Halaman

Minggu, 29 Juni 2014

Ciuman


SEBELUM bertemu denganmu, aku tak pernah menganggap penting arti esensial dari sebuah ciuman.

Arti harafiah ciuman bagiku tidak lebih dari ketika bibirku datang lalu melandasi permukaan bibir seseorang. Ya, hanya itu. Masalah perasaan, aku selalu angkat tangan. Embel-embel itu tak pernah kukenali saat satu kecupan hadir. Aku hanya mendaratkan sebuah kecupan, bergerak lihai, mempertahankannya untuk sekian detik, lalu melepaskan diri tanpa menyisakan perasaan apa-apa.

Dan mungkin, hal itulah yang menjadikan berpuluh-puluh pengalaman berciumanku kalah telak dengan ciuman pertamaku denganmu.

Aku ingat. Saat itu siang sedang terik, dan seluruh saudara perempuanmu sedang bermain di luar. Ibumu sedang menjemur baju di halaman belakang. Sedangkan ayahmu, sedang bekerja di luar kota.

Sepi. Saat itu kamu sedang sendiri. Tapi siapa sangka, siang itu kamu bertemu denganku untuk kali pertama, lalu mengajakku ke sudut kamarmu yang terasa senyap. Cepat, kamu mendekatkan bibirmu ke arahku, hingga menempel tanpa memperhitungkan semacam strategi.

Dingin, bibirmu kucecap seperti peppermint.

Kamu menciumku dengan ragu-ragu. Matamu menyiratkan rasa canggung yang membuatku gemas. Satu-dua detik, kamu menjauhi diri, lalu detik setelahnya kamu menciumku kembali. Jujur, apa yang kurasakan saat itu sungguh luar biasa. Aku tak pernah menyangka bahwa kamu memiliki gaya ciuman yang asyik. Ciumanmu membuatku nyaman. Waktu serasa berhenti, dan aku dibuat tidak peduli.

Hingga akhirnya ciuman itu berhenti. Kamu mengakhiri ciuman kita, hingga akhirnya, 

Aku melihat satu senyum manis terbit di bibirmu.

Kapan terakhir kali aku melihat satu senyum yang ikhlas, yang membuat aku jatuh terpana? Ya, aku memang bertanya begitu, tetapi... mengapa jawaban yang kudapatkan adalah tidak pernah?

Ciumanmu menyisakan sejentik rasa adiktif. Baru kali ini, lewat sebuah ciuman yang amat singkat, aku membawa pulang satu rasa asing yang tidak pernah kuketahui keberadaannya.

Cinta.

Ya, cinta.

***

SEJAK saat itu, frekuensi berciumanku denganmu sudah bisa digolongkan menjadi sebuah rutinitas.

Di saat sepi memerangkap, kamu selalu menawarkanku waktu untuk sekadar mencicipi sejuknya bibirmu. Aku dibuat tak kuasa. Kulihat gaya ciummu pun berkembang, hingga matamu memendarkan rasa yang juga kurasakan.

Tapi, ada satu momen yang tidak kumengerti sampai sekarang. Momen yang hadir tanpa sebab, yang meninggalkan aku dalam palung penuh tanda tanya.

Saat itu, kamu menciumku seperti biasa. Keahlianmu yang sudah kuakui pun berjalan lancar selayaknya ciuman-ciuman kita yang kemarin. Saat itu kamu pun juga bersolek cantik. Pipimu merah merona seperti tomat. Alismu tegas menggoda. Dan bulu matamu... Andai saja hal itu bisa kupetik untuk kubawa pulang.

Detik itu, aku dibuat terperangah. Ciumanmu makin persis seperti candu.

Namun, apa yang kudapatkan saat ciuman itu mereda, dan kamu melepaskan diri dari diriku?

Perlahan, bulir air mata turun, membasahi lereng pipimu.

Saat itu aku sungguh heran. Ingin sekali aku menghapus air mata yang mengacaukan wajah cantikmu. Tapi, aku bisa apa? Aku tidak bisa apa-apa, karena aku hanya sanggup menciummu.

Kamu pun meninggalkanku, dan beranjak mendekat ke arah cermin di pojok kamar. Di sana, kamu menangis lebih deras. Kamu menatap wajahmu, lalu kamu menangis lebih kencang. Sedihmu pun membawamu untuk mengacak-acak perabotan di sekitar.

Semua terbanting keras. Menghasilkan berbagai bunyi yang memekakkan.

Pintu kamarmu pun tergedor beberapa kali. Membuat suasana hatiku makin gelisah, seiring dengan rasa takutku bahwa ciumanku tadi menyisakan rasa luka yang seharusnya tak kamu dapatkan.

Suara ibumu terdengar dari luar sana. Dan dari nadanya, hal itu semakin membuatku terperosok jauh.

"Nak, buka, nak! Jelaskan sama Ibu ada apa!"

Kamu tak menjawab. Kamu hanya terus menangis.

***

CIUMAN kali itu menjadi satu ciuman yang kusesali untuk terjadi.

Malam itu, kamu berias dengan sempurna. Kamu memakai gaun panjang milik kakak sulungmu, dilengkapi dengan bando cantik milik kakak keduamu yang tersampir di kepala. Kamu mematut diri dengan girang di depan cermin. Berputar-putar, membuat gaunmu mengembang anggun.

Aku lagi-lagi dibuat terpukau. Kamu selalu menyisihkan ciuman kita di bagian terakhir untuk membuatmu makin terjerat bahagia.

Tetapi, kali itu ada satu yang terlupakan. Satu hal yang kusadari namun bodohnya hal itu tidak kubicarakan.

Kamu segera meraih tubuhku, dan mendaratkan satu kecupan penuh pada diriku. Kamu mahir bergerak, merebut sejuta rasa yang telah kupendam lama. Aku seperti ingin meledak. Baru kali itu, ciuman kita berlangsung lama. Sungguh, saat itu kamu membuatku bertanya-tanya. Tapi apa daya, kamu tetap menciumku, mempersilakan aku untuk mendengar deru napasmu, yang lamat-lamat menjelma menjadi satu bisikan gaib yang merayap menghampiri kita, seolah mengucapkan...

...inikah sebuah ciuman perpisahan?

Tepat setelah kalimat itu muncul, pintu kamarmu terbuka. Memperlihatkan ibumu yang berdiri kaku, menatap aksi kita berdua yang berlangsung syahdu.

Saat itu ciuman kita berhenti. Kamu memutar punggung, mendapati tatapan ibumu yang tajam, menghunus dirimu seolah mencabik-cabik.

"Mama?" Ucapmu, seperti kehabisan bahasa.

Ah, itu yang ingin kukatakan padamu tadi. Kamu lupa mengunci pintu.

Kamu terus merengkuhku dalam genggaman tanganmu. Ibumu melangkah maju, derap langkahnya pelan namun terasa menghentak. Kamu menatap matanya yang tak berhenti membundar tak percaya.

"Kamu ngapain?" Tanya ibumu, dengan nada parau.

Kamu menggeleng, lalu mulai menangis.

"KAMU NGAPAIN?!"

Seketika, kamu menutupi bibirmu. Genggaman tanganmu makin erat. Aku makin takut. Seandainya tubuhku lebih besar, aku siap menjadi perisaimu saat ini.

"Maksud kamu apa, hah?"

PLAK!

Sebuah tamparan menghampiri pipimu. 

Aku terdiam. Sudah kutebak bahwa kalimat selanjutnya pasti siap membunuhku.

"Kodratmu itu laki-laki, Adam! Garis takdirmu itu menjadi laki-laki!" Ibumu menarik tubuhmu, dilanjuti dengan aksinya yang menyobek gaun indahmu menjadi beberapa bagian.

Kamu menjerit, namun ibumu tak kalah berteriak.

"Kodratmu laki-laki, Nak, laki-laki,..."

Setelah gaun itu terburai, ibumu berhasil menemukan aku di genggaman tanganmu. Dan ia terkejut bukan main.

Seketika, ia menyambar wajahmu dalam cengkraman lalu menekan bibirmu keras, hingga..

Dia menghapuskan bekas-bekas ciuman kita yang masih ada. Menghapus warna merah di bibirmu yang sejak dulu aku puja. Aku menjadi ingat senyum manismu pada kali pertama dengan bibir merah itu.

Sejurus kemudian, ibumu menatap aku dalam pandangannya. Dia meremas diriku, sebelum ia mengakhiri hidupku yang penuh cinta sejak bertemu denganmu.

"Benda keparat!"

Dan, ya, ibumu melemparku ke arah celah jendela yang terbuka. Tangismu memenjarakan kata perpisahan yang kucoba bisikkan.

Tubuhku melayang, tangismu semacam soundtrack yang mengiringi kepergianku. Jeritmu meruap, membuat kenangan ciuman kita kembali meluap.

Namun lagi-lagi, aku bisa apa? 

Sungguh, aku hanya sanggup menciummu. Setidaknya itu yang kuinginkan terjadi saat ini. Sebelum aku berujung tiada, ditelan arti penting sebuah ciuman.


***

995 kata, diikutsertakan dalam #NarasiSemesta @KampusFiksi




Minggu, 22 Juni 2014

Telepon dari Ine




SUMPAH, suami mana yang tidak senang jika diberi sapaan 'selamat pagi' dari sang istri saat sedang sibuk kerja di luar kota?

"Kriiing..."

Pasti rasanya berbeda, karena di tengah keletihan kita mencari uang, masih ada orang yang memberi perhatian penuh kepada kita.

"Kriiing..."

Tapi, apa jadinya jika telepon itu hadir saat jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi?

"Kriiing..."

Aku menggeram di bawah bantal. Ingin kusumpal kedua telingaku dengan ujung selimut, tetapi wajah Ine yang sedang menunggu jawaban terpahat jelas di benakku.

Malas, aku meraba-raba rak di samping ranjang. Butuh waktu singkat bagiku untuk menyambar ponselku dan menatap nama istriku dengan fotonya sebagai kelengkapan panggilan.

Mataku masih terpejam. Tapi aku berdoa semoga suaraku tidak berkata yang bukan-bukan.

Tak perlu berlama-lama, aku mengangkat telepon itu.

"Halo, Ne?"

"Pagi, Doni, Kebo." Suara itu masih hangat walaupun matahari belum juga muncul.

"Selamat pagi juga, Peternak Kebo Ine," jawabku asal. Bagus juga kedengarannya.

"Ih, kamu, nih! Nggak ada sebutan yang lebih bagus lagi buat aku, apa?"

Aku tersenyum. Entah karena bermimpi atau mendengar suaranya. "Ya sudah, ada apa, Ne? Kamu nggak bisa nelfon lebih pagian lagi, ya? Ayam aja belum bangun, lho."

Semoga dia tidak berpikiran bahwa aku pantas menjadi peternak ayam.

"Kok kamu nanyanya gitu, sih, Don? Aku nelfon pagi-pagi begini, kan, karena aku mau bertanya sesuatu."

Aku mendecak gemas. Kutarik selimutku lebih rapat. Yang benar saja, masa pagi-pagi begini aku sudah dijejali satu pertanyaan?

"Pertanyaan apa?"

Senyumnya terbayang lewat napasnya. "Aku mau bertanya.. Soal.. Kamu ingat, nggak, hari ini hari apa?"

Aku terkikik. Antara bahagia karena pertanyaan itu tergolong mudah dan sedikit tidak rela karena waktu tidurku diinterupsi dengan pertanyaan paling penting hari ini.

Aku sisipi tawa dalam jawabanku. "Selasa, lah, Ne. Ada-ada aja kamu."

Hening sesaat, cicitan burung mengisi kekosongan.

"Bukan, Don," sergahnya, "Kamu masa nggak ingat hari ini ada momen spesial apa?"

Aku mengambil napas, membalik badan menatap langit-langit kamar. "Wajib ya buat aku beri jawabannya sekarang?"

"Ya wajib, dong. Ini kan pertanyaan yang mudah."

Suaranya sudah mulai resah. Tapi kantukku juga makin menggelisah.

"Ne," panggilku halus. "Semalam aku kerja sampai jam dua belas malam. Kamu tahu sendiri kan bos yang satu itu keras kepalanya gimana?

"Ditambah lagi, kamu tahu juga, kan, Spanyol main semalam. Mereka kan tim favoritku. Ya aku jadinya nonton dan aku baru sempat tidur satu jam yang lalu. Jadi, maaf kalau aku nggak bisa.."

"Semalam aku juga nonton Spanyol kok, Don," potongnya cepat dengan nada menaik. "Lengkap dengan aku yang memakai jerseynya, bertuliskan nama pemain favorit kamu."

"Nah, ya sudah, berarti kamu kurang tidur juga, Ine.."

"Tapi, aku masih ingat kalau hari ini itu hari apa. Aku juga ngantuk, Don. Tapi seenggaknya aku masih ingat."

"Bukan begitu, Ne. Maksud aku.."

"Kamu itu sebenarnya keterlaluan, Don. Dari kita pacaran, sebenarnya kamu tuh nggak pernah ingat sama hal-hal yang spesial di antara kita. Aku kira kebiasaan itu akan hilang setelah kita menikah, tapi nyatanya?"

Aku bangkit dari posisi tidurku, beranjak duduk dengan mata yang masih meruyup.

"Ya sekarang mau gimana? Kamu bisa telfon aku satu jam lagi. Aku benar-benar mengantuk."

Aku tahu, di ujung sana Ine sedang merutuk-rutuk kesal. Tapi rasa kesalku karena jam tidurku yang mendadak kacau juga tak berhenti menyulut.

"Nggak, nggak perlu," ucapnya, "aku cuman mau bilang, selamat deh atas satu skor kemenangan Spanyol atas Belanda. Selamat bersenang-senang, Doni."

Telepon itu terputus.

Aku menggeleng-gelengkan kepala heran. Cepat, aku meletakkan ponselku di atas rak dan kembali menarik selimut.

Urusanku dengan kantuk memang belum usai. Letih masih mau memijit-mijit keningku hingga pulas. Tetapi sayangnya, celotehan Ine-lah yang masih belum minggat dari telingaku.

Entah mengapa, kalimat 'satu skor kemenangan Spanyol atas Belanda' terus mendengung. Merangkai irama. Membuat batas tidurku menipis, dan aku dibuat tersembul ke permukaan.

Spanyol menang atas Belanda?

Spanyol memang mencetak satu skor tetapi...

Spanyol menang atas Belanda?

Keningku berkeringat.

Lalu... Skor 5-1 yang kutonton tadi malam itu apa?

Pertandingan menyedihkan yang kusaksikan semalam itu benar-benar menyedihkan atau bagaimana?

Bukankah skor 1-0 Spanyol dengan Belanda terjadi... Empat tahun yang lalu?

... pada Final Piala Dunia 2010?

Sekejap, kedua mataku terbuka. Kudapati aku dengan selimut yang membungkus tubuhku dan bajuku yang basah karena keringat. Aneh. Bali seharusnya tidak sepanas ini.

Menyadari apa yang baru saja terjadi, aku segera bangkit dan melempar selimut ke sofa. Kunyalakan teve, lalu mencari-cari berita olahraga.

Dan hasilnya, aku sukses dibuat terbelalak tak percaya.

"Belanda Berhasil Menggilas Spanyol 5-1"

Aku dibuat menganga, diikuti dengan aksiku yang menyambar ponsel di atas rak di samping ranjang.

Kunyalakan ponselku dan di sana kutemukan jawabannya.

04:27 AM
Saturday, June 14

Aku tersenyum pada tanggal manis yang tertera di sana. Kuteriakkan rasa syukur pada mimpi yang sekelebat lewat. Tidak akan kubiarkan kejadian tahun itu kembali terulang tahun ini.

Karena aku berani bersumpah, istri mana yang tidak senang jika sang suami ingat dengan tanggal hari jadi pernikahan mereka?

Aku segera menekan kontak Ine, menunggu dengan girang saat nada panggilan muncul, dan senyumku merekah lebih lebar saat sebuah 'halo' kecil muncul di sana.

"Ne."

"Ya?"

"Ehm, selamat hari jadi lima tahun pernikahan kita, ya. Semoga kamu selalu betah sama aku. Maaf kalau baru tahun ini aku ingat sama tanggal 14 Juni ini," aku menggaruk-garuk kepala. "Duh, maaf. Bagus, nggak, sih, bahasa yang kupakai?"

Tak lama, kudengar ia tertawa. "Kamu sukses membuat aku tertawa sampai menangis di pagi-pagi begini, Don," dia mengambil jeda, "Kesambet apa kamu sampai ingat hari jadi pernikahan kita? Baru pertama kali lho, ini."

Aku tersenyum lega. Ah, jadi begini rasanya? Jadi begini rasanya memberi banyak cinta lewat sapaan di pagi hari?

"Kesambet apa?" Aku membeo ucapannya. "Kukira itu semua terjadi karena satu skor kekalahan Spanyol atas Belanda tadi malam, Ne."

Dia tertawa kembali, membuat aku dengan pagiku menjadi sangat berbahagia.



***

932 kata, tulisan ini diikutsertakan dalam #fiksibanguntidur @KampusFiksi

Sabtu, 31 Mei 2014

Sebuah Kado di Hari Ulang Tahun


"Oke! Latihan hari ini cukup!"

Suara itu lantang terdengar. Fathan menepukkan tangannya di udara, diikuti riuh teriakan seluruh anggota teater. Studio mendadak ramai. Semua anggota teater pun bersalaman satu sama lain lalu menepi ke arah kursi penonton.

Tak terkecuali perempuan satu itu.

Sesosok perempuan dengan kerudung biru langit pun menghampiri tempat duduk Fathan berada. Kabar yang berembus memang mengatakan hubungan mereka sangat dekat, berujung pada label pacaran, tetapi sayangnya nggak ada bukti kuat akan hal itu. Keduanya masih mengatasnamakan alasan sebatas teman teater saja.

"Minum?" Fathan menyodorkan satu botol air mineral.

Perempuan yang bernama Retno itu pun mengangguk. Sigap, Fathan membuka tutup botol itu, lalu memberikannya kepada Retno.

"Aku suka cara kamu peranin tokoh Yasmin di sana," ucap Fathan tiba-tiba. "Anggun. Persis seperti yang kubayangkan. Pantas, ya, dulu aku nggak perlu pikir panjang saat mengaudisi kamu."

Mendengarnya, Retno pun tersenyum. Ia buru-buru mereguk air minumnya untuk menyamarkan hal itu. "Terima kasih, tetapi aku begini juga masih belajar. Sedikit-sedikit."

Fathan mengangguk. Menatap mata Retno sekilas. Satu-dua detik.

Seketika, ia tersadar akan sesuatu. Mata Retno begitu indah.  Biru, bulat, seperti menampakkan kilat sinar. Ia yakin bahwa kecantikan Retno bisa jadi infinit. Bukan hanya fisik, tapi tutur dan tingkahnya ikut melukis keindahan. Tak heran ia sering mendengar kabar bahwa perempuan di depannya berhasil memikat banyak hati lelaki kampus.

Memikirkan itu, Fathan pun mengerutkan kening.

Mengapa perempuan satu ini belum juga memilih kekasih? Apa dia tipe perempuan yang pemilih atau bagaimana? Mendengar celotehan teman-teman kampusnya selama ini, seharusnya perempuan ini sudahlah memiliki kekasih.

Tapi, itu tak jadi masalah. Fathan menganggap hal itu menjadi sebuah anugerah. Berkat Retno jugalah klub teater asuhannya tidak sepi akan peran laki-laki. Sehingga semakin perempuan ini memberi batas, semakin banyak lelaki yang jatuh penasaran dengannya.

"Oh, ya." Retno tiba-tiba berceletuk.

Lamunan Fathan seketika buyar.

"Apa?"

"Bagaimana dengan cerpen kamu? Diterima, nggak?" Tanyanya sambil menunjukkan segaris senyum. "Cerpen yang kamu tunjukkan sama aku waktu itu, lho. Tiara, judulnya."

Sunyi menyisir beberapa detik. Sejurus kemudian, Fathan menunjukkan seringai khasnya.

"Aku belum cerita sama kamu, ya?"

Entah mengapa Retno menjadi tak sabar mendengar kalimat selanjutnya.

"Cerpenku yang berjudul Tiara diterima sama salah satu majalah," ucapnya semangat, "ini suatu pencapaian besar. Baru pertama kali aku mengirim cerpen ke sebuah majalah dan... Wow, nggak disangka, langsung diterima."

Retno tersenyum lagi. Lesung pipinya muncul malu-malu. Usahanya tidak sia-sia. Baguslah. Fathan senang, dirinya pun juga. Retno senang jika momen-momen seperti ini hadir. Oleh karena itu, ia merasa berhutang besar kepada Hanna. Sangat.

"Serius? Selamat, ya. Saat pertama kali aku baca cerpenmu, aku sudah yakin bahwa cerpenmu layak dibaca banyak orang," timpal Retno sekenanya.

"Ya, terima kasih," Fathan mengangguk singkat, lalu berkata, "sepertinya kebahagiaan ini patut dirayakan. Kamu sudah makan siang?"

Fathan, seorang ketua klub teater kampus. Cerdas, tegas, dan tampan. Tapi yang membuat dirinya dan banyak perempuan heran, lelaki ini sempat dikabarkan belum pernah sekalipun berpacaran.

Apakah itu benar? 

Dan, memangnya, apakah itu mungkin?

"B-belum," akhirnya kata itulah yang bisa Retno ucapkan.

"Ya sudah, hari ini aku traktir kamu makan baso depan kampus, ya? Sebagai tanda ucapan terima kasih juga."

Retno terkadang berpikir, apakah Fathan juga pernah bertanya-bertanya suatu hal tentang dirinya? Apakah Fathan pernah bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak lelaki yang jatuh cinta pada Retno, perempuan itu tetap tidak menjatuhkan pilihan?

Apakah pertanyaan itu tidak pernah terlintas sekali saja di benak Fathan?

"Ya sudah, kita jalan sekarang, ya, perutku sudah berisik sejak tadi," Fathan bangkit berdiri, sambil melampirkan sebuah senyum geli.

Retno ikut beranjak, mengikuti punggung Fathan yang perlahan keluar dari studio.

Seiring mereka berjalan, batin Retno belum bisa bungkam.

Apakah semua itu belum terlihat sangat jelas di mata lelaki satu ini?

***

Retno Wulandari: Han, terima kasih banyak, ya. Berkat kamu cerpen pertama Fathan bisa lolos. Dia terlihat senang banget, Han. Aku berhutang banyak sama kamu. Terima kasih, ya. :)

Hanna mengetuk jari-jarinya di meja. Alisnya bertaut. Matanya menghunus layar laptopnya. Cappuccino di sampingnya belum juga tersentuh.

Ia melenguh.

Merasa bingung, ia mengambil print out naskah cerpen yang akan masuk dalam majalah kantornya edisi bulan depan.

Dan, benar, kan. Siapa sih Fathan yang disebut-sebut sahabatnya itu?

Hanna kembali melirik ke layar laptop, lalu mengetikkan sejumlah balasan.

Hanna V: Sama-sama, Sayang. Lagipula cerpen dia benar-benar bagus. Menarik. Semua anggota redaksi juga setuju. Tetap semangatin dia untuk menulis, ya. Jadi, aku ditraktir kapan, nih? XD

Sent.

Hanna mengempaskan tubuhnya di badan kursi. Kejanggalan ini sebenarnya nggak perlu dipusingkan. Asalkan Retno sudah memberi kabar begitu, ya pasti semuanya telah berjalan lancar.

Namun, rasa penasarannyalah yang belum menyurut sejak tadi.

Siapa Fathan? Mengapa Retno menyebut nama penulis cerpen di depannya dengan sebutan Fathan?

Hanna mengurut keningnya yang pusing. Ia akhirnya menyambar cappuccinonya lalu mereguknya pelan. Ia mengecek handphone. Tuh, kan. Lagi-lagi kekasihnya telat. Sudah dua puluh menit ia menunggu di sini dan batang hidung kekasihnya belum juga nampak.

Sebenarnya ia sedang berada di kafe milik kekasihnya, Barry. Setiap makan siang atau ingin bertemu, mereka berdua selalu sepakat untuk bertemu di sini. Karena, kafe itu terletak tidak jauh dengan kantor Hanna berada. Itu pertanda yang bagus. Jadi tak perlu sering-sering bagi mereka untuk saling menyatakan kalimat 'aku rindu'.

Ya, Hanna memang tidak suka hal-hal yang berbau romantis. Satu-satunya hal romantis yang ia suka hanyalah puisi-puisi Batara Surya, dan...

Cerpen di depannya.

"Hai, Han. Udah nunggu lama, ya?"

Suara berat itu muncul tiba-tiba. Hanna terdiam. Satu jenis suara yang sudah ia hapal. Ia pun mendongak, mencoba memastikan bahwa tebakannya tidaklah salah.

"Barry?"

Sesosok pria berpostur tubuh tinggi berdiri di hadapannya. Dan seperti biasa, dengan rambut kekasihnya yang dibiarkan acak-acakan, Hanna sukses dibuat tersenyum lebar. Boleh juga penampilan kekasihnya saat ini. Kaus polo putih polos, jeans warna gelap, dan jam tangan kulit berwana hitam.

"Sedang sibuk banget, ya, Pak Manajer? Sampai telat dari waktu ketemuan sama pacarnya," celetuk Hanna jahil.

Barry menarik kursi, lalu duduk dengan segera. "Maaf, Han. Tapi beneran, aku sibuk banget hari ini."

Hanna mengiyakan saja ucapan kekasihnya satu itu. Iya kembali (sok) sibuk menilik layar laptopnya.

"Kelihatannya kamu juga lagi sibuk, ya, Han?"

Yes, batin Hanna. Salah satu hal yang ia suka dari Barry ialah ia tanggap dalam menangkap apa maksud Hanna.

"Hm, iya, Bar. Ngurusin cerpen buat majalah bulan depan," jawabnya dengan mata yang masih tertuju ke layar.

"Batara Surya lagi?"

Hanna tersenyum. Satu hal lagi yang ia sukai dari Barry ialah lelaki satu itu mengenali pekerjaannya dengan baik. Buktinya, salah satu penulis puisi yang sering masuk ke majalah kantornya saja dia tahu namanya.

"Kan aku bilang cerpen, Bar." Hanna menatap mata kekasihnya. "Yang kamu sebut itu kan yang sering ngirim puisi."

Barry tergelak singkat. "Jadi, siapa lagi penulis yang bisa buat kamu terpikat akan bahasanya?"

Bibir Hanna sudah siap menceritakan segalanya, tapi semua kata itu mendadak tertahan di sana. Ia seketika teringat akan nama penulis cerpen yang Retno katakan tadi.

"Emm..." Hanna mengambil naskah cerpen di sampingnya. "Bar, aku mau nanya sesuatu."

Barry mendelik ke arahnya. "Apa?"

"Kamu kenal nggak, sama seseorang yang bernama..." Hanna menatap mata kekasihnya. "...Fathan?"

Ada sejentik rasa kaget yang menyentil pendengaran Barry. Membuat ia terkesiap, membeku beberapa saat. Napasnya mendadak tak keruan.

Nama itu.

Nama yang ia pikir ia sudah lupa.

Fathan.

Mengapa nama itu muncul kembali?

"Memangnya kenapa, Han?" Ia mencoba relaks.

"Nggak.." Hanna menatap naskah itu. "Temanku bilang penulis cerpen ini bernama Fathan, tapi nama penulis yang tertulis di cerpen ini justru nama kamu."

Barry menelan ludah.

"Benar-benar nama kamu."

Hanna menyerahkan naskah cerpen itu ke dada Barry, membuat Barry tak siap untuk melihatnya.

Mata Barry mengerjap-ngerjap. Ia benar-benar tidak salah lihat.

CERITA PENDEK
TIARA
Karya Barry Yoswara

Semua kepingan memori mendadak berhamburan di kepala Barry. Setiap detik momen miliknya bersama orang itu seketika meresap, menggedor-gedor isi otaknya.

Semuanya. Bagaimana mereka bertemu. Bagaimana mereka saling membuat tawa. Bagaimana mereka saling menyatakan cinta. Bagaimana ciuman pertama itu hadir. Bagaimana hubungan mereka pupus berakhir. Semua hal yang tak ingin ia ingat mendadak berserakan. Dan Barry terpaksa memungutnya satu persatu.

"Bar? Kamu kenal sama Fathan-Fathan itu?"

Barry terdiam. Ia mendongak, lalu perlahan menggelengkan kepalanya.

"Ng-nggak. Aku nggak tahu. Tapi, kenapa dia memakai nama lengkapku, ya?"

Barry menatap naskah cerpen di depannya. Orang itu benar-benar sudah gila. (Otaknya yang gila atau rasa rindu yang sudah menggila?) Barry benar-benar tak mengerti. Ia hanya ingin mencoba lupa.

"Han."

"Ya?"

"Print out naskah ini kubawa pulang, ya?"

Hanna mendelik tajam. "Kenapa?"

Barry tertawa. Pahit. "Aku cuman pengin baca aja. Nama penulisnya saja sama namanya denganku, kan?"

Hanna menatap heran, lalu mengangguk pelan. "Boleh. Aku masih ada print out yang lain."

"Terima kasih, ya."

Barry melemaskan posisi duduknya. Mengatur napasnya yang sejak tadi tak beraturan. Ia menatap naskah di depannya, seraya mencoba memberesi isi kepalanya yang mendadak kacau.

Fathan, rindu memang menjadi setan kecil di antara kita. Saling meninggalkan memang tinggallah satu-satunya jalan. Jalan sempit yang bahkan tak muat kita tempuh. Asal kamu tahu, hidupku juga begitu. Mengingat lupa entah mengapa menjadi siksaan terberat  yang pernah ada bagiku.

Apakah kamu juga begitu?

***

"Selamat ulang tahun, Tiara."

Tiara memejamkan mata. Ah, suara Kak Fathan. Sudah lama nggak bertemu, mendengar suaranya saja sudah terasa cukup saat ini. Tiara terus memejam, seolah mengilhami bahwa suara Fathan tak beda jauh dengan lirik lagu rock kesukaannya.

"Terima kasih, ya, Kak," Tiara menjawab malu-malu. "Terutama... atas kadonya."

Ada jeda di ujung sana, sampai akhirnya Fathan kembali bersuara. "Ah, iya. Kamu sudah melihat kadonya?"

Walau tak ada yang lihat, Tiara mengangguk sendiri. Ia memegang erat majalah yang berisi cerpen buatan Fathan untuknya. "Sudah, Kak. Pulang sekolah tadi aku langsung ke kios majalah dan beli di sana. Hujan-hujanan lagi."

Mereka berdua tertawa.

"Pulangnya aku langsung membacanya. Aku suka ceritanya. Seperti membaca diri sendiri," terangnya menggebu-gebu. "Dan ada rasa bangga juga sih melihat namaku tercetak besar-besar sebagai judul cerpen Kakak." Tiara memandang judul cerpen itu sekali lagi. Tiara. Namanya. Dengan huruf cetak besar.

"Hahaha, bisa aja kamu. Baguslah kalau kamu suka. Aku buatnya semalaman soalnya," jelas Fathan.

"Wah, iya?" Tiara memasang wajah terkejut. "Cerpen Kakak ini benar-benar luar biasa aku bilang. Karakter, setting, plot cerita, semuanya tertata dengan rapi. Sepertinya ini menjadi kado terindah yang pernah aku terima, deh."

Ya, sekarang kalian bayangkan saja. Seseorang yang kalian sukai menulis sebuah cerpen tentang kalian, lalu cerpen itu berhasil menerobos redaksi majalah, dan akhirnya cerpen itu hadir di depan mata sebagai kado ulang tahun kalian yang ketujuh belas. Setidaknya itulah yang dirasakan Tiara. Kepalanya serasa ingin meledak. Ia tahu ia tidak biasa begini. Ia tahu bagaimana ia sering bersikap jutek terhadap lelaki. Tapi kali ini? Memang benar-benar hanya seorang Fathan yang mampu membuat garis hidupnya terasa berbeda.

"Ha-ha, terima kasih, Tiara. Kukira cerpen itu akan mengecewakan karena aku nggak biasa menulis cerpen," jelasnya sambil terkekeh, "Ya sudah, aku mau ngurusin naskah teater dulu, ya. Sudah malam juga. Besok kamu sekolah, kan?"

Tiara lagi-lagi mengangguk. "He-em."

"Ya sudah, selamat malam, Tiara."

"Selamat malam, Kak."

Klik.

Tiara melempar handphonenya ke kasur. Tapi tidak dengan majalah di tangannya. Sejak sore ia tidak berhenti membaca cerpen buatan Fathan.

Kak Fathan bilang ini untukku, batinnya berkali-kali.

Ia terus membaca, membolak-balik halaman cerpen itu berkali-kali.

Ya, ini kado darinya untukku. Cerita ini untukku, batinnya lagi.

Tapi, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Perasaan jatuh cinta dalam cerita ini terasa aneh. Rasa yang tidak pernah ia kenal. Ia lama-lama makin merasa... Tulisan ini bukanlah ditujukan untuknya.

Tiara menghela napas. Membaca kalimat pertama cerpen di hadapannya.

MERAGUKAN cinta sudah menjadi makanan sehari-hariku sejak bertemu kamu. Tapi anehnya, rasa ragu ini yang membuatku cinta. Meragukan rasa ini untukmu membuat aku mengingatmu setiap waktu.

Tiara membenarkan posisi duduknya. Lagi-lagi terasa ganjil. Sekelebat ada makna tersembunyi yang tak sengaja tercerabut dari akarnya.

Tiara memperhatikan judul cerpen itu lagi.

Tiara.

Namanya.

Ia memperhatikan nama penulis di bawahnya.

Barry Yoswara.

Bukan namanya, bukan juga nama Fathan.

Tiara mengerutkan alis. Ia terus menatap kedua nama itu, sampai sebuah pemikiran menghadang benaknya.

Ia menatap nama Barry Yoswara yang tercetak di sana. Seketika, dadanya terasa sesak. Air mata menggenang di pelupuk. Sesuatu telah menamparnya. Membuat ia sadar, bahwa nama itulah yang seharusnya dicetak lebih besar dibandingkan namanya.

Nama itu lebih cocok menjadi judul cerpen itu dibandingkan namanya.

Tiara menutup majalah di depannya. Matanya terbelalak. Ia tahu, tapi ia tak mau memahaminya. Kado ini bukan untuknya. Tulisan ini ditujukan bukan untuk dirinya. Kado ini memiliki pemilik lain. Pemilik yang lebih pantas menerima ini semua. Lewat cerpen ini, Fathan berbicara pada seseorang. Dan itu bukan dirinya. Ia berbicara... Kepada pemilik kado ini.

Tiara memeluk lutut. Ia bukanlah pemilik kado itu. Seharusnya ia menangis, tapi air matanya tidak jatuh juga.

Tiara meringis. Hujan kembali menggeledah malam. Dingin. Membuat tangisnya beku tak mau jatuh.

Pemilik kado ini pastilah sedang menangis haru di luar sana, karena ia telah dicintai dengan takdir yang tidak sebagaimanamestinya.

Berbanggalah ia, Barry Yoswara.

***

(Hujan menggeledah malam, dan Barry masih sibuk menangis sendiri)




Catatan:
Diikutsertakan dalam #KuisUltah @bellazoditama & @Kopilovie. Sebuah pengalaman hebat menggabungkan tokoh Fathan, Hanna, Retno, Tiara, dan Barry dalam sebuah cerita.
Selamat ulang tahun! :)