapi memang benar. Dari dulu saya sudah menulis, namun di buku tulis. Menulis dengan tangan. Bukan seperti ini. Dulu saya belum canggih, EYD juga masih suka-suka. Semua dituang sesuka hati.
Jadi dulu saya niatnya ingin membuat buku karena melihat banyaknya penulis cilik yang datang. Dan lucunya, yang saya tahu mengirim naskah itu lewat buku tulis, bukan lewat print-out. Jadi, terciptalah sebuah karya yang saya buat dengan tulisan tangan.
Dan cerita ini salahsatunya. Saya menemukan buku tulis kumpulan-kumpulan cerita hewan yang saya rangkai sendiri saat masih sekolah dasar. Cerita ini baru sampai bab tujuh. Intinya, cerita ini belum selesai. Karena saya sudah malas melanjutkannya. -_-
Tetapi... saya akan menulis ulang kembali cerita itu lewat blog ini! Sebelumnya, ada beberapa tokoh yang ada dalam buku tulis itu:
1.Tiny (Kura-kura): Bijaksana.
2. Rabb (Kelinci) : Ceroboh.
3. Acorn (Tupai) : Lucu, IQ-nya tinggi. (Tertawalah!)
4. Hams (Hamster) : Ceria.
5. Teddy (Beruang) : Sombong.
6. Doggie (Anjing) : Ngantuk sejati.
7. Duck (Bebek) : Periang.
8. Burd (Burung Hantu) : Insomnia sejati.
Mungkin nama-namanya memang aneh-aneh. Dan tujuh bab yang saya akan ceritakan juga pasti aneh. Kepolosan akan hal-hal yang tak lucu menjadi lucu akan terlihat. Saksikan saja, ya.
Seperti yang saya bilang, saya akan menyebarkannya untuk kalian.
Selamat menikmati cerita-cerita hewan yang... absurd!
Kantin Bu Marni
Post ini bukanlah post baru, bukan ide baru, bukan utusan tentara baru dari otak saya. Melainkan sebuah cerita yang sudah lama, hampir terlupakan, namun kini muncul kembali. Diawali dengan ditemukannya buku tulis yang berisi cerita tersebut. Cerita ini saya tulis saat lomba mengarang -saat menduduki sekolah dasar. Dan cerita ini yang membuat saya menang. :-D
Cerita ini sedikit direvisi, agar nyaman dibaca.
Selamat mencicipi!
***
Pada suatu hari, terdapat sebuah sekolah bernama SD Barisan Membentang. Di sekolah itu, terdapat dua kantin. Kantin itu terdiri dari kantin Bu Marni dan kantin Pak Karjo. Dua kantin ini sangatlah berbeda. Bukan dari barang jajakannya, namun dari ramainya kerumunan yang terlihat. Kantin Bu Marni sangatlah ramai pembeli, sedangkan kantin Pak Karjo sangat sepi.
...Dan ini yang membuat Pak Karjo menjadi iri.
Akhirnya Pak Karjo mempunyai niat jahat, ia ingin menghancurkan kantin Bu Marni.
"Lihat saja, kantinmu akan hancur!" dengus Pak Karjo kesal. Matanya membesar lebar. Wajahnya marah tak terkendali.
Sedangkan di Kantin Bu Marni, tampak banyak pembeli disana. Sampai-sampai Bu Marni jadi kewalahan. Tetapi, dia terus tersenyum. Menyingkirkan rasa lelahnya.
"Alhamdulillah, penghasilanku setiap hari semakin banyak," syukurnya.
***
Saat malam hari, Pak Karjo sedang berjalan dengan hati-hati. Sengaja ia memperkecil langkahnya. Dia berjalan mengendap-ngendap karena ingin menghancurkan kantin Bu Marni. Malam itu sangatlah gelap, tidak ada penerangan. Sehingga terkadang mengganggu penglihatan Pak Karjo.
Pak Karjo mulai menghancurkan kantin Bu Marni. Derai gelas yang pecah terdengar keras. Berbagai perabotan jatuh ke lantai dengan tidak semestinya. Semuanya berantakan. Hancur.
Pak Karjo tersenyum puas. Menahan rasa tawa yang berkecamuk. "Rasakan ini, Marni!"
***
Keesokan harinya, Pak Karjo merapihkan bajunya. Berjalan dengan gagah menuju kantin Bu Marni. Ocehan-ocehan buruknya sudah menunggu untuk dilontarkan. Matanya tak sabar untuk melihat tangisan Bu Marni.
Sesampainya disana, Pak Karjo terbelalak.
Kantin Bu Marni tampak seperti biasa, ramai pembeli, rapih, dan lengkap. Tak ada satupun yang hancur. Tak ada yang rusak. Semuanya seperti biasanya.
Pak Karjo menelan ludah. Firasat buruk menghantamnya kencang.
Dia berbalik badan dan menatap kantinnya. Kantinnya berantakan. Hancur. Rusak. Benda-benda bertebaran di lantai. Barang jualannya dikelilingi lalat karena jatuh ke aspal.
Dia gemertak kesal. Mengerti akan siasat buruknya yang mengenai dirinya sendiri. Ternyata kemarin malam dia menghancurkan kantinnya sendiri, bukan kantin Bu Marni. Dia kesal mengapa langit begitu gelap. Dia benci mengapa langit begitu akrab dengan Bu Marni.
Segera dia menyimpulkan,
Senjata makan tuan!
Selesai
